Selamat Ulang Tahun.

Ingin sekali kuucapkan tiga kata itu kepada orangnya langsung. Tapi itu adalah hal yang tak mungkin. Sudah bertahun-tahun aku tidak melihat wajahnya, atau bahkan menemui tanda-tanda keberadaannya disekelilingku.

Alamat apa yang harus kutulis di amplop surat? Telepon secanggih apapun tidak dapat menjangkaunya. Bahkan internet yang diagung-agungkan bisa membangun relasi yang sudah putuspun tidak mampu membantuku.

Ia lenyap.

Setiap tahun di hari ini, aku tetap mengingatnya, walau mungkin sudah ratusan teman dan keluargaku menyuruhku melupakannya. Tapi mereka tidak mengerti betapa sulitnya ini.

Setiap tahun di hari ini, aku kesini, pagi-pagi sekali. Berpakaian putih, warna favoritnya, dan membawa sekuntum bunga mawar putih.

Setiap tahun di hari ini, aku berjongkok didepan batu nisannya, menaruh sekuntum bunga didepannya dan berujar, “Selamat Ulang Tahun.”

***
Herli Surjadjaja, 8 Juli 2009

Category: prosa  One Comment
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
One Response
  1. Herli says:

    @all: ini cuma prosa, bila ada kemiripan situasi, itu tidak disengaja.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>