<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Perjalanan seorang Herli &#187; prosa</title>
	<atom:link href="http://herli.web.id/category/prosa/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://herli.web.id</link>
	<description>"because writing is, like death, a lonely business." - Neil Gaiman</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Jul 2010 10:12:29 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Aku sudah tidak muda lagi</title>
		<link>http://herli.web.id/aku-sudah-tidak-muda-lagi.html</link>
		<comments>http://herli.web.id/aku-sudah-tidak-muda-lagi.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 12:19:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herli</dc:creator>
				<category><![CDATA[cuap-cuap]]></category>
		<category><![CDATA[prosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herli.web.id/?p=2420</guid>
		<description><![CDATA[Aku sudah tidak muda lagi
Tidak seperti dulu lagi
Aku lemah dan tua
Jadi saat kau pertemukan aku dengan musuhku
Bayangkan kondisiku
Bayangkan perasaanku
Jadi saat kau bawa aku ke tempat asing
Bayangkan ketakutanku
Bayangkan perasaanku
Jadi saat aku terjatuh dan kau tidak menolongku
Bayangkan kesakitanku
Bayangkan perasaanku
Jadi saat aku tidak bisa berdiri karena lemah
Bayangkan ketidakberdayaanku
Bayangkan perasaanku
Aku sudah tidak muda lagi
Jadi kumohon berhentilah memperlakukanku
Seperti semuanya baik-baik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku sudah tidak muda lagi<br />
Tidak seperti dulu lagi<br />
Aku lemah dan tua</p>
<p>Jadi saat kau pertemukan aku dengan musuhku<br />
Bayangkan kondisiku<br />
Bayangkan perasaanku</p>
<p>Jadi saat kau bawa aku ke tempat asing<br />
Bayangkan ketakutanku<br />
Bayangkan perasaanku</p>
<p>Jadi saat aku terjatuh dan kau tidak menolongku<br />
Bayangkan kesakitanku<br />
Bayangkan perasaanku</p>
<p>Jadi saat aku tidak bisa berdiri karena lemah<br />
Bayangkan ketidakberdayaanku<br />
Bayangkan perasaanku</p>
<p>Aku sudah tidak muda lagi<br />
Jadi kumohon berhentilah memperlakukanku<br />
Seperti semuanya baik-baik saja</p>
<p>***<br />
Herli Surjadjaja, 22 Maret 2010<br />
<em>untuk Cicut.. yang terbaring lemah..</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herli.web.id/aku-sudah-tidak-muda-lagi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Balada Seekor Aboy</title>
		<link>http://herli.web.id/balada-seekor-aboy.html</link>
		<comments>http://herli.web.id/balada-seekor-aboy.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Dec 2009 00:33:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herli</dc:creator>
				<category><![CDATA[prosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herli.web.id/?p=2335</guid>
		<description><![CDATA[Setiap malam,
aku tidur bersama bos dan istrinya.
Tempatku,
hanya di sehelai bedcover yang menjuntai.
Malam ini,
aku sedang diluar kamar.
Aku ingin masuk,
tiada yang bangun untuk membukakan pintu.
Istri bos,
terbangun jam dua pagi,
Istri bos,
yang akhirnya membukakan pintu.
Tapi,
kenapa bukan bos yang membukakan pintu?
Apakah,
bos sedang marah padaku?
Kuputuskan,
untuk mencolek bos dari sisi ranjang.
Bos berpikir,
aku meminta untuk keluar.
Akhirnya,
bos terhuyung bangun membukakan pintu.
Tapi aku tidak mau,
dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap malam,<br />
aku tidur bersama bos dan istrinya.<br />
Tempatku,<br />
hanya di sehelai <em>bedcover</em> yang menjuntai.</p>
<p>Malam ini,<br />
aku sedang diluar kamar.<br />
Aku ingin masuk,<br />
tiada yang bangun untuk membukakan pintu.</p>
<p><span id="more-2335"></span>Istri bos,<br />
terbangun jam dua pagi,<br />
Istri bos,<br />
yang akhirnya membukakan pintu.</p>
<p>Tapi,<br />
kenapa bukan bos yang membukakan pintu?<br />
Apakah,<br />
bos sedang marah padaku?</p>
<p>Kuputuskan,<br />
untuk mencolek bos dari sisi ranjang.<br />
Bos berpikir,<br />
aku meminta untuk keluar.</p>
<p>Akhirnya,<br />
bos terhuyung bangun membukakan pintu.<br />
Tapi aku tidak mau,<br />
dan bos kembali tidur dengan kesal.</p>
<p>Besok pagi,<br />
aku pasti dimarahi.<br />
Karena dituduh,<br />
membuat bos tidak nyenyak tidur.</p>
<p>&#8211;<br />
<em>*diangkat dari kisah nyata*</em><br />
Herli Surjadjaja, 26 Des 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herli.web.id/balada-seekor-aboy.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prosa: Lari dari Hujan (Bagian 3/3)</title>
		<link>http://herli.web.id/prosa-lari-dari-hujan-bagian-33.html</link>
		<comments>http://herli.web.id/prosa-lari-dari-hujan-bagian-33.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 13:55:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herli</dc:creator>
				<category><![CDATA[prosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herli.web.id/?p=2174</guid>
		<description><![CDATA[Tiga tahun yang lalu
Ini kali pertamanya aku memberanikan diri untuk menelpon kembali kerumah orangtuaku, menanyakan kabar mereka.
Ibuku yang menjawab telepon itu. Beliau langsung menanyakan tentang keberadaan serta keadaanku. Aku menjawab seadanya. Kujawab bahwa sejak aku lari dari rumah kontrakan itu, aku pindah kekota lain, memulai lembaran baru bagi hidupku.
Kukatakan pada ibuku bahwa aku menjadi pelayan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tiga tahun yang lalu</strong></p>
<p>Ini kali pertamanya aku memberanikan diri untuk menelpon kembali kerumah orangtuaku, menanyakan kabar mereka.</p>
<p>Ibuku yang menjawab telepon itu. Beliau langsung menanyakan tentang keberadaan serta keadaanku. Aku menjawab seadanya. Kujawab bahwa sejak aku lari dari rumah kontrakan itu, aku pindah kekota lain, memulai lembaran baru bagi hidupku.</p>
<p>Kukatakan pada ibuku bahwa aku menjadi pelayan sebuah restoran sejak dua belas tahun yang lalu dan sekarang sedang membina hubungan dengan seorang laki-laki pelanggan restoran tempatku bekerja.</p>
<p>Kukatakan pada ibuku bahwa kami akan segera menikah tahun depan. Ibuku tidak menjawab, tapi aku yakin ia pasti berkaca-kaca tersenyum bahagia.</p>
<p>Ini kali pertamanya aku memberanikan diri untuk menelpon kedua orangtuaku dan meminta restu mereka.</p>
<p><strong><span id="more-2174"></span>Dua tahun yang lalu</strong></p>
<p>Ini pertama kalinya aku melihat kedua orangtuaku sejak peristiwa dirumah kontrakan itu. Mereka terlihat bahagia dengan pernikahanku.</p>
<p>Pernikahanku hanya dihadiri oleh keluarga terdekat dari dua keluarga.</p>
<p>Tak terasa air mata mulai bergulir dipipiku. Tak pernah sekalipun kusadari sampai detik ini betapa aku merindukan mereka. Cepat-cepat kusapu air mataku untuk menghindari pertanyaan suamiku.</p>
<p>Ia adalah seorang yang baik, suamiku itu. Ia menerimaku bahkan setelah kukatakan aku bukanlah seorang gadis lagi. Ia tidak menuntut banyak. Ia benar-benar mencintaiku dan aku mencintainya.</p>
<p><strong>Seminggu yang lalu</strong></p>
<p>Ingatan itu terus menghantuiku.</p>
<p>Aku masih sering terbangun dimalam hari, menangis diam-diam karena takut terdengar oleh suamiku yang masih tidur. Aku menangis menggantikan air mata yang tidak sempat keluar lima belas tahun yang lalu.</p>
