Cerita dibawah ini, sedang saya ajukan ke rubrik Gado-Gado di majalah Femina, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya. Sampai hari ini belum ada keputusan atau pemberitahuan dari redaksi majalah itu, apakah tulisan saya akan dimuat atau tidak. Mungkin masih suasana liburan ya. :D

Cerita yang sama, akan saya tulis disini. Lumayan juga lho, 3 halaman folio dan dengan dua spasi.

Semoga saja berhasil dimuat. *crossing my fingers*

Anak anjing berwarna coklat itu muncul dirumah Jimz saat berusia dua bulan dan mempunyai panjang tidak lebih dari 30 cm. Saat itu ia tidak bernama dan semua memanggilnya dengan sebutan “si cowok”.

Dari mulai sampai di rumah Jimz, “si cowok” kelihatan sekali manjanya. Walaupun masih berusia dua bulan, tapi kalau tidur, selalu berusaha memanjat ke kasur Jimz dan tidur di kaki Jimz. Padahal untuk jalan saja belum lurus, tapi sudah berusaha memanjat-manjat kasur.

Suatu hari saat ingin berjalan-jalan ke suatu tempat, Jimz nyeletuk, “Bedul ini dibawa?”, sambil menunjuk ke arah anak anjing itu. Mama Jimz langsung mendapatkan ide nama yang pas untuk anak anjing tersebut, yaitu Dule, singkatan dari Bedul dan Elek. Elek dalam bahasa Jawa berarti jelek. Saya dan Jimz tidak rela kalau namanya Dule, jadi akhirnya Jimz memutuskan memanggilnya dengan nama Aboy. Walaupun begitu, mertua saya tetap memanggil Aboy dengan panggilan Dule.

Sifat manja Aboy terbawa sampai Aboy agak besar. Ia menganggap Jimz sebagai bos nya. Kemana-mana ngikut. Tidur pun satu ranjang dengan Jimz, tepat dipunggungnya. Kalau Jimz pergi, Aboy minta ikut. Saat Jimz meninggalkan rumah, orang rumah melaporkan Aboy menunggu di depan pintu, berharap bos nya untuk cepat pulang. Aboy seperti kehilangan semangat hidup saat tidak ada Jimz didekatnya. Saat itu saya belum menikah dengan Jimz, masih pacaran. Jadi beberapa kali dalam seminggu, pasti Aboy akan ditinggal bosnya, karena bos nya sedang apel dirumah saya. Hehehe.., maaf ya, Boy..

Jimz pun sayang sekali dengan Aboy, Aboy dianggap anak sendiri karena tingkah Aboy yang mirip anak kecil. Jadi sebelum menikah, Jimz seperti sudah latihan punya anak duluan.

Aboy suka sekali bermain petak umpet dengan bosnya. Ini permainan favorit Aboy. Bosnya akan sembunyi dibelakang pintu kamar saat Aboy tidak memperhatikan. Lama-lama, Aboy akan langung mencari dibelakang pintu kamar, hanya karena Jimz sering ngumpet disitu. Saat pindah tempat ngumpet, Aboy akan kebingungan dan melontarkan protes ke seisi rumah karena tidak menemukan bosnya.

Saya sering berkunjung ke rumah Jimz sewaktu masih pacaran. Minimal sekali dalam seminggu. Jadi saya cukup dekat dengan Aboy. Saya juga sering menginap disana. Tidurnya, menggelar kasur gulung di ruang keluarga, ditemani Jimz dan Aboy.

Karena Aboy selalu ikut kemana Jimz pergi, tidur pun disebelah Jimz. Posisi Aboy selalu ada di punggung, dan biasanya saat saya menginap, Aboy menempatkan dirinya diantara saya dan Jimz, diantara dua kasur gulung diruang keluarga.

Jimz berhasil mengajarkan Aboy untuk duduk. “Duduk” adalah satu-satunya perintah yang dikenal Aboy selain “Sini !”. Apapun perintah kami kepadanya, Aboy akan duduk.

“Boy, ayo guling…”. Aboy akan duduk.

“Boy, ayo coba putar..”. Aboy akan duduk.

