Saya bahagia!
Tidak cukupkah kalimat itu? Perlukah saya menjelaskan alasan saya bahagia?
Saya bahagia, karena saya memutuskan untuk berbahagia, karena keinginan saya tidak banyak, dan saya menikmati kondisi saya yang sekarang. Saya bahagia bukan karena banyak harta. Bagi yang benar-benar tahu saya, saya tidak pernah mengincar uang, atau kekayaan, atau gengsi, atau jabatan, atau hal-hal semacam itu.
Saya bukanlah orang yang kekurangan, dan saya mensyukuri hal itu. Kalau ukuran kekayaan adalah banyaknya senyuman, saya pikir saya cukup kaya. Ada banyak senyum dan tawa, di diri saya dan sekeliling saya. Bukankah hal itu sudah cukup untuk menjadi tolok ukur kebahagiaan?
Saya bahagia karena saya nyaman dengan diri saya sendiri. Nyaman dengan pasangan saya. Nyaman dengan keluarga kecil saya. Nyaman dengan orang-orang disekitar saya. Tidak ada yang “memakai topeng’ untuk berpura-pura menjadi orang lain. Saya bisa menjadi diri saya sendiri tanpa perlu takut dicela atau dikritik. Tidak ada yang menuntut saya harus begini atau harus begitu. Saya bebas menjadi apapun yang saya inginkan, tanpa perlu “memakai topeng”.
Saya puas dengan keadaan yang sekarang. Bukankah ketidakpuasan adalah faktor yang menyebabkan ketidakbahagiaan? Saya tidak menemukan alasan untuk menjadi tidak puas dengan kehidupan saya, dan saya tidak berniat untuk mencari-cari alasan untuk menjadi tidak puas. Why should I? I’m already happy.
Mungkin ada yang iri dengan kondisi saya yang bahagia. Mungkin ada yang tidak senang. Aneh ya, saya yang bahagia tapi koq teman-teman saya malah kesal karena saya bahagia? Kalau saya bahagia, bukankah teman-teman saya sewajarnya ikutan bahagia?
Anyway, tulisan ini bukan untuk menyindir, tapi lebih ke konfirmasi.
Saya bahagia, sungguh!


Mau yang kacang coklat keju neng ?