Bagi Emily, saya adalah paket komplit, dan sampai saat ini saya masih merupakan bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Apalagi sewaktu baru lahir.
Lapar? Sama saya.
Haus? Sama saya.
Bobo? Sama saya (dan Jimz).
Buang air? Di saya. Apalagi waktu baru lahir. ![]()
Kadang-kadang agak terasa sebagai suatu beban karena ada mahkluk tidak berdaya yang menggantungkan hidupnya pada saya. Tapi lama kelamaan, ketergantungan Emily pada saya malah membuat saya pede.
Pede karena Emily menaruh kepercayaan yang teramat besar pada saya. Saking besarnya sampai-sampai menyangkut urusan hidup dan matinya *dramatisasi*. Karena Emily begitu percaya, saya menjadi yakin kalau saya siap dan sanggup menjadi paket komplit baginya.
Jujur saja, sewaktu saya diberi “kesempatan” untuk belajar menggendong bayi baru lahir saat keponakan saya lahir, saya tidak berani. Tapi begitu Emily lahir, saya seperti sudah otomatis tahu mana yang harus dipegang dan langsung bisa menggendongnya. Begitu pula dengan memandikannya. Diajari sekali (tanpa praktek) dan saya langsung tahu kalau saya bisa melakukannya.
Naluri seorang ibu? Mungkin saja. Lama kelamaan saya menjadi amat terbiasa dengan ketergantungan Emily pada saya. Semakin lama saya mengurusnya, semakin saya bangga pada diri saya yang menjadi ke komplit bagi Emily.
Suatu saat nanti Emily akan berhenti bergantung pada saya. Dan ketika saat itu tiba, saya mempunyai firasat kuat kalau saya akan merasakan suatu kebanggaan, terhadap dirinya dan terhadap diri saya sendiri.


Komentar terakhir