<p>Ternyata aku masih lemah. Aku tidak sekuat yang kupikirkan dulu. Aku masih tidak sanggup memulai lembaran baru. Aku masih takut untuk kembali mengandung.</p>
<p>Kuputuskan untuk kembali ke rumah kontrakan itu untuk mengatasi rasa traumaku.</p>
<p><em>Lusa.. Ya, lusa aku akan kembali kesana.</em></p>
<p><strong>Kemarin</strong></p>
<p>Sudah lima hari berturut-turut aku bolak-balik kembali ke rumah itu tanpa berhasil mengatasi rasa takutku. Semua ingatan terasa terputar kembali saat aku melihat rumah itu.</p>
<p><em>Besok saja, aku akan kembali besok.</em></p>
<p><strong>Sekarang</strong></p>
<p><em>Tidak akan ada lain kali. Aku harus melakukannya sekarang</em>.</p>
<p>Aku sudah berjalan menjauh berapa langkah sewaktu kurasakan kakiku membawaku kembali kembali menghampiri rumah tua itu. Kumantapkan langkahku dan kukebalkan semua inderaku melawan rasa takutku untuk memasuki rumah itu.</p>
<p>Hari ini adalah hari yang cerah dengan matahari memancarkan sinarnya yang paling kuat. Tidak terlihat seberkas awanpun dilangit.</p>
<p>Rumah itu masih kosong, tidak pernah ada yang bersedia tinggal di rumah itu sejak kejadian lima belas tahun yang lalu. Rumput serta ilalang tumbuh tidak teratur di halamannya dan tampak cat di dinding luar bangunan itu sudah mulai mengelupas termakan cuaca.</p>
<p>Aku terus melangkah menuju pintu depan rumah itu. Semua kenangan itu seakan terjadi kembali disekelilingku. Hujan yang rintik-rintik di halaman basah, selimut tipis yang menutupi tubuhku melawan hawa dingin, secangkir teh manis hangat, rasa sakit itu, napasku yang sepotong-sepotong, teriakanku dipintu depan, hujan.. hujan rintik itu..</p>
<p>Aku merasakan napasku sesak.</p>
<p><em>Aku harus bisa. Aku harus kuat.</em></p>
<p>Pintu depan itu tidak terkunci dan dapat kubuka dengan mudah. Pintu itu mengernyit dan berayun menerbangkan debu yang menumpuk dirumah itu. Semuanya masih sama. Kursi di dekat jendela, meja dan lemari. Semuanya masih di posisi yang sama saat kutinggalkan lima belas tahun yang lalu.</p>
<p>Kutelusuri rumah itu menuju kamarku di rumah itu. Aku masuk ke ruangan itu, duduk di ranjang berdebu dan membiarkan diriku melebur masuk dalam kenangan lima belas tahun lalu. Pelan-pelan ingatan itu mulai menjadi bagian dari diriku. Kurasakan semua sensasinya meresap masuk sampai ketulangku.</p>
<p>Aku menerimanya.</p>
<p><em>Inilah aku. Inilah kehidupanku. Yang lalu tidak dapat diubah.</em></p>
<p>Sudah sore sewaktu aku tersadar kembali ke masa kini. Aku keluar dari kamar itu, dari bangunan itu, kali ini dengan tersenyum.</p>
<p><em>Terima kasih atas semua pengalaman dan pelajaran berharga itu. Tanpa pengalaman itu, aku tak mungkin menjadi aku yang sekarang.</em></p>
<p>Saat aku pulang menemui suamiku malam ini, aku bukanlah orang yang sama. Aku telah menjadi orang yang kuat. Orang yang siap membuka lembaran baru kehidupan bersama suamiku.</p>
<p>TAMAT<br />
***<br />
Herli Surjadjaja, 10 November 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herli.web.id/prosa-lari-dari-hujan-bagian-33.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prosa: Lari dari Hujan (Bagian 2/3)</title>
		<link>http://herli.web.id/prosa-lari-dari-hujan-bagian-23.html</link>
		<comments>http://herli.web.id/prosa-lari-dari-hujan-bagian-23.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 13:53:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herli</dc:creator>
				<category><![CDATA[prosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herli.web.id/?p=2172</guid>
		<description><![CDATA[Aku terpaksa meninggalkan sekolah dan diasingkan ke pedalaman ini oleh orangtuaku sendiri. Mereka tetap membiayai kebutuhan sehari-hariku dengan syarat tidak ada yang boleh tahu aku hamil diluar nikah. Jadi sebuah cerita untuk menutui aib inipun diciptakan: aku adalah seorang janda dari seorang prajurit yang keburu meninggal dalam tugas saat aku hamil muda.
