August 14 2020

Menyoal Kebahagiaan

Beberapa waktu lalu saya menemukan tulisan ini di media sosial:

Seorang guru membawa banyak balon dan membagikan satu untuk setiap siswa di kelas. Lalu ia memerintahkan mereka untuk menulis nama mereka di balon itu dan menyuruh mereka untuk meninggalkan balon balon itu di lantai. Semua siswa disuruh keluar, lalu guru itu mengatakan bahwa mereka memiliki 5 menit untuk menemukan balon yang tertera nama mereka sendiri.

Para siswa masuk dan masing-masing mencari namanya di balon itu. Setelah 5 menit berselang, tak ada seorang pun yang menemukan namanya di balon balon itu.

Lalu guru itu mengatakan bahwa semua siswa bisa mengambil balon apa saja yang tidak tertera namanya dan memberikannya kepada pemilik nama yang tertulis.
Tak membutuhkan waktu yang lama, masing masing siswa sudah mempunyai sebuah balon di tangannya.

Guru berkata: “Balon itu adalah kebahagiaan seseorang. Tak seorang pun akan menemukannya, mencari kebahagiaan mereka sendiri tanpa mempedulikan orang lain. Untuk menemukan kebahagiaan, maka harus memberi. Dengan memberi, kita akan menerima. Jika ingin bahagia, maka berilah juga kebahagiaan kepada orang lain. Kebahagiaan yang sesungguhnya itu ada dalam MEMBERI”.

Belajarlah untuk memberi dan berbuat baik tanpa menunggu untuk dikembalikan atau dibalas. Karena semua itu akan dikembalikan kepada Anda dengan cara yang berbeda dalam waktu yang tak terduga¬†😇

Di satu sisi, saya sependapat dengan cerita ini, di sisi lain, saya agak sedikit mempunyai pandangan yang berbeda. Saya mengerti bahwa untuk menempuh tujuan tertentu, kadang kerjasama diperlukan.

Dalam kasus balon tersebut, tentu saja tidak akan menjadi pekerjaan yang mudah bila seorang anak diwajibkan mencari balon dengan namanya sendiri. Tapi bila tujuannya diubah menjadi “setiap anak harus memegang balonnya sendiri”, hanya dengan bekerja sama, tujuan itu bisa tercapai.

Yang saya tidak terlalu setuju adalah seakan-akan cerita tersebut menyiratkan bahwa kebahagiaan itu diberikan oleh faktor eksternal, seperti orang lain.

Menjadi manusia yang bahagia atau tidak seharusnya tidak terpengaruh oleh faktor “diberikan”. Ciptakanlah kebahagiaan Anda sendiri, tanpa harus menunggu diberikan.

Bukankah seharusnya begitu?



Copyright 2020. All rights reserved.

Posted 14 August 2020 by admin in category "bits and pieces

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *