Aku berdiri. Sebuah ranjang dorong yang biasa dipakai di rumah sakit ada didepanku. Diatasnya terdapat seorang prajurit yang berdarah-darah.
Aku berdiri. Mematung. Tanpa ekspresi, tanpa emosi. Aku kebal. Kebal terhadap tangisan, rintihan dan ratapan. more…
Selamat Ulang Tahun.
Ingin sekali kuucapkan tiga kata itu kepada orangnya langsung. Tapi itu adalah hal yang tak mungkin. Sudah bertahun-tahun aku tidak melihat wajahnya, atau bahkan menemui tanda-tanda keberadaannya disekelilingku. more…
Pantai.. Samar-samar aku mengingat sesuatu mengenai pantai. Pantai sepi dengan pasir putih yang halus. Laut berwarna biru kehijauan membentang sepanjang garis horizon. Langit cerah tanpa matahari. Aku pernah kesana, ingatku. Entah kapan.
Aku melihat sekelilingku dan yang kulihat hanya air. Aku berada di dalam air. Didalam lautan luas. Kapan aku melangkah lebih jauh kearah lautan? Aku tidak ingat. Aku tak mampu mengingat. more…
Aku berdiri dipinggir pantai. Laut didepanku dan beberapa pepohonan rimbun dibelakangku. Ombak kecil memecah didepanku. Langitnya terlihat terang, tapi matahari tidak terlihat diarah manapun. Matahari itu pasti menghilang ditutup awan lembut yang merata diseluruh langit.
Pantai ini luas, dan berpasir putih. Lembut sehalus debu halus, bukan kerikil kasar yang biasa. Ini pasir dengan butiran-butiran sangat halus, jenis yang tidak akan melukai kaki manapun yang berjalan diatasnya. Dan warnanya putih, sangat bersih. more…
Kepada Ibunda Ratu,
Ibu pasti bisa melihat keadaan kerajaan kita sepeninggal Ayahanda Raja. Lihatlah Bu..
Aku tahu penasihat adalah teman adik dari kecil. Tapi aku sama sekali tidak menyangka adik akan bunuh diri demi menyusulnya. Aku sama sekali tidak mengerti mengapa adik akan melakukan hal yang menyakitkanku seperti itu.
Penasihat itu sudah lancang, Bu. Ia melangkahi kekuasaanku sebagai raja. Akulah raja disini, Bu, bukan dia.
more…
Tepat ditebing inilah ia berdiri, bertahun-tahun yang lalu.
Bertahun-tahun yang lalu, ditebing ini ia memutuskan untuk menjadi pengabdi setia untuk raja. Ditebing ini ia berangkat untuk menjadi prajurit kerajaan. Ketebing ini pula ia kembali.
Hembusan angin membawa ingatannya ke masa bertahun-tahun yang lalu.
more…
Ah, itu dia lagi. Dan lirikan itu lagi. Siapa yang sanggup tahan dengan lirikan itu. Lirikan yang mampu membuat hatiku meleleh.
Tapi semua orang juga tahu, hubungan kami adalah mustahil. Aku tidak bisa menikah. Bagaimana aku bisa menjalin hubungan dengan seorang pria kalau aku adalah milik ratu?
Sementara ia adalah kepunyaan raja, prajurit terdepannya.
Hubungan kami mustahil. Mustahil dalam kehidupan ini..
—
more…
Komentar terakhir