Beberapa hari ini saya sering mendengar kalimat ini dari sebuah iklan di televisi. Forgive and forget, memaafkan dan melupakan. Saya sendiri kurang setuju sepenuhnya dengan kalimat itu.

Kalimat itu memang biasanya dipakai orang untuk saat ada suatu kejadian buruk yang menimpa mereka. Kejadian yang tidak ingin mereka ingat. Kejadian dimana mereka merasa sebagai korban (atau memang benar-benar korban) yang terluka, baik secara fisik, emosional, atau finansial.

Hidup memang akan menjadi lebih enteng bila sudah memaafkan. Tapi untuk melupakannya?

Bila itu sebuah kejadian yang traumatik, saya setuju kalau kita harus setidaknya berusaha melupakan. Tapi bila hanya sesuatu yang buruk, yang tidak berdampak traumatik, saya tidak setuju bila kejadian itu harus dilupakan. Tapi dengan syarat, kita sudah memaafkan. Kalau hanya mengingat tapi belum memaafkan, itu namanya dendam.

Yang saya mau tulis disini mengambil contoh kejadian yang tidak berdampak traumatik.

Bila kita sudah benar-benar tulus memaafkan semua kejadian buruk yang menimpa kita lalu melupakannya, sayang sekali bukan? Semua kenangan, baik atau buruk, tentu saja menyumbang pembentukan diri kita sekarang, sekecil apapun efeknya.

Kita cenderung melupakan semua kejadian buruk yang menimpa kita dan pada akhirnya, lupa juga untuk memetik hikmahnya. Padahal kalau kita sudah berhasil melihat “silver lining” di setiap kejadian buruk, bisa jadi kita tidak mengalami kejadian serupa, karena kita sudah belajar.

Forgive and Forget, buat saya, tidak cocok untuk diaplikasikan kesemua kejadian buruk. :)

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>