Sebelum memulai tulisan, saya ingin berbagi cerita mengenai Anjing dan Rumah Seribu Cermin:
Dahulu kala, disebuah desa yang sangat jauh ada tempat terkenal yang bernama rumah seribu cermin. Seekor anjing kecil yang periang mempelajari tentang rumah itu dan memutuskan untuk mengunjunginya. Setibanya disana, dia menaiki tangga rumah tersebut dengan melompat riang menuju pintu rumah itu. Telinganya terangkat tinggi dan ekornya bergoyang sangat cepat. Dia terkejut ketika memasuki rumah itu dan melihat seribu anjing kecil dan periang lainnya dan ekor yang bergoyang secepat ekornya. Dia pun tersenyum dan seketika dibalas juga dengan senyuman hangat dan bersahabat seribu ekor anjing lainnya dirumah itu. Ketika dia meninggalkan rumah itu, dia berkata pada dirinya, “sebuah tempat yang indah. Aku akan kembali lagi untuk berkunjung lebih sering.”
Ditempat yang sama, seekor anjing kecil yang terlihat tidak bahagia seperti anjing yang pertama memutuskan untuk mengunjungi rumah tersebut. Dengan perlahan dia menaiki tangga rumah tersebut dengan kepala menunduk. Ketika dia memasuki rumah tersebut, dia melihat seribu ekor anjing yang juga terlihat tidak bahagia memandanginya. Dia pun menggonggong dan seketika dibalas pula oleh gonggongan seribu ekor anjing dirumah itu. Ketika dia meninggalkan tempat tersebut, dia berkata pada dirinya, “ini tempat yang mengerikan dan aku tidak akan pernah kembali lagi kesini.”
Tanpa mengurangi nilai-nilai manusia dan menyamakan manusia dengan seekor anjing (<- untuk beberapa orang yang mungkin tersinggung dengan penyamaan figur anjing dengan manusia), kita tak ubahnya anjing kecil itu. Tergantung mana yang kita pilih, apakah kita akan memberi senyum pada orang lain, atau malah menghardik semua orang seperti musuh.
Kita sering mengocehkan sesuatu, cuap-cuap nasehat, kata pepatah, atau kalimat-kalimat bijaksana ke orang lain, tapi mungkin kita tidak sadar kalau kita sedang menasehati diri kita sendiri. Saya yang sedang menulis juga tidak luput dari ini. Saya sedang “ditempeleng” oleh tulisan saya sendiri. Nasihat saya bukan semata-mata ditujukan kepada orang lain, tapi lebih ke diri sendiri dulu.
Saya, sekali lagi, sedang diomeli oleh tulisan saya sendiri. Sebagaimana kita mau dipandang oleh orang lain, itulah yang kita lakukan. Kalau kita mau dihargai, belajarlah menghargai. Kalau tidak mau dipandang rendah orang, jangan memandang rendah orang. Kalau tidak mau di-jutek-in orang, jangan jutek-in orang. Cermin.
Lanjut lagi ke hal yang lain lagi. Saya dan Jimz sering mendiskusikan hal ini sebenarnya. Yang sudah saya tulis diatas adalah kalau kita diposisi sebagai seekor anjing kecil itu. Sekarang saya balik ya, melihatnya dari sudut pandang cermin itu.
Kalau bahagia itu menular, begitu juga perasaan yang lain seperti kesal, bete, atau putus asa. Berapa banyak akun Facebook yang berstatuskan omelan atau cacian? Kebayang dong kalau kita di posisi cermin dalam cerita diatas, lalu berhadapan dengan status seperti itu, perasaannya akan bagaimana. Lebih baik cari status yang bahagia aja, biar kita bisa ikutan bahagia.
Ada orang yang HANYA merefleksikan apa yang diterimanya dari orang lain. Misalkan saja saya ini jadi “cermin” dan ada orang dengan keras kepala memaksakan pendapatnya kepada saya. Karena saya berfungsi sebagai “cermin”, maka saya akan balik keras kepala lagi menolak pendapatnya. Saya bisa mati-matian menolak pendapat dari orang itu kalau saya sedang memposisikan diri sebagai “cermin” padahal mungkin saya setuju-setuju saja dengan pendapatnya. Sukur-sukur orang tadi ngeh kalau dirinya sedang memaksa. Batu kalau di cermin kan akan terlihat sebagai batu.
Bukan tidak mungkin sih orang itu tidak ngeh dan malah men-cap saya (yang pada saat itu sedang berfungsi sebagai “cermin”) sebagai orang yang amat keras kepala. *lho, maling koq teriak maling?*
Yah, eniwei, tulisan kali ini murni sebagai cermin untuk saya. Bila ada yang sedang bercermin juga, ya monggo.


Komentar terakhir