Suatu sore beberapa minggu lalu, handphone saya berbunyi karena ada panggilan masuk. Saya melihat sekilas, nomor yang menelpon tidak saya kenal. Biasanya, saya langsung menolak panggilan seperti itu, tapi karena saya lihat nomor tersebut sudah pernah menghubungi saya beberapa hari sebelumnya, jadi kali ini panggilan itu saya terima.
Saya tidak ingat secara detil mengenai percakapan itu, intinya sih promosi menawarkan jasa online trading yang tidak saya minati. Sungguh-sungguh saya tidak berminat. Lalu saya ditanya alasan saya mengapa tidak berminat? Lah, namanya juga ga minat, ya ga minat.. Si penelpon masih berusaha mencari “target” berikutnya dengan bertanya pada saya apa mungkin ada diantara teman-teman saya yang berminat dengan online trading yang ditawarkan. Saya jawab tidak ada.
Sebenarnya mungkin saja ada dari sejumput teman-teman saya yang memang berniat pada bisnis online trading (sampai sekarang belum ada nama yang muncul di otak saya), tapi saya tidak rela memberikan nomor telepon teman saya ke telemarketer ini. Pelit? Ya apapun istilahnya, saya tidak rela.
Percakapan telepon berakhir tidak lama kemudian dan saya sedikit menyesal tidak menanyakan pada telemarketer itu siapa yang sudah memberikan nomor telepon saya kepadanya. Tapi yah sudahlah. Toh penawarannya sudah saya tolak.
Yang membuat saya risih sebenarnya bagaimana nomor saya bisa sampai ke tangan telemarketer itu pada awalnya. Siapa sih yang sudah menyebarkan nomor handphone saya ke orang yang tidak saya kenal, tanpa seijin saya? Tanpa seijin saya, itu yang membuat saya sebal.
Budaya berbagi memang ada positif dan ada negatifnya. Untuk kasus nomor handphone, saya termasuk yang cukup pelit memberikan nomor handphone, kecuali bila terpaksa dan memang penting.
Kasus yang paling sering memang kasus telemarketing. Saya pernah di telepon oleh penyedia jasa fasilitas kesehatan yang cukup ternama di Kelapa Gading beberapa tahun lalu, dan saya menolak memberikan rekomendasi nomor telepon teman saya untuk dijadikan “target” mereka selanjutnya. Alasannya? Karena saya tidak mau nomor handphone saya disebar-sebar sembarangan. *Kalau tidak mau dicubit, jangan mencubit.*
Saya pernah ditelepon oleh seorang penjual gorengan dekat kantor saya yang waktu itu berlokasi di Kelapa Gading. Saya cukup kaget dan bertanya ke rekan-rekan sekantor mengenai masalah ini. Yang memberikan sih mengaku kalau dia yang memberikan, tapi saya cukup terganggu dengan SMS dan telepon yang bersumber dari si abang gorengan tadi. Gak lucu kan kalau saya harus ganti nomor handphone hanya demi menghindar dari si abang gorengan ini.
Dulu waktu saya SMU, saya diberitahu oleh koko saya yang memang sempat tinggal di Amerika selama satu tahun. Di Amerika sana, nomor telepon itu tidak diberikan dengan sembrono seperti disini. Di Amerika, warganya menghargai privasi orang lain, jadi kalau ingin memberikan nomor telepon seseorang ke orang lain, sebaiknya ijin dulu ke pemilik nomor itu.
Lain halnya dengan disini, di Indonesia, di Jakarta lebih detilnya. Di kantor lama saya di daerah Kuningan, saya mencoba untuk menghindar setiap kali ditanya nomor handphone dan memberitahu kalau mencari saya, bisa ke extension di kantor saja. Tapi akhirnya saya tidak bisa mengelak lebih jauh lagi karena memang saya yang waktu itu bertanggungjawab pada satu server yang jalan sampai larut malam bila sedang deadline. Saya hanya memberi nomor saya ke satu orang. SATU ORANG. Dampaknya? Hanya dalam waktu singkat, seluruh kantor itu tahu nomor telepon saya!
Saya bukan mau mengelak dari tuduhan “pelit” atau “sombong”. Saya hanya merasa akan lebih nyaman mengetahui siapa yang mempunyai nomor telepon saya. Terlebih lagi nomor handphone yang saya anggap cukup pribadi. Kalau saya ingin memberikan nomor saya, ya saya akan berikan. Bila tidak, ya saya tidak akan berikan. Intinya sih permintaan ijin itu.
Kalau mau memberi nomor telepon seseorang ke orang lain, ijin dulu lah, daripada timbul masalah di kemudian harinya.
*Selamat Hari Blogger Nasional 2009*


wah kalau saya tahu no u karena diksh tahu ama sistem, gimana tuh?
Setuju banget!
@Dashyat: itu kan memang saya yang kasih, jadi berarti ok2 aja tuh..
@Sintha: udah gw duga lu bakal setuju