Saya termasuk orang yang tidak percaya dengan istilah “mengejar kebahagiaan” atau “mencari kebahagiaan”. Bukan karena saya tidak bahagia, tapi karena saya percaya kebahagiaan bukan hal untuk dikejar atau dicari.

Saya memang sudah pernah menulis soal ini sebelumnya, tapi belakangan ini saya seperti “dicubit” untuk menulis tentang topik yang sama. Dari sebuah bahasan pendek mengenai financial freedom dengan sebuah teman lama sampai dengan topik Dhammadesana pagi ini.

Saya pernah menulis status di Facebook: “pilih mana, hoki gede tapi ga sukses secara finansial atau sukses secara financial tapi hoki seret?”. Antara terduga dan tidak, hampir semua yang memberi komentar menyamakan uang atau materi (sukses secara finansial) dengan luck.

Ingat karakter bernama Untung di komik Donal Bebek? Apakah si Untung itu termasuk sukses secara finansial? Saya rasa tidak. Kehidupan keuangannya mungkin biasa saja tapi hidupnya secara keseluruhan penuh dengan keberuntungan bukan? Yang dibutuhkan oleh si Untung akan disediakan oleh keberuntungannya.

Saya termasuk mengkategorikan diri saya dan Jimz di kelompok yang hoki gede tapi tidak sukses secara finansial. Sukses disini saya definisikan menurut definisi orang kebanyakan: gaji atau laba usaha yang besar. We’re not rich, but we ARE happy. That counts.

Kebahagiaan berada bukan di luar diri, tapi di dalam diri. Itu pesan Dhammadesana pagi ini. Jadi buat apa dikejar? Atau pertanyaannya mesti diganti dengan “Jadi, apa yang dikejar?” :P

Target hidup saya dan Jimz tidak tinggi, bahkan bagi sebagian orang mungkin akan dianggap tidak punya target sama sekali. Enjoying time at the end of the day. Sebuah tujuan yang mampu dicapai setiap malam. Dan memang tercapai hampir setiap malam. :)

Saya sering mendapat kesan kalau saya dikasihani oleh beberapa kenalan, hanya karena saya tinggal dirumah mertua lah, hanya karena saya tidak bekerja lah, hanya karena Jimz tidak mau keluar negeri mengejar karir lah, dst. Buat apa sih itu semua? Apa yang perlu dikasihani kalau saya sendiri tidak merasa menderita?

Menikmati waktu diakhir hari bukanlah sesuatu yang menyedihkan, melainkan sesuatu yang sangat.. sangat.. sangat.. membahagiakan. Setidaknya untuk saya sih, entah ya kalau menurut orang lain. :)

Uang bukan tujuan hidup saya. Kebahagiaan kami tidak ditentukan oleh materi.

Banyak lho, kenalan saya yang menggantung tujuan hidup setinggi langit (sampai terdengar mustahil diraih) dan menghabiskan sepanjang hidupnya terlilit dalam proses mencapai tujuan itu. Sedangkan saya mencapai tujuan saya hampir disetiap penghujung hari. dan saya berulang kali mencapainya. Apa yang perlu dikasihani dari itu?

Kebahagiaan bukan untuk dikejar. Kebahagiaan ada dalam diri. Saya amat sangat setuju sekali. :)

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>