Sudah dua minggu ini Jimz berencana untuk memangkas rambut. Tapi baru tadi sore kesampaian. Saya sih hanya menemani saja. Tidak ikutan menggunting rambut.
Saya dan Jimz sampai di tempat potong rambut itu sekitar jam setengah lima sore. Keadaan salon lumayan ramai, ada yang ngeset rambut untuk kondangan, ada yang creambath, ada juga yang menipedi.
Saya, dalam 26 tahun saya hidup, belum pernah yang namanya melakukan creambath di salon. Pengalaman saya melakukan creambath itu hanya 1 kali, dan itu pun dilakukan sendiri di rumah. Dengan bantuan mami (yang sewaktu mudanya pernah membuka salon). Dan itupun sudah lama sekali. Waktu saya masih kuliah mungkin, saya tidak begitu ingat.
Yang menarik dari “fenomena” creambath di salon adalah.. PIJAT! Duh, saya paling tidak tahan dipijat. Bukannya geli atau apa, tapi dipijat itu menyakitkan untuk saya. Tidak tahan deh rasanya.
Tadi saya melihat beberapa kasus creambath yang saya saksikan sendiri dengan kedua mata saya, pijatannya heboh sekali. Ah, buat saya sih, creambath itu penyiksaan yang ternyata dinikmati oleh sebagian besar wanita Indonesia.
Waktu saya ngobrol iseng sama teman saya yang suka di-creambath, ia bilang, “Lha kan kamu bisa bilang, jangan keras-keras mijatnya.” Tetap saja tidak berpengaruh banyak.
Okelah, sewaktu dibilangi jangan keras-keras si pemijatnya akan melemahkan kekuatan pijatannya. Tapi lama kelamaan, bakal balik lagi tuh kekuatan asli si pemijat, karena banyak “client” yang suka dipijat keras-keras.
Buat saya, creambath adalah penyiksaan yang diminati sebagain besar wanita Indonesia.
Kenapa saya bilang wanita Indonesia ? Karena Sintha yang pernah tinggal lama di Amerika pun mengatakan, “Di Amerika tuh creambath ga pake pijet2 segala.”
Lalu kenapa di Indonesia, creambath = pijat ? Wah, ga habis pikir saya. >.<


Huehehe sama her..gw juga ga kuat kalo creambath di salon, pijatannya kuat banget. Gw pernah di creambath, pulangnya malah sakit semua kulit kepala gw. Sampai sekarang gw ga pernah lagi ke salon buat creambath