Saya sudah lama tidak menonton televisi, apalagi menyempatkan diri untuk menonton sinetron. Sinetron terakhir yang saya tonton itu adalah sinetron dengan nuansa Islami berjudul Hikmah 2 (2005) yang dibintangi Tamara Blezinsky.
Putus hubungan dengan sinetron, saya pun masih menonton televisi baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara tidak langsung maksudnya adalah kalau saya mendengar suara dari acara di televisi yang dinyalakan dari kamar saya. Acara televisi terakhir yang saya tonton nyaris rutin (karena mami nontonnya rutin) adalah infotainment.
Oh percaya deh, saya tidak bangga dengan kenyataan ini. Yap, dulu saya termasuk orang yang mengikuti infotainment (karena secara tidak langsung ikut mendengar berita). Saya mengetahui gosip-gosip siapa mau nikah sama siapa, siapa mau cerai dari siapa, atau siapa lagi menjalin hubungan dengan siapa.
Itu semua sudah berakhir, by the way. Saya sudah tidak menonton infotainment lagi. Saya bahkan menjauhi infotainment bekalangan ini. Yang mereka jual biasanya cuma gosip yang berujung mengorek masalah pribadi orang lain. Bagaimana sih perasaan kita kalau kehidupan pribadi kita diusik? Dan anehnya lagi, bukankah gosip itu dosa tapi mereka masih menyukainya! *ok jangan dibahas sekarang* >.<
Bisa dibilang saya tidak menonton televisi lagi kecuali acara berita atau film yang saya sukai. Mungkin awalnya adalah sejak saya mengungsi ke rumah Jimz lebih dari setahun yang lalu karena rumah ortu saya di Kelapa Gading sedang di renovasi.
Saya jadi kurang menyukai televisi sejak saya terjun lebih dalam ke internet. Di internet, kita diperbolehkan memilah-milah informasi mana yang mau kita dapatkan. Beda dengan televisi. Televisi seakan mencuci otak kita untuk menerima apapun yang dilontarkan kotak berlayar kaca itu.
Contoh: di internet kita diperbolehkan untuk menutup jendela iklan, sedangkan di televisi kita disuguhkan iklan yang mau tidak mau harus lihat, kecuali saluran diganti atau televisi dimatikan. Di internet kita bisa memilih untuk mencari berita tentang hal-hal terkini atau yang kta minati sementara diĀ televisi kita harus mengikuti acara sesuai program yang sudah dijadwalkan.
Anyway.. saya sebenarnya mau cerita, setelah lama tidak bersua dengan sinetron, malam ini karena iseng saya menyalakan televisi dan mem-browse salurannya. Tebak apa yang saya temukan? Sinetron Manohara!
Ya sebenarnya saya memang bisa saja mengganti saluran dan tidak menonton sinetron itu. Tapi akhirnya saya biarkan rasa keingintahuan saya terpuaskan selama 30 menit menonton cuplikan dari sinetron itu.
Saya ingin tahu, kualitas sinetron sekarang seperti apa. Dan ternyata, menurut saya sinetron sekarang lebih parah dibandingkan dulu sejak saya nonton sinetron. Parah dalam pendramatisiran situasi dan parah dalam pemilihan dialog (yang kadang-kadang kaku dan aneh bin gajebo [ga jelas, bo - red] ).
Selalu stereotype. Misalnya: cewe miskin digaet cowo kaya, trus banyak kendala, entah itu dari mertua, atau dari pacar si cowok yang cemburu. Lalu kalau menampilkan tokoh selalu ekstrim. Tokoh protagonis selalu digambarkan sabar, penyayang, soleh, dan lain-lain. Tapi karakter utama si tokoh protagonis selalu sial. Selalu banyak musibah. Semakin banyak dan mengerikan musibah yang di alami tokoh protagonis, semakin tinggi pula biasanya rating sinetron itu. *batuk* Manohara *batuk*
Dan bukan sekedar musibah lho. Isu KDRT juga termasuk pemanis dalam sinetron. Tapi banyak yang tidak menyadarinya. “Itu kan cuma film”, kata penonton setianya.
Sudah begitu kecanduannyakah penonton sinetron terhadap musibah? Apa ini yang disebut hiburan? Hiburan yang aneh. Saat tokoh protagonis sedang ditengah-tengah musibah berat, penonton setianya pasti menunggu-nunggu apa yang terjadi berikutnya.
Saat musibah sudah habis, oh jangan takut, biasanya akan muncul lagi. Walaupun sinetron sudah tamat, biasanya akan berlanjut di season 2, 3, 4, dan seterusnya.
Menurut saya, sinetron adalah jenis hiburan yang mempertontonkah musibah dan sama sekali tdak mendidik. Tapi masyarakat menyukainya!! Kita sudah berubah menjadi masyarakat drama. Penikmat sinetron pasti akan protes dan menyangkal. Sebelum kualitas sinteron ditingkatkan dengan membawa isu-isu realistis, kita tidak lebih dari masyarakat drama.


gak bisa kasih tanggapan, karena tak satupun saya mengikuti sinetron wkwkwk
@andi: hahaha.. saya juga ga ngikutin.. cuma kemarin malam kebetulan yang tersuguhi adalah itu pas duduk di depan televisi