Aku berdiri. Sebuah ranjang dorong yang biasa dipakai di rumah sakit ada didepanku. Diatasnya terdapat seorang prajurit yang berdarah-darah.

Aku berdiri. Mematung. Tanpa ekspresi, tanpa emosi. Aku kebal. Kebal terhadap tangisan, rintihan dan ratapan.

Warna merah darah memenuhi sekujur tubuh prajurit dihadapanku dan sudah mewarnai sebagian ranjang tempat ia terbaring. Yang menandakan bahwa ia masih hidup hanyalah sebuah erangan lemah setiap beberapa saat.

Disekelilingku banyak perawat lain yang sedang mengurus prajurit terluka lainnya. Bising, tapi telingaku sudah tak mampu lagi mendengar apa-apa. Tanganku sudah tak mampu lagi mencoba menjahit prajurit terluka yang pasti mati. Mataku sudah tak sanggup lagi melihat darah, potongan tubuh, atau prajurit yang sebentar lagi menjadi mayat.

Aku muak. Muak pada darah dimana-mana, muak pada potongan tubuh yang berserakan, muak pada onggokan mayat yang tertumpuk di luar bangunan. Muak.

Aku tak sanggup berpikir apa-apa lagi. Ada ledakan keras didepanku, tanda rumah sakit tempatku bekerja dihantam bom dari pesawat udara milik musuh.

Aku merasakan sakit dibagian perut sebelah kiri dan memanjang sampai ke dada kiriku. Tubuhku robek. Sakit yang teramat hebat dan setelah itu.. hilang. Aku tidak merasakan apa-apa lagi.

Dan aku tahu kalau aku telah mati.

***
Herli Surjadjaja
14 Agustus 2009

Category: prosa  One Comment
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
One Response
  1. hersu says:

    turut berduka cita…semoga diterima disisinya….teruskan perjuanganmu

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>