Pantai.. Samar-samar aku mengingat sesuatu mengenai pantai. Pantai sepi dengan pasir putih yang halus. Laut berwarna biru kehijauan membentang sepanjang garis horizon. Langit cerah tanpa matahari. Aku pernah kesana, ingatku. Entah kapan.
Aku melihat sekelilingku dan yang kulihat hanya air. Aku berada di dalam air. Didalam lautan luas. Kapan aku melangkah lebih jauh kearah lautan? Aku tidak ingat. Aku tak mampu mengingat.
Keinginanku terwujud. Aku berada dalam air. Aku mampu bergerak sebebas yang aku suka. Aku merasakan belaian arus lembut menerpa wajahku.
Logikaku mulai mempertanyakan semuanya. Mengapa aku tidak megap-megap mencari udara? Bagaimana aku bernapas? Terlebih lagi, kapan aku masuk lebih jauh kedalam lautan?
Aku mengangkat kedua tanganku sejajar dengan mataku. Aku tidak melihat apa-apa. Aku menyatu dengan air disekelilingku. Dalam waktu yang sama aku menyadari sesuatu: aku bagian dari lautan. Akulah air! Akulah lautan!
Aku mendongak keatas dan melihat permukaan air yang berkilau. Aku melongok kebawah dan melihat karang laut yang menakjubkan menutup pasir dibawahnya. Indah sekaligus misterius.
Inilah dunia yang kurindukan. Semua logikaku seketika lenyap disapu arus yang melewati diriku. Inilah tempatku berada. Tidak ada yang mampu menarikku kembali kedaratan. Aku adalah air, dan tempatku adalah disini, ditempat tujuan semua arus air, di lautan luas.
Aku menyadari, ombak yang kurasakan dipantai telah menarikku. Mereka membisikkan orchestra ombak untuk membantu memanggilku supaya aku dapat menerima siapa aku sebenarnya. Akulah air. Jangan disangkal lagi.
Akulah lautan yang menyambut Sang Bulan setiap kali ia muncul. Akulah lautan yang mendendangkan nyanyian ombak kepada siapa yang mendengarkan. Akulah lautan yang mampu mengikis batu karang terkuat manapun menjadi pasir.
Lautan adalah ibuku. Ibu, aku telah kembali..
T A M A T
***
Herli Surjadjaja, 10 Juni 2009


Komentar terakhir