Sebenarnya saya dapat inspirasi untuk menulis kali ini sudah lumayan lama. Tepatnya waktu saya pertama kali membaca buku Membuka Pintu Hati yang ditulis oleh Ajahn Brahm.
“Nanti” itu kapan sih? Itu pertanyaan yang cocok sebenarnya untuk ditanyakan pada masyarakat kita. Saya cerita sedikit yah. Di buku Ajahn Brahm itu ditulis, kalau dulu waktu dia sekolah, orangtuanya menyuruhnya belajar supaya nanti bisa lulus ujian. Setelah lulus ujian, apakah dia bahagia dan menikmati kehidupannya?
Ternyata masih ada serentetan peristiwa untuk menghalagi “bahagia” itu. Ada ujian SD, ada ujian SMP, ada ujian SMA (belum lagi kalau di Indonesia, tiap tahun ada ujian kenaikan kelas). Lalu setelah lulus kuliah, kita diharapkan untuk cari kerja.
Sudah kerja, masih ada kata “nanti” yang menghalangi kita mencapai kebahagiaan itu. “Nanti kalau THR keluar..” atau “Nanti kalau naik jabatan..” atau “Nanti kalau projectnya tembus..” dan banyak “nanti” lainnya yang terselip di kalimat-kalimat kita.
Jadi “nanti” itu sebenarnya kapan?
Kenapa tidak bisa dilakukan sekarang saja? Kenapa musti tunggu pensiun sebelum akhirnya menikmati kalau sudah tidak bisa menikmati? Apa mesti cari uang sebanyak-banyaknya tanpa dinikmati? Apa mesti tunggu pensiun baru istiharat?
Saya sudah tidak kerja mulai tahun 2009 ini. Saya muak dengan politik kantor. Makasih deh kalau suruh saya kerja kantoran lagi. Dan kehidupan saya sekarang, sudah saya nikmati tanpa embel-embel “nanti”.
Lebih baik saya di rumah, cari kerjaan sampingan seperti terima project kecil-kecilan, mengikuti bisnis internet (baca: Paid To Click) dan yang terbaru ini, saya jualan pulsa. Ya memang tidak banyak tambahannya, tapi toh saya dan Jimz tetap bisa survive dengan 1 sumber penghasilan.
Memang terkesan menyia-nyiakan tenaga (karena sebenarnya saya sangat sehat untuk bekerja). Tapi kalau saya tidak nikmati sekarang, apa harus tunggu sampai saya bongkok atau jadi nenek-nenek untuk bisa menikmati kehidupan tanpa terikat pekerjaan?
Bisa dinikmati sekarang koq, kenapa tunggu “nanti” yang tidak pasti? Hihihihi..


[...] memang sudah pernah menulis soal ini sebelumnya, tapi belakangan ini saya seperti “dicubit” untuk menulis tentang topik yang [...]