Aku berdiri dipinggir pantai. Laut didepanku dan beberapa pepohonan rimbun  dibelakangku. Ombak kecil memecah didepanku. Langitnya terlihat terang, tapi  matahari tidak terlihat diarah manapun. Matahari itu pasti menghilang ditutup awan lembut yang merata diseluruh langit.

Pantai ini luas, dan berpasir putih. Lembut sehalus debu halus, bukan kerikil kasar yang biasa. Ini pasir dengan butiran-butiran sangat halus, jenis yang tidak akan melukai kaki manapun yang berjalan diatasnya. Dan warnanya putih, sangat bersih.

Aku memejamkan mataku. Suara ombak itu bagai memanggilku untuk mendekat. Aku bisa mendengar suara ombak memecah dan tertarik kembali ke lautan luas. Aku bisa mendengar suara ombak yang mulai terbentuk dan berlarian ke arah pantai, ke arah daratan bertemu lautan.

Tanpa sadar aku berjalan, perlahan namun pasti. Aku merasakan ombak meyentuh kakiku. Ombak lembut yang menarik diriku untuk masuk lebih dalam.

Tidak terasa, air sudah sampai dipahaku. Apakah air laut yang beranjak pasang, atau aku yang tanpa sadar sudah berjalan lebih jauh kearah lautan.

Aku membuka mata dan pemandangan laut luas yang sama terhampar dihadapanku. Air begitu jernih sampai aku bisa melihat menembus air, melihat ujung jariku yang tertutup pasir.

Sepi, tiada suara selain suara ombak.

Aku merasakan hembusan angin menerpa wajah dan rambutku. Aku merasakan ujung pakaianku tercelup dalam air. Gaun putih selututku mengikuti arah ombak yang bergerak maju mundur. Mengikuti ombak yang masuk ke pantai, dan terbawa ombak yang bergerak memasuki lautan luas. Ombak yang selalu konstan dalam gerakannya.

Terlihat olehku garis horison yang melengkung dikejauhan sana. Lautan menutupi garis tepinya. Yang kulihat hanya air. Lautan biru kehijauan sejauh mataku memandang kedepan.

Aku menutup mataku kembali, menikmati semua sensasi tarikan ombak dikedua kakiku. Aku terdiam saat menikmati nyanyian laut. Orkestra ombak: yang besar, yang kecil, yang berlarian masuk pantai, dan yang bergegas kembali ke lautan.

Tidak ada satu ombak pun yang sama. Ombak akan terbentuk di lautan, memecah di pantai, dan kembali ke lautan sebagai arus yang berbeda dari saat ia menemukan titik terjauhnya dipantai.

Pulau tempatku berdiri tidak kuperhatikan. Hanya ada air dan kerinduanku untuk berada didalamnya. Tidak ada hal yang lebih kuinginkan selain berada didalam air. Aku rindu bergerak dalam arah kusukai. Merasakan rambutku bergerak mengikuti arus air. Merasakan tubuhku ringan dipeluk air. Aku rindu berada didalam air.

***
Herli Surjadjaja, 9 Juni 2009

Category: prosa  One Comment
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
One Response
Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>