Kemarin siang saya berjalan-jalan dengan Jimz dan keluarganya. Saat sedang berhenti dan duduk di suatu tempat, Jimz berniat membelikan saya minuman. Saya tetap duduk sementara Jimz berjalan ke sebuah pendingin elektrik untuk membelikan saya minum. Saya melihat dia setengah dipaksa oleh si penjual untuk membeli satu produk yang saya tahu dia tidak suka: teh kesehatan dengan rasa buah lengkeng.
Transaksi jual beli minuman akhirnya terjadi: Jimz membelikan saya satu botol teh dari satu merek tertentu dan Jimz sendiri mengambil soda untuk dirinya sendiri. Saya menghampiri Jimz untuk minum teh tersebut dan saya bilang ke Jimz, “wah enak..”
Si penjual yang tadi memaksakan menjual teh kesehatan tersebut tiba-tiba nyeletuk ke arah saya, “Tuh kan mba ga enak kan, pahit.. Mending tadi beli yang saya tawarin aja, yg rasa lengkeng, enak itu mba..”
more…
Saya terbilang sering berkunjung ke salah satu situs berita lokal untuk melihat berita yang ada disana. Kadang-kadang menemukan berita menarik, tapi yang lebih sering adalah menemukan komentar “menarik”.
Berita mungkin menarik, tapi komentar-komentar yang masuk jauh lebih menarik lagi. Kadang berisi iklan, kadang makian, kadang (ini yang paling sering) sumpah serapah. Yang benar-benar memberi komentar berguna? Bisa dibilang hampir tidak ada.
more…
“Kasihan yah dia..“, “Yah, sayang banget yah..” atau “Coba dia begini..“. Tiga kalimat yang mungkin sering dilontarkan orang terhadap orang lain yang tidak tergabung dalam kelompoknya. Eksklusif.
Banyak lho, yang beranggapan kelompok dimana dia berada adalah yang paling benar. Diluar kelompoknya.. yah.. salah.. Sebuah contoh sederhana: Saya bukan tipe wanita penggila fashion, masak, belanja, atau “kebutuhan” wanita lainnya. Bagi wanita yang masuk kelompok yang gemar fashion, masak, belanja dst saya bakal kena cap: “Bukan Wanita”. Plis dong ah.. Ini kan masalah ketertarikan. Masa kalau tidak tertarik, harus memaksakan diri untuk tertarik?
more…
Minggu kedua di tahun 2010, saya dan Jimz membeli sebuah bantal sofa alias cushion. Memang tumben sekali, karena biasanya saya bukan orang yang “melek” pernak-pernik seperti cushion itu. Tapi berhubung satu bantal berbentuk semangka sepertinya tidak cukup untuk mengganjal punggung saya sewaktu tidur, akhirnya cushion itu kami beli juga.
Tidak ada sarung di cushion berdimensi 40×40 cm itu. Jadi hanya bantal saja. Dan saya kedapatan tugas untuk memberinya sarung, dengan rajutan tentu saja. >.<
more…
Ah, fenomena belakangan ini.. Mengapa sepertinya melepas jabatan sudah disamakan dengan bertanggungjawab? Bila ada sesuatu yang tidak beres di masa kekuasaan satu orang, orang itu diminta melepaskan jabatannya sebagai bukti pertanggungjawaban.
Banyak koq kasus yang seperti itu. Tidak usahlah saya sebutkan satu persatu.
more…
Awal Desember 2009 yang lalu saya baru coba-coba belajar merajut dengan dua jarum (knitting) dan ternyata saya menyukainya. Walaupun belum bisa membuat macam-macam, tapi saya lumayan “kepincut” untuk memulai project baru setelah project sebelumnya selesai.
Sudah lama sejak tulisan terakhir saya di blog, ya karena saya kena demam merajut itu. Hasil rajutan saya tidak bisa dibilang indah, tapi saya cukup puas karena banyak metode yang saya coba-coba: membuat eyelet, knitting dengan 5 jarum untuk membuat topi, teknik fair isle untuk sarung hape, dan pola anyaman untuk tempat pensil.
more…
Buat yang belum baca buku Marley & Me atau nonton filmnya tapi berniat membaca atau nonton, maaf kalau tulisan saya ini mengandung spoiler.
Bagi yang sudah pernah membaca bukunya, saya cuma mau bilang kalau kisah hidup saya di 2009 ini ada yang mirip (sekali) dengan secuplik kisah John dan Jenny Grogan di buku tersebut. Membaca buku tersebut kembali, rasanya seperti membaca sepenggal kisah hidup saya di tahun 2009 ini yang diceritakan oleh orang lain.
more…
Komentar terakhir