Di salah satu majalah yang saya dapatkan dengan rutin seminggu sekali, ada artikel tentang perayaan Diwali (atau Deepavali) yang dirayakan umat Hindu (correct me if I’m wrong) dengan menyalakan lilin dan lampu untuk memberi penerangan. Dan judul kecilnya berbunyi: “Saat terang mengalahkan gelap”.
Dunia kita dipenuhi dengan mayoritas orang-orang yang menganggap ada peran baik dan buruk. Baik vs Buruk. Good versus Evil. Dan mayoritas orang menginginkan kemenangan “good” dan kekalahan “evil”.
Saya pribadi, sangat tidak setuju dengan pemikiran ini. Dipikiran saya malah ada pertanyaan: “Kenapa salah satu harus menang dan yang lainnya kalah?”.
Kenapa malam harus ada? Karena ada siang. Kenapa ada sesuatu yang buruk? Karena ada sesuatu yang baik. Dan kalau ada siang, berarti ada malam. Kalau ada sesuatu yang baik pasti ada sesuatu yang buruk.
Mungkin cara pikir saya kontroverial. Tapi “good” dan “evil” adalah suatu kesatuan. Begitu juga dengan “terang” dan “gelap”. Bagaikan pisau, satu sisi pisau tidak bisa hadir tanpa sisi satunya lagi. Tanpa ada malam, maka siang tidak akan pernah ada. Dan akan terjadi ketidakseimbangan.
Kebetulan saya sedang membaca esai oleh Fred B. Eiseman, Jr yang berjudul Bali: Sekala & Niskala. Di buku ini, semua tentang Bali dibahas, tentang kepercayaan, adat, dan seni di Bali. Saya baru sampai pada bab-bab awal saja, tapi sudah menemukan kalimat yang kira-kira menyatakan sama seperti yang dipikiran saya.
Saya juga pernah menyelesaikan game di Final Fantasy III di Nintendo DS. Berikut ini kutipan jalan ceritanya yang saya ambil dari wikipedia:
One thousand years before the events in the game, on a floating continent hovering high above the surface of an unnamed planet, a technologically advanced civilization sought to harness the power of the four elemental crystals of light. They did not realize that they could not control such fundamental forces of nature. This power of light would have consumed the world itself had the light crystals not had their natural counterparts: the four dark elemental crystals. Disturbed by the sudden interruption of the careful balance of light and dark, four warriors were granted the power of the dark crystals to recapture the power of the light crystals. These so-called Dark Warriors succeeded in their quest, and restored harmony to the world. But their victory came too late to save the doomed civilization. Their culture was reduced to ruin, though their floating continent remained. On that continent, the circle of Gulgans, a race of blind soothsayers and fortune-tellers, predicted that these events will ultimately repeat.
Jadi, saya tidak setuju kalau “terang” harus mengalahkan “gelap”. Karena terang dan gelap bukanlah dua entitas, melainkan satu kesatuan yang tidak bisa dipisah.
Sekali lagi, ini kan menurut saya pribadi, tanpa bermaksud mengkritik ajaran manapun. Ini murni pendapat saya

Komentar terakhir