Akhir-akhir ini saya gampang terharu. Saya sering merasa mellow. Mungkin perasaan sendu ini ada hubungannya dengan hari-hari terakhir saya di kantor ini. Tanggal 31 ini adalah hari terakhir saya bekerja. Mau-tidak mau, saat perpisahan sudah dekat, kenangan akan terbayang dengan sendirinya. Tiga setengah tahun saya disini.
Dan sampai tanggal ini, saya yakin banyak yang masih menyangsikan keputusan saya untuk keluar. Saya akan berikan jawaban yang sesuai dengan versi yang ingin mereka dengar: “Ya, saya berhenti karena sudah tidak nyaman lagi bekerja disini.”
Faktor ketidaknyaman yang saya maksud disini, adalah faktor saya tidak merasa bisa berkembang disini, seperti yang sudah saya tulis sebelumnya. Saya sudah berhenti jatuh. Saya jenuh. Saya kehilangan motivasi.
Ada yang menganggap, saya keluar karena tidak cocok dengan atasan saya. Hmm.. Untuk alasan yang satu ini, saya akui memang terlihat sebagai alasan yang kuat dan lemah sekaligus. Tapi apa benar, ketidakcocokan ini menjadi faktor utama saya berhenti ? Salah ! Ini hanya salah satu dari sekian alasan-alasan minor pendukung keputusan saya.
Saya memang tidak cocok dengan senior manager saya. Dan saya pun tidak mengerti, apakah ketidakcocokan ini berjalan dua arah atau hanya saya yang merasakan ketidakcocokan ini. Saya sudah berhenti peduli.
Saya bergerak dari tahap “mengeluh” ke tahap “pencarian solusi”. Saya sadar, dibandingkan dengan dia yang mempunyai jabatan sedemkian tinggi, saya bukan apa-apa. Dan dengan saya berhenti, saya tidak menganggap saya kalah, atau menang. Dengan berhenti, saya membebaskan diri saya dari lingkungan politik kantor. Toh kalau saya pindah ke kantor lain, belum tentu saya tidak masuk kedalam jeratan politik disana.
Saya lebih suka menganggap saya sebagai bidak catur yang lelah berperang, yang ingin keluar dari papan catur tanpa memenangkan salah satu pihak.
Saya akui, saya memang emosi bila berhadapan dengan senior manager saya. Dimatanya, mungkin saya akan dicap sebagai seorang pemberontak, provokator, dan lain-lain. Entahlah, saya tidak ambil pusing apa yang penilaiannya terhadap saya.
Beberapa hari ini saya memutar lagu Karaniya Metta Sutta oleh Imee Ooi. Lagu ini dibawakan dengan bahasa Pali. Dan dalam lirik lagu ini, saya menemukan yang saya butuhkan. Mata saya sampai berulang-ulang membaca paragraph dibawah. Paragraph ini menunjukkan “loving kindness” yang amat susah untuk dipraktekkan.
Jangan menipu orang lain
Atau menghina siapa saja.
Jangan karena marah dan benci
Mengharapkan orang lain celaka.Bagaikan seorang ibu yang mempertaruhkan jiwanya
Melindungi anaknya yang tunggal,
Demikianlah terhadap semua makhluk
Dipancarkannya pikiran (kasih sayangnya) tanpa batas.
Ya, teorinya memang banyak, dan saya yakin hampir semua orang diajarkan untuk merangkul musuhnya. Tapi apakah benar bisa dilakukan? Berapa persen dari kita yang mampu merangkul musuh kita, yang mampu benar-benar merangkul ?
Lirik selengkapnya:
KARANIYAMATTHAKUSALENA
YAN TAM SANTAM PADAM ABHISAMECCA
SAKKO UJU CA SUHUJU CA
SUVACO CASSA MUDU ANATIMANI
(Inilah yang harus dikerjakan
oleh mereka yang tangkas dalam kebaikan.
Untuk mencapai ketenangan,
Ia harus mampu, jujur, sungguh jujur,
Rendah hati, lemah lembut, tiada sombong.)
SANTUSSAKO CA SUBHARO CA
APPAKICCO CA SALLAHUKAVUTTI
SANTINDRIYO CA NIPAKO CA
APPAGABBHO KULESU ANANUGIDDHO
(Merasa puas, mudah disokong/dilayani
Tiada sibuk, sederhana hidupnya
Tenang inderanya, berhati-hati
Tahu malu, tak melekat pada keluarga.)
NA CA KHUDDAM SAMACARE KINCI
YENA VINNU PARE UPAVADEYYUM
SUKHINO VA KHEMINO HONTU
SABBE SATTA BHAVANTU SUKHITATTA
(Tidak berbuat kesalahan walaupun kecil
yang dapat dicela oleh Para Bijaksana
Hendaklah ia berpikir :
Semoga semua makhluk berbahagia dan tentram,
Semoga semua makhluk berbahagia.)
YE KECI PANABHUTATTHI
TASA VA THAVARA VA ANAVASESA
DIGHA VA YE MAHANTA VA
MAJJHIMA RASSAKA ANUKATHULA
(Makhluk hidup apa pun juga
Yang lemah dan kuat tanpa kecuali
Yang panjang atau besar
Yang sedang, pendek, kecil atau gemuk.)
DITTHA VA YE VA ADDITTHA
YE CA DURE VASANTI AVIDURE
BHUTA VA SAMBHAVESI VA
SABBE SATTA BHAVANTU SUKHITATTA
(Yang tampak atau tidak tampak
Yang jauh atau pun dekat
Yang terlahir atau yang akan lahir
Semoga semua makhluk berbahagia.)
NA PARO PARAM NIKUBBETHA
NATIMANNETHA KATTHACI NAM KANCI
BYAROSANA PATIGHASANNA
NANNAMANNASSA DUKKHAMICCHEYYA
(Jangan menipu orang lain
Atau menghina siapa saja.
Jangan karena marah dan benci
Mengharapkan orang lain celaka.)
MATA YATHA NIYAM PUTTAM
AYUSA EKAPUTTAMANURAKKHE
EVAMPI SABBABHUTESU
MANASAMBHAVAYE APARIMANAM
(Bagaikan seorang ibu yang mempertaruhkan jiwanya
Melindungi anaknya yang tunggal,
Demikianlah terhadap semua makhluk
Dipancarkannya pikiran (kasih sayangnya) tanpa batas.)
METTANCA SABBALOKASMIM
MANASAMBHAVAYE APARIMANAM
UDDHAM ADHO CA TIRIYANCA
ASAMBADHAM AVERAM ASAPATTAM
(Kasih sayangnya ke segenap alam semesta
Dipancarkannya pikirannya itu tanpa batas
Ke atas, ke bawah dan kesekeliling
Tanpa rintangan, tanpa benci dan permusuhan.)
TITTHANCARAM NISINNO VA
SAYANO VA YAVATASSA VIGATAMIDDHO
ETAM SATIM ADHITTHEYYA
BRAHMAMETAM VIHARAM IDHAMAHU
(Selagi berdiri, berjalan atau duduk
Atau berbaring, selagi tiada lelap
Ia tekun mengembangkan kesadaran ini
Yang dikatakan : Berdiam dalam Brahma)
DITTHINCA ANUPAGAMMA
SILAVA DASSANENA SAMPANNO
KAMESU VINEYYA GEDHAM
NA HI JATU GABBHASEYYAM PUNARETI’TI
(Tidak berpegang pada pandangan salah (tentang atta/aku)
Dengan sila dan penglihatan yang sempurna
Hingga bersih dari nafsu indera
Ia tak akan lahir dalam rahim mana pun juga. )


Komentar terakhir