Apakah aku
pantas disalahkan?
Apakah seharusnya
kudiamkan saja?
Atau apakah aku
memang bersalah?
–
Herli Surjadjaja
23/03/2011
Apakah aku
pantas disalahkan?
Apakah seharusnya
kudiamkan saja?
Atau apakah aku
memang bersalah?
–
Herli Surjadjaja
23/03/2011
Kejadian itu membuatku berpikir
Bagaimana bila
ku tetap diam?
Kejadian itu membuatku berpikir
Bagaimana bila
tidak ada yang diam?
Kejadian itu membuatku berpikir
Apakah ada
yang harus kupelajari?
Kejadian itu membuatku melihat
Saat badai datang
orang lari
Kejadian itu membuatku melihat
Tidak ada
satu batang jeramipun yang sama.
Kejadian itu membuatku menyimpulkan
Cermin,
adalah kuncinya.
–
Herli Surjadjaja (9 Desember 2010)
Aku sudah tidak muda lagi
Tidak seperti dulu lagi
Aku lemah dan tua
Jadi saat kau pertemukan aku dengan musuhku
Bayangkan kondisiku
Bayangkan perasaanku
Jadi saat kau bawa aku ke tempat asing
Bayangkan ketakutanku
Bayangkan perasaanku
Jadi saat aku terjatuh dan kau tidak menolongku
Bayangkan kesakitanku
Bayangkan perasaanku
Jadi saat aku tidak bisa berdiri karena lemah
Bayangkan ketidakberdayaanku
Bayangkan perasaanku
Aku sudah tidak muda lagi
Jadi kumohon berhentilah memperlakukanku
Seperti semuanya baik-baik saja
***
Herli Surjadjaja, 22 Maret 2010
untuk Cicut.. yang terbaring lemah..
Setiap malam,
aku tidur bersama bos dan istrinya.
Tempatku,
hanya di sehelai bedcover yang menjuntai.
Malam ini,
aku sedang diluar kamar.
Aku ingin masuk,
tiada yang bangun untuk membukakan pintu.
Tiga tahun yang lalu
Ini kali pertamanya aku memberanikan diri untuk menelpon kembali kerumah orangtuaku, menanyakan kabar mereka.
Ibuku yang menjawab telepon itu. Beliau langsung menanyakan tentang keberadaan serta keadaanku. Aku menjawab seadanya. Kujawab bahwa sejak aku lari dari rumah kontrakan itu, aku pindah kekota lain, memulai lembaran baru bagi hidupku.
Kukatakan pada ibuku bahwa aku menjadi pelayan sebuah restoran sejak dua belas tahun yang lalu dan sekarang sedang membina hubungan dengan seorang laki-laki pelanggan restoran tempatku bekerja.
Kukatakan pada ibuku bahwa kami akan segera menikah tahun depan. Ibuku tidak menjawab, tapi aku yakin ia pasti berkaca-kaca tersenyum bahagia.
Ini kali pertamanya aku memberanikan diri untuk menelpon kedua orangtuaku dan meminta restu mereka.
Aku terpaksa meninggalkan sekolah dan diasingkan ke pedalaman ini oleh orangtuaku sendiri. Mereka tetap membiayai kebutuhan sehari-hariku dengan syarat tidak ada yang boleh tahu aku hamil diluar nikah. Jadi sebuah cerita untuk menutui aib inipun diciptakan: aku adalah seorang janda dari seorang prajurit yang keburu meninggal dalam tugas saat aku hamil muda.
Aku bersikeras untuk mempertahankan bayi yang ada di perutku ini, bahkan saat semua orang lain tidak sependapat, tidak juga pria yang seharusnya bertanggungjawab. Bukannya bertanggung jawab, ia malah kabur tak tahu rimbanya begitu mendengar tentang keadaanku.
Sekarang aku tinggal sendiri di rumah kontrakan ini. Sepi tanpa orang lain. Hanya ada aku dan bayiku. Dan dengan sekali usapan di perut, bayiku kembali tertidur sementara aku kembali hanyut dalam melodi hujan.
Ah, sakit sekali. Perutku sakit sekali.
Sepuluh menit yang lalu
Lima belas tahun sudah sejak aku terakhir menginjakkan kaki tempat ini. Kini aku kembali ke tempat ini. Tempat dimana tersimpan kenangan yang paling menghantuiku sampai sekarang.
Lima belas tahun ternyata belum cukup untuk mengatasi rasa takutku pada tempat ini. Kedua tanganku gemetar tanpa kusadari. Aku langsung mengepalkan tangan dan menelan ludah untuk mengatasi rasa takutku.
Seratus persen gagal. Rasa takut ini mulai menguasaiku kembali. Aku tidak bisa lari dari ingatan-ingatan mengerikan itu. Kucoba menutup mataku tapi ingatan mengerikan itu malah terputar kembali didalam kepalaku.
Tidak bisa begini. Aku tidak bisa begini.
Kupatahkan niatku untuk memasuki bangunan tua itu hari ini. Aku akan mencoba kembali lain kali.
Komentar terakhir