08
Mar 10

Kemarin siang saya berjalan-jalan dengan Jimz dan keluarganya. Saat sedang berhenti dan duduk di suatu tempat, Jimz berniat membelikan saya minuman. Saya tetap duduk sementara Jimz berjalan ke sebuah pendingin elektrik untuk membelikan saya minum. Saya melihat dia setengah dipaksa oleh si penjual untuk membeli satu produk yang saya tahu dia tidak suka: teh kesehatan dengan rasa buah lengkeng.

Transaksi jual beli minuman akhirnya terjadi: Jimz membelikan saya satu botol teh dari satu merek tertentu dan Jimz sendiri mengambil soda untuk dirinya sendiri. Saya menghampiri Jimz untuk minum teh tersebut dan saya bilang ke Jimz, “wah enak..”

Si penjual yang tadi memaksakan menjual teh kesehatan tersebut tiba-tiba nyeletuk ke arah saya, “Tuh kan mba ga enak kan, pahit.. Mending tadi beli yang saya tawarin aja, yg rasa lengkeng, enak itu mba..”

Saya yang mendengar itu cuma bisa senyum-senyum melihat Jimz. Kan saya bilang enak, koq dia bilang tidak enak dan memaksa kalau “enak dan tidak enak” versi dia adalah sesuatu yang absolut?

Belakangan saya baru tahu dari Jimz kalau si penjual itu mendadak jutek waktu Jimz ngotot tidak membeli produk yang ia tawarkan. Mungkin si penjual banyak menemui pembeli yang cukup mendengarkan rekomendasi dari dia, lalu menurut untuk membeli produk yang ia tawarkan.

Dan sepertinya orang-orang yang menurut saja apa kata orang itu banyak jumlahnya. Saya kenal seseorang yang sering sekali merekomendasikan sesuatu hanya dengan berbekal “kata”. Yep.. “Kata”.

Kata si A, makanan di resto X ga enak“  atau “Kata si B, jangan belanja di supermarket Y, mahal-mahal..” dan masih banyak “kata” lainnya yang sering kali terucap dari mulutnya.

Berbekal perkataan orang lain, orang ini sudah menganggapnya sebagai kebenaran yang absolut. Dan orang ini tidak segan-segan meneruskan “nasihat-nasihat” tadi ke orang lain tanpa pernah merasakan sendiri. Apakah makanan itu benar-benar tidak enak? Apakah semua barang di supermarket itu mahal atau hanya barang-barang tertentu? Selera orang kan masing-masing. Patokan enak atau tidak enak, tergantung selera lidah yang mencicipi. Apalagi soal mahal atau tidak, itu tergantung dompet masing-masing.

Jangan hanya karena berbekal pendapat orang lain, kita meyakininya sebagai suatu kebenaran. Toh sudah hak kita untuk mencoba dan membuktikan sendiri, bukan karena ikut-ikutan semata. :)

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>