Desember 2007 kemarin saya membeli liontin blue lace agate berbentuk pendulum yang diikat dengan perak. Belum sampai keluar dari pusat perbelanjaan itu, ternyata kristal saya sudah tidak ada di tas saya. Dan saya meyakinkan diri sendiri kalau kristal itu belum berjodoh dengan saya. Jadi saya belajar untuk merelakan kehilangan kristal itu.
Memang banyak cerita tentang kristal yang menghilang, lenyap dari tempatnya. Kristal sebagai salah satu benda yang dipercaya memiliki “kekuatan”, bisa saja menghilang, dan berpindah tangan. Ini bisa terjadi karena si kristal merasa energi pemiliknya yang sekarang tidak membutuhkannya, atau ada orang lain yang lebih membutuhkan bantuannya itu dibandingkan dengan pemiliknya yang sekarang. Pada saatnya, kristal akan kembali “muncul” kembali bila memang kita membutuhkannya.
Tanggal 17 Feb 2008, saya kembali ke tempat saya membeli liontin itu. Kebetulan saya bertemu dengan penjual yang waktu itu membantu memilihkan kristal itu untuk saya. Saya cerita bahwa liontin itu belum sempat saya pakai, sudah menghilang duluan. “Belum jodoh,” pikir saya.
Amazingly, penjual itu bercerita bahwa blue lace agate itu ditemukan oleh salah satu cleaning service dan kristal itu disimpan di security.

Blue Lace Agate
Singkat cerita, blue lace agate itu kembali kepada saya, setelah 2 bulan menunggu saya untuk menjemputnya. Riang hati saya begitu menemukannya. Dan saya tahu, kristal itu memang memilih saya untuk menjadi pemiliknya. Dan pendirian kristal ini amat teguh: berada dalam status quo merupakan hal yang dipilihnya sebelum bertemu dengan saya lagi.
Kupikir tidak jodoh, ternyata…


Komentar terakhir