Aku bersikeras untuk mempertahankan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku terpaksa meninggalkan sekolah dan diasingkan ke pedalaman ini oleh orangtuaku sendiri. Mereka tetap membiayai kebutuhan sehari-hariku dengan syarat tidak ada yang boleh tahu aku hamil diluar nikah. Jadi sebuah cerita untuk menutui aib inipun diciptakan: aku adalah seorang janda dari seorang prajurit yang keburu meninggal dalam tugas saat aku hamil muda.</p>
<p>Aku bersikeras untuk mempertahankan bayi yang ada di perutku ini, bahkan saat semua orang lain tidak sependapat, tidak juga pria yang seharusnya bertanggungjawab. Bukannya bertanggung jawab, ia malah kabur tak tahu rimbanya begitu mendengar tentang keadaanku.</p>
<p>Sekarang aku tinggal sendiri di rumah kontrakan ini. Sepi tanpa orang lain. Hanya ada aku dan bayiku. Dan dengan sekali usapan di perut, bayiku kembali tertidur sementara aku kembali hanyut dalam melodi hujan.</p>
<p><em>Ah, sakit sekali. Perutku sakit sekali.</em></p>
<p><span id="more-2172"></span>Rupanya aku tertidur dan terbangun karena rasa sakit diperutku. Apa mungkin lahir sekarang, pikirku. Tapi aku sendirian dan butuh waktu satu jam sampai ada bidan yang datang.</p>
<p>Aku melihat kearah perutku dan kudapati cairan berwarna <em>pink</em> sudah membasahi beberapa titik di pakaianku. Air ketuban dan darah.</p>
<p><em>Aku harus mencari pertolongan.</em></p>
<p>Hujan masih turun walaupun hanya rintik-rintik. Aku mencoba berjalan ke pintu depan dan berpegangan pada sesuatu untuk membantuku tidak terjatuh. Kursi, meja dan lemari menjadi tempatku bertumpu, menyeret langkahku kearah pintu.</p>
<p><em>Sedikit lagi, tinggal sedikit lagi.</em></p>
<p>Aku mencapai pintu depan dengan napas setengah-setengah. Kubuka pintu itu dan mencoba berteriak minta tolong pada tetangga. Aku mendengar diriku sendiri berteriak pelan dan semuanya menjadi gelap. Aku jatuh tak sadarkan diri, setengah tubuhku tersiram hujan rintik-rintik didepan pintu.</p>
<p><em>Gumaman. Aku mendengar suara orang bergumam. Jauh sekali.</em></p>
<p>Aku membuka mata dan memejamkannya kembali karena silau dengan cahaya lampu. Pelan-pelan kubuka kembali mataku. Kucoba mengingat apa yang telah terjadi. Mengapa aku berada di ranjang dengan bidan, orangtua dan tetanggaku disekelilingku, bergumam pelan.</p>
<p>Ingatanku mulai kembali. Perut.. Darah.. Hujan..</p>
<p>Mereka sepertinya belum menyadari aku terbangun. Kucoba untuk merasakan perutku dan aku tersentak mendapati perutku sudah tidak menyembul lagi. Orang-orang itu mulai mendekatiku, ibuku dan beberapa wanita mulai menangis. Naluriku mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Kesadaranku mulai menghilang kembali.</p>
<p>Aku seakan melayang, semua suara terdengar jauh tapi sempat kudengar sepotong-sepotong. <em>Kakinya keluar duluan</em>.. <em>Kehilangan banyak darah</em>.. <em>Tidak sempat diselamatkan</em>..</p>
<p>Aku mau sendiri, kataku pada mereka dan aku ditinggalkan sendiri dikamarku. Bahkan air mata tak sanggup keluar dari mataku.</p>
<p>Aku ditinggalkan sendiri dirumah ini. Sesekali ada tetangga yang mengantarkan makanan di pintu depan tapi tak pernah kusambut. Aku tidak keluar rumah selama berbulan-bulan dan akhirnya di suatu malam, aku keluar dari rumah itu, diam-diam, lari dari ingatan mengerikan tentang kematian bayiku.</p>
<p>Aku sengaja tidak mengabari siapapun, termasuk orangtuaku. Aku hanya pergi, menjauh dari situ. Menjauh dari kenangan itu.</p>
<p><em>bersambung&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herli.web.id/prosa-lari-dari-hujan-bagian-23.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prosa: Lari dari Hujan (Bagian 1/3)</title>