Aboy sangat ahli dalam ilmu memelas. Bila kami sedang makan, Aboy akan duduk diantara kaki saya dan mulai membuat mimik yang memelas, dengan kulit muka berkerut dan memandang keatas kearah saya. Kalau sudah begitu, biasanya saya luluh dengan tatapan memelasnya, dan akhirnya membagi sedikit makanan dengan Aboy.

Karena saya sering berkunjung ke rumah Jimz dari sejak masa pacaran, Aboy sudah mengenal saya. Pernah suatu kali, saat saya mengungsi ke rumah Jimz lantaran banjir, saya pulang kerja lebih dulu dibanding Jimz. Kontan Aboy melihat saya langsung mencari bos nya. Terukir dipikirannya, bila ada saya berarti ada bosnya. Biasanya, tidak lama setelah saya pulang, Jimz pulang. Mungkin Aboy berpikir saya menyembunyikan bosnya, hanya suatu permainan petak umpet yang disukainya. Jadi setelah Aboy melontarkan gonggongan protes kearah saya, ia akan menyisir satu rumah, untuk menemukan bosnya, dimulai dengan belakang pintu kamar. Saat tidak ketemu dimana-mana, Aboy akan duduk dengan telinga mendengarkan di pintu depan, menunggu bosnya pulang. Kejadian itu berlangsung berulang kali.

Sekarang saat saya sudah tinggal dirumah Jimz, kejadian itu tetap berlangsung kalau saya pulang lebih dulu. Bedanya, sepertinya Aboy sudah mulai mengerti kalau saya tidak menyembunyikan bosnya. Bosnya memang belum pulang. Jadi setelah melancarkan gonggongan protes ke arah saya, Aboy akan duduk dengan tenang di pintu depan, menunggu bosnya kembali pulang.

Pernah suatu malam, Jimz pulang lebih dahulu dan saya belakangan. Saat saya pulang, Aboy meluncur ke pintu depan untuk menyambut bosnya. Padahal bosnya sudah pulang dan sedang mandi. Karena kebiasaan saya pulang lebih dulu dibanding suami saya, Aboy berpikir: “pasti sebentar lagi bos pulang nih” saat melihat saya, dan tidak ngeh kalau bosnya sebenarnya sudah pulang. Seisi rumah menertawakan aksi konyolnya itu. Hahaha..

Yang membuat saya dan Jimz bingung adalah saat menjelang pernikahan kami, “Nanti Aboy bagaimana?”, karena Aboy biasanya tidur dipunggungnya. Masak ranjang kami nanti akan ditempati bertiga, saya, Jimz dan Aboy? Bakal kasihan sekali kalau Aboy menguik-nguik didepan pintu kamar karena terpisahkan dari bosnya. Akhirnya terjadi kesepakatan: Aboy boleh masuk kamar, tapi tidak naik ke ranjang. Jadi tiap malam, Aboy akan diseludupkan masuk ke kamar, dan tiap dini hari, saat Aboy menguik dan mencolek Jimz meminta keluar kamar, Jimz akan bangun untuk membukakan pintu kamar.

Saking sayangnya kami pada Aboy, hampir selalu ada stok Chic Choc dirumah untuk dimakan bersama. Selain doyan Chic Choc, Aboy suka memainkan plastik pembungkus Chic Choc-nya. Biasanya setelah Chic Choc habis, Aboy akan duduk dengan mimik memelas sambil memandangi bungkus Chic Choc yang sudah kosong. Wah kalau sudah memelas, biasanya saya luluh dan memberikan bungkus kosong itu untuk dijadikan mainan Aboy.

Pernah suatu kali, karena pintu pagar tidak ditutup dengan benar, Aboy pergi keluar rumah. Saat itu siang hari dan Jimz tidak berada dirumah. Aboy tidak pernah diajak berjalan-jalan disekitar rumah, Jadi Aboy tidak mengenali lingkungan sekitar dan pasti tersesat. Orang rumah mencari-cari Aboy disekitar rumah. Untung belum jauh, Aboy ditemukan!

Begitu kejadian ini diketahui oleh Jimz, ia langsung mengomeli Aboy, saking khawatir Aboy akan tersesat dan tidak akan bertemu dengan bosnya kembali.

Saking sayangnya Jimz pada Aboy, saya sering meledek, “Wah, pulang kerja langsung cium Aboy, bukan cium istrinya.” Dan dibalas oleh Jimz, “Yah, cemburunya koq sama doggie sih?” Hahahaha..

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>