Posted in cuap-cuap

Terrarium Pertama

Saya mempunyai bekas toples selai yang tidak terpakai. Daripada dibuang sayang, saya memutuskan untuk membuat terrarium. Bahan-bahannya mudah didapat: batu kerikil (atau batu hias), lumut (bila ada), media tanam, pasir, dan tanamannya itu sendiri.

Karena saya tinggal di apartemen, lahannya terbatas,¬†tanaman yang saya rasa cocok adalah jenis kaktus semata-mata hanya karena asumsi bahwa merawat kaktus itu mudah. Saya belum pernah memelihara kaktus sih, jadi belum bisa bilang berdasarkan pengalaman. ūüôā

Untungnya, kaktus cukup mudah didapat di area tempat tinggal saya. Harganyapun terjangkau, mulai dari Rp 7.500 sampai Rp 20.000 di supermarket. Untuk terrarium saya ini, saya menggunakan kaktus seharga Rp 10.000.

Pertama yang saya lakukan adalah mencuci bersih dan mengeringkan toples. Lalu menambahkan lapisan batu putih sebagai drainase air (kalau saat disiram), lumut imitasi, media tanam berikut kaktusnya, lalu saya tutup dengan butiran pasir. Dan, TADA! ūüôā

Terrarium Toples Selai
Terrarium Toples Selai
Posted in money making, paid to click, payment proof

Pembayaran #03 Clixsense

Kemarin pagi, setelah berhasil mengumpulkan $10 dengan mengklik iklan dan mengisi survei, akhirnya saya memutuskan untuk melakukan Cashout di Clixsense. Sebenarnya sudah boleh meminta pembayaran dengan saldo minimal $8 untuk member standard, tapi saya tahan dulu sampai genap $10.

Saya mengklik tautan Cashout yang ada di Account Summary hari Jumat pagi. Dana memang tidak instan masuk ke rekening Paypal, tapi dilakukan manual dua kali seminggu, hari Senin dan hari Jumat. Jadi, hari Senin dan Jumat memang waktu yang pas untuk meminta pembayaran.

Hari ini, Sabtu pagi, saya sudah menerima email yang memberitahukan bahwa ada pembayaran yang masuk dari Clixsense. Walaupun tidak instan, prosesnya cukup cepat.

Kalau ingin tahu lebih banyak mengenai cara mendapatkan dollar dengan Clinsense, silahkan baca tulisan saya mengenai hal tersebut disini:

Panduan mengumpulkan dollar dengan Clixsense

Pembayaran #03 Clixsense
Pembayaran #03 Clixsense
Posted in money making, paid to click, payment proof

Pembayaran #02 Neobux

Pagi ini saya baru ngeh kalau saldo saya di Neobux sudah cukup untuk melakukan permintaan pembayaran. Jadi tanpa ditunda-tunda lagi, saya melakukan proses Request My Payment. Uangnya sampai saat itu juga ke rekening Paypal saya.

Pembayaran #02 Neobux
Pembayaran #02 Neobux
Detil Transaksi Paypal
Detil Transaksi Paypal

Yang tertarik untuk ikutan menghasilkan recehan dengan modal waktu luang dan akses internet, bisa gabung disini: http://www.neobux.com/?r=herrlichz

Posted in money making, payment proof

Pembayaran #02 Clixsense

Kemarin malam, setelah berhasil mengumpulkan $10 dengan mengklik iklan dan mengisi survei, akhirnya saya memutuskan untuk melakukan Cashout di Clixsense. Sebenarnya sudah boleh meminta pembayaran dengan saldo minimal $8 untuk member standard, tapi saya tahan dulu sampai genap $10.

Saya mengklik tautan Cashout yang ada di Account Summary hari Senin malam. Dana memang tidak instan masuk ke rekening Paypal, tapi dilakukan manual dua kali seminggu, hari Senin dan hari Jumat. Jadi, hari Senin dan Jumat memang waktu yang pas untuk meminta pembayaran.

Selasa pagi, saya sudah menerima email yang memberitahukan bahwa ada pembayaran yang masuk dari Clixsense. Walaupun tidak instan, prosesnya cukup cepat.

Pembayaran #02 Clixsense
Pembayaran #02 Clixsense

Kalau ingin tahu lebih banyak mengenai cara mendapatkan dollar dengan Clinsense, silahkan baca tulisan saya mengenai hal tersebut disini:

Panduan mengumpulkan dollar dengan Clixsense

Posted in cuap-cuap

Bermain Kawat

Sudah hampir satu bulan belakangan ini saya tertarik dengan wire jewelry. Tanpa pengetahuan apapun mengenai kawat, saya membuka situs-situs pembelajaran seperti Instructibles dan YouTube. Tapi semakin melihat cara-cara nguwer kawat, semakin tertarik. Walaupun mendekati akhir bulan (saat-saat krisis keuangan), akhirnya saya putuskan untuk membeli satu gulung kawat melalui FB.

