“Kasihan yah dia..“, “Yah, sayang banget yah..” atau “Coba dia begini..“. Tiga kalimat yang mungkin sering dilontarkan orang terhadap orang lain yang tidak tergabung dalam kelompoknya. Eksklusif.
Banyak lho, yang beranggapan kelompok dimana dia berada adalah yang paling benar. Diluar kelompoknya.. yah.. salah.. Sebuah contoh sederhana: Saya bukan tipe wanita penggila fashion, masak, belanja, atau “kebutuhan” wanita lainnya. Bagi wanita yang masuk kelompok yang gemar fashion, masak, belanja dst saya bakal kena cap: “Bukan Wanita”. Plis dong ah.. Ini kan masalah ketertarikan. Masa kalau tidak tertarik, harus memaksakan diri untuk tertarik?
Itu baru contoh paling sederhana. Kalau sudah rumit dan menyangkut masalah sensitif, bakal lebih panjang lagi urusannya. Masing-masing kelompok seakan tidak mau kalah dengan masing-masing pendapatnya. Kelompoknyalah yang paling benar! Wow.. Eksklusif.
Seperti sebuah adegan di film Family Ties yang saya tonton kemarin, antara bapak sama anak saja bisa berbeda pendapat (misalnya saja soal berburu, politisi dst ). Masing-masing berpegangan dengan ide kelompok yang dipegangnya. Dan mereka bisa ribut mulut berdebat tanpa akhir.
Padahal, sebenarnya kan simpel saja. Kalau masing-masing kelompok bisa menghargai pendapat kelompok lainnya, harusnya tidak masalah kan? Itupun dengan syarat, tidak ada yang mengganggu (baca: menjelek-jelekkan) pendapat kelompok lainnya. Tapi kenyataannya tidak selalu sesuai dengan teori. *seperti biasa*
Semua masalah ada jalan keluarnya. Bila tidak ada jalan keluar, maka tidak ada masalah. Kira-kira begitulah yang ditulis Ajahn Brahm di buku Membuka Pintu Hati (a.k.a. Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya).

Komentar terakhir