		<link>http://herli.web.id/prosa-lari-dari-hujan-bagian-13.html</link>
		<comments>http://herli.web.id/prosa-lari-dari-hujan-bagian-13.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 13:51:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herli</dc:creator>
				<category><![CDATA[prosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herli.web.id/?p=2170</guid>
		<description><![CDATA[Sepuluh menit yang lalu

Lima belas tahun sudah sejak aku terakhir menginjakkan kaki tempat ini. Kini aku kembali ke tempat ini. Tempat dimana tersimpan kenangan yang paling menghantuiku sampai sekarang.
Lima belas tahun ternyata belum cukup untuk mengatasi rasa takutku pada tempat ini. Kedua tanganku gemetar tanpa kusadari. Aku langsung mengepalkan tangan dan menelan ludah untuk mengatasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sepuluh menit yang lalu<br />
</strong></p>
<p>Lima belas tahun sudah sejak aku terakhir menginjakkan kaki tempat ini. Kini aku kembali ke tempat ini. Tempat dimana tersimpan kenangan yang paling menghantuiku sampai sekarang.</p>
<p>Lima belas tahun ternyata belum cukup untuk mengatasi rasa takutku pada tempat ini. Kedua tanganku gemetar tanpa kusadari. Aku langsung mengepalkan tangan dan menelan ludah untuk mengatasi rasa takutku.</p>
<p>Seratus persen gagal. Rasa takut ini mulai menguasaiku kembali. Aku tidak bisa lari dari ingatan-ingatan mengerikan itu. Kucoba menutup mataku tapi ingatan mengerikan itu malah terputar kembali didalam kepalaku.</p>
<p><em>Tidak bisa begini. Aku tidak bisa begini.</em></p>
<p>Kupatahkan niatku untuk memasuki bangunan tua itu hari ini. Aku akan mencoba kembali lain kali.</p>
<p><strong><span id="more-2170"></span>Lima</strong><strong> belas tahun yang lalu</strong></p>
<p>Musim hujan tiba lebih cepat tahun ini. Kebun di sekeliling rumah ini basah hampir setiap hari. Matahari jarang menyembul dari balik awan mendung yang menggantung. Dingin sekali.</p>
<p>Di hari yang hujan seperti hari ini aku bermalas-malasan dari tugasku membereskan rumah yang biasa kukerjakan sehari-hari.</p>
<p>Aku duduk di kursi dekat jendela ditemani dengan selimut tipis dan secangkir teh manis hangat sambil menikmati hujan. Sebuah buku sudah menunggu untuk kubaca, tapi hari rasanya aku tidak berminat untuk membaca buku. Hujan seperti telah menghipnotisku.</p>
<p>Aku menutup mata dan membiarkan indera penglihatanku kehilangan akses terhadap dunia luar. Sekarang tinggal indera pendengaran dan penciumanku yang bekerja. Suara hujan, aroma tanah yang tersiram hujan..</p>
<p>Semua kulahap pelan-pelan dan kunikmati sensasi yang dibawanya. Sejenak kulupakan semua beban.</p>
<p>Lalu tiba-tiba kurasakan kembali perutku bergerak dan senyum tipis mengulas bibirku tanpa kusadari. Ya, aku hamil. Sudah delapan bulan minggu ini, padahal umurku belum genap delapan belas tahun.</p>
<p><em>bersambung&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herli.web.id/prosa-lari-dari-hujan-bagian-13.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prosa: Kamu</title>
		<link>http://herli.web.id/prosa-kamu.html</link>
		<comments>http://herli.web.id/prosa-kamu.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 06:45:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herli</dc:creator>
				<category><![CDATA[prosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herli.web.id/?p=2134</guid>
		<description><![CDATA[Kamu,
yang belum pernah kulihat
mampu mengaduk-aduk perasaanku
Kamu,
yang belum pernah kusentuh
mampu membuatku menangis
Kamu,
yang belum pernah kudengar
mampu membuatku melompat-lompat gembira
Kamu,
yang tak bisa kurasakan dengan panca indera..