Jumat yang lalu, saya membawa batu-batu yang pernah saya beli tahun 2007/2008. Jumlahnya 21 buah. Saking banyaknya, saya sampai lupa beberapa nama dari batu-batu tersebut. Dan sorenya, kawat pun datang.

Kawat: Mainan Baru
Kawat: Mainan Baru

Tanpa menunggu lama-lama, saya langsung semangat praktek. Tapi namanya juga baru pertama kali pegang kawat, akhirnya yang ada malahan jari sakit, hasilpun tidak rapi. Tidak putus asa, saya coba cara lain. Dan ketemu satu cara di Instructibles yang sepertinya cukup mudah.

Ya memang lumayan mudah, hanya saja batu-batu itu licin jadi jari tetap sakit untuk memaksa kawat dan batu bekerja sama walaupun sudah dibantu dengan tang.

Ada beberapa batu yang sebenarnya sudah bisa dijadikan liontin tapi karena hasilnya kurang rapi, saya bongkar lagi. Saya ganti dengan model lain.

Hasilnya, akhir pekan kemarin saya berkutat bermain kawat.

Tapi tidak mengecewakan, dengan satu gulung kawat lapis perak berdiameter 1mm (18ga), saya menghasilkan 14 liontin (dari keseluruhan 21 batu).

14 Liontin Hasil Bermain Kawat
14 Liontin Hasil Bermain Kawat

Memang sederhana sekali modelnya, tapi setidaknya batu-batu saya sekarang bisa saya pakai sebagai liontin. ūüôā

Posted in cuap-cuap

Tingkah Kepiting

Saya pernah mendengar kalau sekelompok kepiting, walaupun diletakkan dalam baskom, tidak akan pernah bisa keluar dari baskom. Katanya, bila ada satu kepiting yang berusaha keluar dari baskom, ada saja kepiting lainnya yang akan mencapitnya dan menariknya jatuh masuk kedalam baskom kembali.

Persis sekali dengan kenyataan yang ada di sekitar kita. Peer pressure atau tekanan dari pihak rekan sangat kental. Tidak hanya disekolah, tapi di kehidupan sehari-hari pun berlaku.

Untuk bisa maju, menjadi susah karena budaya kepiting tadi. Pernah dengar soal supir taksi yang mau latihan bahasa Inggris? Bisa dibayangkan dong, berapa banyak yang mengejek untuk menjatuhkan mental dan kepercayaan dirinya? Budaya inikah yang mau dipelihara sebagai nilai?

Dulu waktu mempertimbangkan sekolah untuk Emily, saya sempat mempertimbangkan sekolah yang menggukanan bahasa Inggris¬†sebagai¬†bahasa pengantar, dan¬†ada saja yang¬†nyeletuk: “tinggal dimane sih emang, sok pakai bahasa Inggris?”

Tingkah kepiting.

Dalam berlalulintas tidak terkecuali. Bila saya (sebagai pengendara motor), berhenti dibelakang garis stop, pasti ada saja yang mengklakson untuk menyuruh saya lebih maju lagi. Dia yang tidak sabar, saya yang kena getahnya. Bullying.

Mau sampai kapan ya, sikap ini dipelihara? Kalau saya sih sudah tidak mau lagi dicapit. Saya menolak untuk stagnan. Lebih baik berjalan sendirian ke arah yang benar (menurut saya) dibandingkan berjalan ramai-ramai ke arah yang ttidak sesuai dengan tujuan saya.

Posted in cuap-cuap

Makhluk Diunal

Giat siang atau diurnal adalah sifat perilaku hewan (atau juga tumbuhan) yang aktif di siang hari, sementara di malam harinya tidur. Jika bukan diurnal, hewan bisa jadi bersifat nokturnal (aktif di malam hari) atau krepuskular (aktif di saat remang-remang, seperti saat fajar dan senja hari) – Wikipedia Indonesia

Saya adalah makhluk pagi. Saya menyalakan weker saya pukul 4 setiap paginya. Saya suka keheningan dan ketenangan yang dibawa oleh pagi. Saya menikmati kesendirian saya saat pagi.

Beda dengan kebanyakan orang yang akan terantuk-antuk bila diharuskan bangun pagi, saya sukarela bangun pagi. Bukan untuk olahraga (padahal bisa ya? hihihi.. ), tapi hanya untuk menjadi sendiri, untuk mengumpulkan sisa-sisa diri yang tercecer sepanjang malam sebelumnya.

Dan berbeda dengan kebanyakan orang, saya tidak bisa bergadang. Untuk tetap terjaga melewati pukul 10 malam saja sudah luar biasa buat saya. Apalagi untuk tetap terjaga (dan fungsional) sepanjang malam.

Banyak pekerjaan saya yang justru terselesaikan dipagi hari, bukan di malam hari. I guess I am just most inspired in the morning.

Pagi hari (bahkan subuh) mempunyai arti tertentu buat saya: me-time yang paling menenangkan.

Selamat Pagi!