Sudah hampir tiga bulan saya menjadi ibu. Yap, tidak terasa yah. Kalau saya masih bekerja kantoran, sekarang-sekarang ini saya sedang mempersiapkan ASI peras untuk distok selama saya bekerja. Hehehehe..

Sejak Emily lahir, dari mulai melek sampai merem yang dilihat adalah Emily. Hampir tiga bulan saya bergaul dengan bayi. Sama sekali belum pernah terlintas bayangan saya mengurus bayi sebelum Emily lahir. Makanya saya kena panik juga waktu minggu-minggu pertama.

Ada beberapa hal yang saya perhatikan dari bayi, dan seharusnya bisa dicontoh dan diterapkan di kehidupan masing-masing. Salah satunya adalah: bayi tidak bisa dekat-dekat orang dengan emosi negatif seperti kesal, takut, cemas, atau bahkan marah-marah. Dan ini berlaku untuk semua orang yang dekat atau melakukan kontak dengan bayi tersebut, tanpa kecuali.

Yang terjadi kalau bayi dekat-dekat dengan orang beremosi negatif itu adalah menangis. Dan kalau sudah menangis dan masih dekat-dekat dengan orang beremosi negatif, makin kencanglah ia menangis. Padahal banyak orang yang kalau mendengar bayi menangis malah panik, atau takut. Putar-putar saja lah kondisinya. :-)

Hal ini berarti: saya tidak boleh memiliki emosi negatif selama mengurus Emily. Waw, kenyataan yang sepertinya sulit dijalankan. Bagaimana tidak? Saya tidak boleh marah. Saya tidak boleh kesal. Saya tidak boleh sedih. Saya tidak boleh cemas. Dan lain sebagainya.

Dan bayi tidak bisa bohong atau dibohongi. Walaupun saya menampakkan wajah tersenyum tapi hati saya kesal, tetap saja tidak akan mendiamkan tangisannya.

Yap, sesulit itulah “perjuangan” saya menghipnotis diri sendiri untuk tidak memiliki emosi negatif. Yah, setidaknya masuk ke kondisi tidak beremosi dulu deh, baru setelah itu pelan-pelan mengeluarkan senyum tulus. Dan Emily pun behenti menangis. :-)

Lama-lama saya jadi terbiasa. Dan ini sangat bermanfaat bagi kedua belah pihak. The happier the mommy, the happier the baby.

Sifat lain dari bayi adalah bayi itu benar-benar contoh nyata makhluk yang living in the moment. Bayi tertawa mungkin sudah lupa dengan kejadian yang baru saja membuatnya menangis. Dan bayi tidak pernah memikirkan masa depannya.

“Sekarang” adalah segalanya baginya. Seperti saklar lampu saja jadinya. Kalau dinyalakan, langsung tidak ada tanda-tanda terang, dan kalau saklar tersebut dimatikan, ruangan langsung menjadi gelap.

Hidup di sekarang. Dan bayi terlihat sangat menikmatinya. Benar-benar contoh nyata: Do what you love, love what you do. :-)

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>