Tepat ditebing inilah ia berdiri, bertahun-tahun yang lalu.
Bertahun-tahun yang lalu, ditebing ini ia memutuskan untuk menjadi pengabdi setia untuk raja. Ditebing ini ia berangkat untuk menjadi prajurit kerajaan. Ketebing ini pula ia kembali.
Hembusan angin membawa ingatannya ke masa bertahun-tahun yang lalu.
Ketika itu ia hanya memiliki sedikit pilihan: bertani atau menjadi prajurit. Ia menetapkan hati untuk menjadi prajurit, dengan harapan bisa melakukan sesuatu untuk membuat keadaan lebih baik. Ia memilih menjadi prajurit, bertahun-tahun yang lalu.
Ia kembali kesini, ketebing ini, setelah serentetan kejadian yang menerpa kehidupannya beberapa waktu silam.
Dimulai dengan bergabungnya ia dengan pasukan prajurit kerajaan. Lalu perjumpaannya dengan seorang gadis di desa tempat ia ditempatkan oleh raja. Ia menikahi gadis itu disana. Ia menjadi bagian dari desa itu.
Hatinya sedikit gundah saat ia melihat sosok elok yang merupakan dayang ratu. Bukan sekali dua kali tatapannya beradu pandang dengan tatapan dayang itu. Tatapan yang hening. Ada pengertian dibalik tatapan yang seakan berbicara dari hati ke hati sementara tak sepatah kata pun keluar dari mulut masing-masing.
Tidak ada yang terjadi lebih dari sebatas lirikan, ia bukanlah pria yang serakah. Ia tetap bersama istrinya yang hanya penduduk desa. Musim berganti musim. Tahun berganti tahun dan ia tetap setia pada istrinya.
Tetapi bulan itu.. Bulan itu ia melihat bagaimana hujan tidak turun dan panen gagal. Ia melihat saat raja memerintahkan penarikan pajak yang seperti tidak mau tahu dengan keadaan desa yang sudah sengsara itu.
Bulan itu ia berusaha mendekati penasihat raja supaya penasihat itu bisa menjelaskan keadaan desanya kepada raja. Bulan itu ia melihat eksekusi penasihat itu karena dianggap lancang terhadap kekuasaan raja. Dan bulan itu ia melihat adik raja bunuh diri dihadapan raja.
Bulan itu raja seperti menjadi gila setelah kehilangan penasihatnya, lalu adiknya. Bulan itu raja memerintahkan memusnahkan desa yang dianggap menjadi sumber kekacauan diistananya. Istrinya hanya salah satu korban. Hanya salah satu dari sekian banyak.
Bulan itu, desanya hancur. Perang sesama penduduk desa ikut menghancurkannya. Terbelah antara pihak yang setia pada raja atau pihak yang memberontak.
Ia sendiri, terjebak dengan sumpahnya melayani kerajaan. Terjebak dengan sumpahnya untuk melayani raja yang telah memerintahkan pemusnahan desanya.
Kebenciannya kepada kekuasaan dan orang yang memanfaatkan kekuasaannya membekas dihatinya. Raja telah mengkhianatinya. Kesetiaannya pada raja dibalas dengan penghancuran desanya.
Disinilah ia menangis. Di tebing ini. Ia tidak mampu melakukan apa-apa. Ia hanya bisa menangis..
***
Herli Surjadjaja, 11 Mei 2009 – 13 Mei 2009


Komentar terakhir