Aku sayang kamu
***
Herli Surjadjaja, 27 Oktober 2009
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kamu,<br />
yang belum pernah kulihat<br />
mampu mengaduk-aduk perasaanku</p>
<p>Kamu,<br />
yang belum pernah kusentuh<br />
mampu membuatku menangis</p>
<p>Kamu,<br />
yang belum pernah kudengar<br />
mampu membuatku melompat-lompat gembira</p>
<p>Kamu,<br />
yang tak bisa kurasakan dengan panca indera..</p>
<p>Aku sayang kamu</p>
<p>***<br />
Herli Surjadjaja, 27 Oktober 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herli.web.id/prosa-kamu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prosa: Sebuah Alasan</title>
		<link>http://herli.web.id/prosa-sebuah-alasan.html</link>
		<comments>http://herli.web.id/prosa-sebuah-alasan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 11:18:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herli</dc:creator>
				<category><![CDATA[prosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herli.web.id/?p=2118</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa untuk berbuat baik,
atau untuk menolong orang lain,
diperlukan sebuah alasan?
Mengapa untuk menghindari perbuatan jahat,
atau untuk menjaga diri sendiri,
diperlukan sebuah alasan? 
Mengapa sebuah alasan.
atau sekedar kambing hitam,
diperlukan untuk menjelaskan suatu perbuatan?
Mengapa menyalahkan orang lain,
atau menuduh orang lain,
atas perbuatan yang kita lakukan?
Mengapa tidak bercermin,
atau melihat kedalam diri sendiri,
dan melakukan perenungan?
Catatan: prosa ini dibuat semata-mata sebagai bentuk protes [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengapa untuk berbuat baik,<br />
atau untuk menolong orang lain,<br />
diperlukan sebuah alasan?</p>
<p>Mengapa untuk menghindari perbuatan jahat,<br />
atau untuk menjaga diri sendiri,<br />
diperlukan sebuah alasan? <span id="more-2118"></span></p>
<p>Mengapa sebuah alasan.<br />
atau sekedar kambing hitam,<br />
diperlukan untuk menjelaskan suatu perbuatan?</p>
<p>Mengapa menyalahkan orang lain,<br />
atau menuduh orang lain,<br />
atas perbuatan yang kita lakukan?</p>
<p>Mengapa tidak bercermin,<br />
atau melihat kedalam diri sendiri,<br />
dan melakukan perenungan?</p>
<p><em>Catatan: prosa ini dibuat semata-mata sebagai bentuk protes terhadap budaya di masyarakat yang TERBIASA menyalahkan orang lain atau faktor eksternal atas yang sesuatu yang terjadi pada dirinya sendiri (misal: moralnya sendiri). Keputusan tetap jatuh di diri sendiri. Tanggung jawab atas pikiran dan perbuatan sendiri nyaris hilang karena budaya menyalahkan faktor eksternal seperti lingkungan atau pergaulan. <strong>Mulailah bertanggung jawab, atas pikiran dan perbuatan sendiri! Berhenti menyalahkan faktor eksternal!</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herli.web.id/prosa-sebuah-alasan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Titik Muak Seorang Perawat</title>
		<link>http://herli.web.id/titik-muak-seorang-perawat.html</link>
		<comments>http://herli.web.id/titik-muak-seorang-perawat.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 02:09:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herli</dc:creator>
				<category><![CDATA[prosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herli.web.id/?p=1991</guid>
		<description><![CDATA[Aku berdiri. Sebuah ranjang dorong yang biasa dipakai di rumah sakit ada didepanku. Diatasnya terdapat seorang prajurit yang berdarah-darah.
