Sebelum saya melanjutkan posting ini, mohon mengertilah, yang saya maksud di tulisan ini bukan tentang kehidupan saya dan Jimz. Tapi soal saya pribadi. Soal perpisahaan yang sebentar lagi tiba di kehidupan saya.
Mungkin ada beberapa orang terdekat saya yang akhirnya mengerti, kenapa saya harus berpisah dengan kantor saya ini, dan masih banyak lainnya (termasuk anggota keluarga) yang tidak habis pikir kenapa saya memutuskan untuk resign.
Sebenarnya sudah lama saya ingin resign. Mungkin sudah dari awal tahun 2008 ini. Saya sudah kehilangan motivasi untuk terus belajar di perusahaan saya yang sekarang ini. Bukan karena saya sombong dan merasa saya sudah menguasai semuanya.. Bukan.. Malah yang terjadi adalah sebaliknya, saya justru tidak menguasai semuanya. Tapi saya memerlukan perpisahan ini.
Banyak sekali alasan yang saya harus ciptakan untuk meyakinkan diri saya, bahwa saya memerlukan perpisahaan ini. Terlalu banyak alasan. Saya hanya ingin berpisah.
Kemarin akhirnya saya mengerti, kenapa saya harus resign. Pengertian ini saya dapatkan dari cerpen berjudul Peluk di buku Rectoverso yang belum lama ini saya baca.
Aku tidak tahu cinta punya berapa macam varian. Kau harus bertanya langsung pada hatiku, karena dialah yang satu hari menutup dan mengucap: “cukup”. Dia yang berkata: “aku tidak lagi jatuh, jalan ini sudah jadi jalan lurus. Teruskan maka aku mati, karena takdirku adalah jatuh. Bukan berjalan di setapak datar apalagi mendaki.”
Hati adalah air, aku lantas menyimpulkan. Baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Ada gravitasi yang secara alamiah menggiringnya. Dan jika peristiwa jatuh hati diumpamakan air terjun, maka bersamamu aku sudah merasakan terjun, jumpalitan, lompat indah. Berkali-kali. Namun kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar, dan hatiku berhenti mengalir. Siapa yang mengatur itu? Aku pun tak tahu. Barangkali kita berdua, tanpa kita sadari. Barangkali hidup itu sendiri, sehingga sia-sia menyalahkan siapa-siapa.
Aku ingin mengalir. Hatiku belum mau mati. Aliran ini harus kembali memecah dua agar kita sama-sama bergerak. Sebelum kita terlalu jengah dan akhirnya pisah dalam amarah.
Jadi, aku tidak tahu cinta itu terdiri dari berapa macam. Yang kutahu, cinta ini tersendat, dan hatiku seperti mau mati pengap. Kendati kusayang kamu lebih dari siapa pun yang kutahu. Kendati bersamamu senyaman berselimut pada saat hujan. Aku aman. Namun aku mengerontang kekeringan. Dan kini kutersadar, aku butuh hujan itu. Lebih dari apapun.
Saya tidak membenci kantor saya sekarang. Saya hanya butuh untuk kembali “jatuh” dan tidak berjalan datar. Sebelum saya akhirnya hancur karena kehilangan motivasi untuk sekian lama, saya membutuhkan perpisahaan ini, supaya saya termotivasi untuk kembali “cemerlang”.


Komentar terakhir