Posted in prosa

Prosa: Lari dari Hujan (Bagian 2/3)

Aku terpaksa meninggalkan sekolah dan diasingkan ke pedalaman ini oleh orangtuaku sendiri. Mereka tetap membiayai kebutuhan sehari-hariku dengan syarat tidak ada yang boleh tahu aku hamil diluar nikah. Jadi sebuah cerita untuk menutui aib inipun diciptakan: aku adalah seorang janda dari seorang prajurit yang keburu meninggal dalam tugas saat aku hamil muda.

Aku bersikeras untuk mempertahankan bayi yang ada di perutku ini, bahkan saat semua orang lain tidak sependapat, tidak juga pria yang seharusnya bertanggungjawab. Bukannya bertanggung jawab, ia malah kabur tak tahu rimbanya begitu mendengar tentang keadaanku.

Sekarang aku tinggal sendiri di rumah kontrakan ini. Sepi tanpa orang lain. Hanya ada aku dan bayiku. Dan dengan sekali usapan di perut, bayiku kembali tertidur sementara aku kembali hanyut dalam melodi hujan.

Ah, sakit sekali. Perutku sakit sekali.

Continue reading “Prosa: Lari dari Hujan (Bagian 2/3)”

Posted in prosa

Prosa: Lari dari Hujan (Bagian 1/3)

Sepuluh menit yang lalu

Lima belas tahun sudah sejak aku terakhir menginjakkan kaki tempat ini. Kini aku kembali ke tempat ini. Tempat dimana tersimpan kenangan yang paling menghantuiku sampai sekarang.

Lima belas tahun ternyata belum cukup untuk mengatasi rasa takutku pada tempat ini. Kedua tanganku gemetar tanpa kusadari. Aku langsung mengepalkan tangan dan menelan ludah untuk mengatasi rasa takutku.

Seratus persen gagal. Rasa takut ini mulai menguasaiku kembali. Aku tidak bisa lari dari ingatan-ingatan mengerikan itu. Kucoba menutup mataku tapi ingatan mengerikan itu malah terputar kembali didalam kepalaku.

Tidak bisa begini. Aku tidak bisa begini.

Kupatahkan niatku untuk memasuki bangunan tua itu hari ini. Aku akan mencoba kembali lain kali.

Continue reading “Prosa: Lari dari Hujan (Bagian 1/3)”

Posted in prosa

Prosa: Kamu

Kamu,
yang belum pernah kulihat
mampu mengaduk-aduk perasaanku

Kamu,
yang belum pernah kusentuh
mampu membuatku menangis

Kamu,
yang belum pernah kudengar
mampu membuatku melompat-lompat gembira

Kamu,
yang tak bisa kurasakan dengan panca indera..

Aku sayang kamu

***
Herli Surjadjaja, 27 Oktober 2009

Posted in prosa

Kembali pulang

Pantai.. Samar-samar aku mengingat sesuatu mengenai pantai. Pantai sepi dengan pasir putih yang halus. Laut berwarna biru kehijauan membentang sepanjang garis horizon. Langit cerah tanpa matahari. Aku pernah kesana, ingatku. Entah kapan.

Aku melihat sekelilingku dan yang kulihat hanya air. Aku berada di dalam air. Didalam lautan luas. Kapan aku melangkah lebih jauh kearah lautan? Aku tidak ingat. Aku tak mampu mengingat. Continue reading “Kembali pulang”