Sudah tahu kan, soal insiden pelemparan sepatu yang dilakukan seorang wartawan ke arah Presiden AS George W Bush? Banyak banget tuh di Youtube dan situs-situs lain. Bahkan sampai ada mini game yang betujuan agar sepatu yang dilempar bisa mengenai kepala Presiden itu.

Dalam posting ini, saya tidak berusaha memihak kesalah satu sisipun. Saya hanya ingin mengamati “trend” ini. Trend apa yang saya maksud? Trend di masyarakat yang tak ubahnya seperti piranha. Beraninya keroyokan, setelah ada beberapa “provokator” yang berani maju.

Kalau tidak ada sepatu yang terlempar, apa mungkin banyak sindiran terhadap Bush yang dilakukan secara terang-terangan ?

Sebenarnya tidak perlu jauh-jauh juga. Untuk kasus yang terjadi di kantor saya, hanya 2 orang yang berani menjadi provokatornya. Setelah itu, barulah yang lain terang-terangan mengikuti jejak saya dan Maikel untuk menolak.

Saya yakin, sebenarnya mereka yang mengikuti merasa lega karena akhirnya bisa menolak secara terang-terangan. Sebelumnya mereka hanya bisa menggerutu saja dibelakang orang yang dimaksud. Tapi dengan adanya saya sebagai provokator, satu divisi pun protes!

Ada contoh lain, yang tidak berhubungan dengan politik yang bermain di kantor.

Sewaktu Lina mengadakan pesta pernikahan tanggal 7 Desember 2008 kemarin, saya dan Jimz lah yang maju pertama kali barulah para undangan yang lain mengikuti maju. Itupun sampai batas saya dan Jimz berdiri.

Banyak sekali contoh-contoh bahwa masyarakat kita masih mengadopsi mental piranha. Tidak ada yang mau maju duluan dan kena cap “provokator”. Semuanya hanya mau ikut kalau sudah ada provokator yang maju duluan.

Anehnya, untuk urusan buang sampah pada tempatnya, walaupun sudah ada provokator yang mencontohkan membuang sampah pada tempatnya, tetap saja kebanyakan orang tidak peduli tempat mereka membuang sampah. Mungkin juga semua lokasi yang mereka lalui mereka anggap layak menjadi tempat sampah, sehingga mereka membuang sampah sembarangan.

Category: cuap-cuap  2 Comments
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
2 Responses
  1. vesperlynd says:

    setuju dengan poin dr tulisann u Non.
    tapi kok gw kurang sreg kalo di bilang provokator nih. provokator kan dr kata provokasi = menghasut (CMIIW), kesannya negatif gitu.

  2. Herli says:

    @vesperlynd:
    hihihih, emang sengaja memakai kata provokasi, supaya kesan negatifnya bisa luntur. hihihi..

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>