Sudah tahu kan kasus Prita Mulyasari dan RS Omni Internasional?

Eits.. Tunggu.. Ini bukan bentuk dukungan kepada Sdri P yang ditahan karena dituduh melakukan pencemaran nama baik RS Omni. Dan ini juga bukan pembelaan untuk RS Omni tersebut.

Kasus Prita dan RS Omni bahkan sudah diketahui oleh capres-capres kita, dan saya akan berasumsi kalau kasus ini sudah diketahui sejumlah besar orang -terumata para blogger- jadi saya tidak akan memberi penjelasan tentang latar belakangnya disini ya. :)

Posisi saya disini adalah sebagai pengamat. Saya sama sekali tidak melakoni salah satu peran pun disini kecuai pengamat. Jadi, semua bentuk informasi yang saya terima adalah dari media, cetak maupun elektronik.

Saya baca koq surat keluhannya, bahkan yang tidak memakai inisial, tapi jelas-jelas menyebutkan nama. Dan setelah saya ikut perkembangan kasusnya, muncul pemberitaan yang memberitakan bahwa yang menggugat Sdri P ini adalah si pengacara dr H. Bahkan pengacara si dr H ini sudah mulai menggugat Sdri P dari September 2008. Bukan RS Omni vs Sdri P , sebenarnya.

Jadi seharusnya, kasus ini cuma antara dr H dengan Sdri P. Sayangnya karena si dr ini bekerja di RS Omni, jadilah RS ini pun terbawa-bawa.

Kalau sudah begini, pasti bakal repot sekali untuk RS Omni untuk melunturkan persepsi masyarakat yang sudah terlanjur mendukung Sdri P dan menghujat RS Omni.

Padahal, sebagian besar dukungan pro-kontra itu, belum tentu tahu jelas asal usulnya, kronologinya, dan kebenarannya. Eits.. saya tidak membela pihak manapun ya, seperti yang sudah saya bilang, saya disini kan cuma pengamat. Tapi kecenderungannya (seperti biasa) di Indonesia (atau dibelahan bumi lainnya), pihak yang tertindas bakal mendapat dukungan paling banyak, walaupun sebenarnya mungkin bukan sepenuhnya salah pihak yang “menindas”.

Contoh lain: ada sepeda motor yang mendahului truk dari sisi kiri, tersenggol oleh pedagang kaki lima dan akhirnya hilang keseimbangan. Tepat sebelum motor itu menyentuh aspal, truk itu datang. Dan karena tidak cukup waktu untuk menginjak rem, terlindaslah motorĀ  beserta pengendaranya ini.

Yang terjadi kemudian? Supir truk bakal ramai-ramai dikeroyok massa karena yang massa lihat hanya motor dan pengendaranya yang berada di bawah roda truk.

Apa kita sudah lupa terhadap peran kita sebagai pengamat? Apa kita sudah lupa untuk berpikir kritis dan akhirnya malah menelan bulat-bulat informasi apapun yang sampai kepada kita? Apa kita sudah kehilangan kemampuan untuk mencerna dan memilah-milah informasi? Atau kita hanya malas berpikir?

Category: cuap-cuap  2 Comments
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
2 Responses
  1. dashyat says:

    kalau saya blum lihat emailnya si prita itu seperti apa, jadi tidak bisa komen. Sebagaimana kita ketahui, kadang orang2 disini ini mendukung tanpa mengetahui kronologinya ( asal ikut2an saja ), seperti juga pada kasus si manohara, kita gak memperoleh perkembangan berita yang berimbang dari pihak klantan ( sepanjang pengamatan ku loh / atau akunya yang kurang informasi :) . Juga seperti kasus hoax email, tanpa kita pelajari langsung kita forward, yang berarti kita jg meyebarkan kebohongan ( kasus yang hangat, ya minuman jeng herli itu loh :) ), nah loh kok jadi kesini :) . Apa hubungannya ya :) sekedar uneg2 aja

  2. Herli says:

    @dashyat: hahaha.. iya.. kadang2 emang cuma tau sepihak aja, tapi sudah kita percaya sebagai kebenaran. yang kasus manohara, saya agak males ngikutinnya, beritanya koq semakin terkesan di dramatisir, tapi sepanjang yang saya tau juga porsi nya ga imbang.. :)

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>