August 17 2020

Slow Down, Rewind

Pernah kah merasa terjebak dalam suatu situasi yang tidak menyenangkan? Merasa terjepit, apapun yang dilakukan akan terasa salah dan menghasilkan keputusan yang bertolak belakang dari tujuan?

Saya baru saja menyelesaikan menonton film A Beautiful Day In The Neighbourhood kemarin. Bercerita tentang seorang jurnalis yang menyimpan dendam dan bagaimana seorang pembaca acara TV membantunya menyelesaikan ganjalan dalam hatinya tersebut.

Ada beberapa poin menarik, seperti bagaimana kita harus menyadari bahwa perasaan itu nyata, bagaimana berkomunikasi bisa meringankan beban, dan bagaimana cara pelampiasan yang baik itu diperlukan.

Caranya pun banyak, mulai dari melakukan tindakan fisik seperti olahraga, bermain musik (dengan nada super amburadul), bernyanyi keras-keras, berteriak, atau dengan melakukan kegiatan menenangkan seperti mendengarkan musik, berkebun atau meditasi.

Ada yang ingin saya tambahkan disini, bahwa semua kegiatan itu ditujukan untuk “melepaskan” kemarahan yang dirasakan, semua hal yang “nyangkut” dan mengganjal, untuk mengurai segala perasaan mumet tersebut.

Sadari bahwa perasaan itu nyata, dan perasaan itu bisa dikendalikan dengan aktivitas yang positif tanpa melukai siapapun. Selagi melakukan semua tindakan yang bisa mengurai ganjalan itu, jangan lupa untuk SELALU BERSYUKUR.

I am thankful for everything and everyone that had made me what I am.

Slow down, rewind.

August 16 2020

Fenomena Ghosting

Menurut yayasanpulih.org, ghosting merupakan sebuah situasi ketika seseorang memutuskan hubungan dengan menghentikan seluruh komunikasi secara tiba-tiba dan tanpa penjelasan. Dia, orang yang selama ini jadi teman komunikasi melalui gadget, hingga terjalin hubungan yang nyaman, tiba-tiba menghilang seperti hantu.

Saya pernah tergabung dalam suatu komunitas bisnis, dengan anggota yang masih bertumbuh dan berkembang. Anggap saja namanya Mawar. Teman saya ini, yang bernama Mawar, adalah yang mengajak saya bergabung dalam komunitas bisnis ini. Dan memang beberapa kali (bukan hanya 1 atau 2 kali), Mawar sering mengeluh seperti tidak nyaman lagi dengan komunitas bisnis ini.

Pada suatu hari, tiba-tiba pesan WA saya tidak terkirim (centang 1), FB Messenger terlihat online tapi tidak membalas, SMS terkirim tapi tidak terbalas, saya menulis di wall FB tidak di ada komentar juga.

Mawar seperti lenyap dari muka Bumi.

Saya dan semua yang mengenalnya dalam komunitas bisnis ini ternyata mengalami hal yang sama. Beberapa kali, saya masih mengusahakan untuk melakukan kontak (jujur saja saya agak khawatir karena tempat tinggal Mawar jauh dari lokasi tempat kerjanya).

Lama-lama saya menebak-nebak, mungkin Mawar sudah jenuh, tidak mau lagi bergabung di komunitas ini, “tapi koq ga pamit”, pikir saya.

Jujur sedih, tapi sudah terjadi. Sebagai teman, saya hanya berusaha memahami.

Sudah lebih dari 2 tahun sejak Mawar meng-ghosting saya. Entah apa kabarnya sekarang, semoga dia baik-baik saja. ­čÖé

August 14 2020

Menyoal Kebahagiaan

Beberapa waktu lalu saya menemukan tulisan ini di media sosial:

Seorang guru membawa banyak balon dan membagikan satu untuk setiap siswa di kelas. Lalu ia memerintahkan mereka untuk menulis nama mereka di balon itu dan menyuruh mereka untuk meninggalkan balon balon itu di lantai. Semua siswa disuruh keluar, lalu guru itu mengatakan bahwa mereka memiliki 5 menit untuk menemukan balon yang tertera nama mereka sendiri.

Para siswa masuk dan masing-masing mencari namanya di balon itu. Setelah 5 menit berselang, tak ada seorang pun yang menemukan namanya di balon balon itu.

Lalu guru itu mengatakan bahwa semua siswa bisa mengambil balon apa saja yang tidak tertera namanya dan memberikannya kepada pemilik nama yang tertulis.
Tak membutuhkan waktu yang lama, masing masing siswa sudah mempunyai sebuah balon di tangannya.

Guru berkata: “Balon itu adalah kebahagiaan seseorang. Tak seorang pun akan menemukannya, mencari kebahagiaan mereka sendiri tanpa mempedulikan orang lain. Untuk menemukan kebahagiaan, maka harus memberi. Dengan memberi, kita akan menerima. Jika ingin bahagia, maka berilah juga kebahagiaan kepada orang lain. Kebahagiaan yang sesungguhnya itu ada dalam MEMBERI”.

Belajarlah untuk memberi dan berbuat baik tanpa menunggu untuk dikembalikan atau dibalas. Karena semua itu akan dikembalikan kepada Anda dengan cara yang berbeda dalam waktu yang tak terduga┬á😇

Di satu sisi, saya sependapat dengan cerita ini, di sisi lain, saya agak sedikit mempunyai pandangan yang berbeda. Saya mengerti bahwa untuk menempuh tujuan tertentu, kadang kerjasama diperlukan.

Dalam kasus balon tersebut, tentu saja tidak akan menjadi pekerjaan yang mudah bila seorang anak diwajibkan mencari balon dengan namanya sendiri. Tapi bila tujuannya diubah menjadi “setiap anak harus memegang balonnya sendiri”, hanya dengan bekerja sama, tujuan itu bisa tercapai.

Yang saya tidak terlalu setuju adalah seakan-akan cerita tersebut menyiratkan bahwa kebahagiaan itu diberikan oleh faktor eksternal, seperti orang lain.

Menjadi manusia yang bahagia atau tidak seharusnya tidak terpengaruh oleh faktor “diberikan”. Ciptakanlah kebahagiaan Anda sendiri, tanpa harus menunggu diberikan.

Bukankah seharusnya begitu?