Aku berdiri. Mematung. Tanpa ekspresi, tanpa emosi. Aku kebal. Kebal terhadap tangisan, rintihan dan ratapan. 
Warna merah darah memenuhi sekujur tubuh prajurit dihadapanku dan sudah mewarnai sebagian ranjang tempat ia terbaring. Yang menandakan bahwa ia masih hidup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku berdiri. Sebuah ranjang dorong yang biasa dipakai di rumah sakit ada didepanku. Diatasnya terdapat seorang prajurit yang berdarah-darah.</p>
<p>Aku berdiri. Mematung. Tanpa ekspresi, tanpa emosi. Aku kebal. Kebal terhadap tangisan, rintihan dan ratapan. <span id="more-1991"></span></p>
<p>Warna merah darah memenuhi sekujur tubuh prajurit dihadapanku dan sudah mewarnai sebagian ranjang tempat ia terbaring. Yang menandakan bahwa ia masih hidup hanyalah sebuah erangan lemah setiap beberapa saat.</p>
<p>Disekelilingku banyak perawat lain yang sedang mengurus prajurit terluka lainnya. Bising, tapi telingaku sudah tak mampu lagi mendengar apa-apa. Tanganku sudah tak mampu lagi mencoba menjahit prajurit terluka yang pasti mati. Mataku sudah tak sanggup lagi melihat darah, potongan tubuh, atau prajurit yang sebentar lagi menjadi mayat.</p>
<p>Aku muak. Muak pada darah dimana-mana, muak pada potongan tubuh yang berserakan, muak pada onggokan mayat yang tertumpuk di luar bangunan. Muak.</p>
<p>Aku tak sanggup berpikir apa-apa lagi. Ada ledakan keras didepanku, tanda rumah sakit tempatku bekerja dihantam bom dari pesawat udara milik musuh.</p>
<p>Aku merasakan sakit dibagian perut sebelah kiri dan memanjang sampai ke dada kiriku. Tubuhku robek. Sakit yang teramat hebat dan setelah itu.. hilang. Aku tidak merasakan apa-apa lagi.</p>
<p>Dan aku tahu kalau aku telah mati.</p>
<p>***<br />
Herli Surjadjaja<br />
14 Agustus 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herli.web.id/titik-muak-seorang-perawat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Ulang Tahun</title>
		<link>http://herli.web.id/selamat-ulang-tahun.html</link>
		<comments>http://herli.web.id/selamat-ulang-tahun.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 23:11:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herli</dc:creator>
				<category><![CDATA[prosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herli.web.id/?p=1943</guid>
		<description><![CDATA[Selamat Ulang Tahun.
Ingin sekali kuucapkan tiga kata itu kepada orangnya langsung. Tapi itu adalah hal yang tak mungkin. Sudah bertahun-tahun aku tidak melihat wajahnya, atau bahkan menemui tanda-tanda keberadaannya disekelilingku. 
Alamat apa yang harus kutulis di amplop surat? Telepon secanggih apapun tidak dapat menjangkaunya. Bahkan internet yang diagung-agungkan bisa membangun relasi yang sudah putuspun tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat Ulang Tahun.</p>
<p>Ingin sekali kuucapkan tiga kata itu kepada orangnya langsung. Tapi itu adalah hal yang tak mungkin. Sudah bertahun-tahun aku tidak melihat wajahnya, atau bahkan menemui tanda-tanda keberadaannya disekelilingku. <span id="more-1943"></span></p>
<p>Alamat apa yang harus kutulis di amplop surat? Telepon secanggih apapun tidak dapat menjangkaunya. Bahkan internet yang diagung-agungkan bisa membangun relasi yang sudah putuspun tidak mampu membantuku.</p>
<p>Ia lenyap.</p>
<p>Setiap tahun di hari ini, aku tetap mengingatnya, walau mungkin sudah ratusan teman dan keluargaku menyuruhku melupakannya. Tapi mereka tidak mengerti betapa sulitnya ini.</p>
<p>Setiap tahun di hari ini, aku kesini, pagi-pagi sekali. Berpakaian putih, warna favoritnya, dan membawa sekuntum bunga mawar putih.</p>
<p>Setiap tahun di hari ini, aku berjongkok didepan batu nisannya, menaruh sekuntum bunga didepannya dan berujar, &#8220;Selamat Ulang Tahun.&#8221;</p>
<p>***<br />
Herli Surjadjaja, 8 Juli 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herli.web.id/selamat-ulang-tahun.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kembali pulang</title>
		<link>http://herli.web.id/kembali-pulang.html</link>
		<comments>http://herli.web.id/kembali-pulang.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 14:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herli</dc:creator>
				<category><![CDATA[prosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herli.web.id/?p=1856</guid>
		<description><![CDATA[Pantai.. Samar-samar aku mengingat sesuatu mengenai pantai. Pantai sepi dengan pasir putih yang halus. Laut berwarna biru kehijauan membentang sepanjang garis horizon. Langit cerah tanpa matahari. Aku pernah kesana, ingatku. Entah kapan.
Aku melihat sekelilingku dan yang kulihat hanya air. Aku berada di dalam air. Didalam lautan luas. Kapan aku melangkah lebih jauh kearah lautan? Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pantai.. Samar-samar aku mengingat sesuatu mengenai pantai. Pantai sepi dengan pasir putih yang halus. Laut berwarna biru kehijauan membentang sepanjang garis horizon. Langit cerah tanpa matahari. Aku pernah kesana, ingatku. Entah kapan.</p>
<p>Aku melihat sekelilingku dan yang kulihat hanya air. Aku berada di dalam air. Didalam lautan luas. Kapan aku melangkah lebih jauh kearah lautan? Aku tidak ingat. Aku tak mampu mengingat. <span id="more-1856"></span></p>
<p>Keinginanku terwujud. Aku berada dalam air. Aku mampu bergerak sebebas yang aku suka. Aku merasakan belaian arus lembut menerpa wajahku.</p>
<p>Logikaku mulai mempertanyakan semuanya. Mengapa aku tidak megap-megap mencari udara? Bagaimana aku bernapas? Terlebih lagi, kapan aku masuk lebih jauh kedalam lautan?</p>
<p>Aku mengangkat kedua tanganku sejajar dengan mataku. Aku tidak melihat apa-apa. Aku menyatu dengan air disekelilingku. Dalam waktu yang sama aku menyadari sesuatu: aku bagian dari lautan. Akulah air! Akulah lautan!</p>
<p>Aku mendongak keatas dan melihat permukaan air yang berkilau. Aku melongok kebawah dan melihat karang laut yang menakjubkan menutup pasir dibawahnya. Indah sekaligus misterius.</p>
<p>Inilah dunia yang kurindukan. Semua logikaku seketika lenyap disapu arus yang melewati diriku. Inilah tempatku berada. Tidak ada yang mampu menarikku kembali kedaratan. Aku adalah air, dan tempatku adalah disini, ditempat tujuan semua arus air, di lautan luas.</p>
<p>Aku menyadari, ombak yang kurasakan dipantai telah menarikku. Mereka membisikkan orchestra ombak untuk membantu memanggilku supaya aku dapat menerima siapa aku sebenarnya. Akulah air. Jangan disangkal lagi.</p>
<p>Akulah lautan yang menyambut Sang Bulan setiap kali ia muncul. Akulah lautan yang mendendangkan nyanyian ombak kepada siapa yang mendengarkan. Akulah lautan yang mampu mengikis batu karang terkuat manapun menjadi pasir.</p>
<p>Lautan adalah ibuku. Ibu, aku telah kembali..</p>
<p>T A M A T</p>
<p>***<br />
Herli Surjadjaja, 10 Juni 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herli.web.id/kembali-pulang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
