Posted in cuap-cuap, prosa

Buku Kosong

Ada buku kosong yang kusayangi,
kertas bersih yang meminta supaya kutulisi.

Bermacam-macam hal kutulis diatasnya,
kadang indah berwarna-warni,
kadang hanya goresan pensil yang membosankan.

Kusayangi buku itu
sampai tak pernah kutumpahkan cacianku didalamnya.

Kusayangi buku itu
sampai aku tak berani menulis yang tidak indah.

Sayangnya buku itu harus kubagi dengan yang lain,
dan kertas kosong terpapar begitu saja pada dunia.

Aku ingin menjerit
saat tangan berminyak menyentuh sampulnya.

Aku ingin menangis
saat kata-kata kasar tergores diatas kertas putihnya.

Aku ingin memaki
saat kebohongan mengisi sudut-sudut kertasnya.

Kertas putih itu, lembar demi lembar,
ingin kuisi dengan harapan dan warna,
dengan lagu dan irama,
dengan sajak dan puisi.

Buku kosong itu, ingin kuisi dengan sepenuh jiwaku.

Posted in prosa

Panitia Setiap Hari

Setiap pagi
panggung dibangun
dengan sebuah weker.

Setiap pagi
panggung disiapkan
dengan secangkir kopi.

Setiap pagi
para pemain muncul
dan menghilang.

Setiap pagi
panggung ditinggalkan
dan menyisakan sepi.

Setiap malam
setelah hiruk pikuk
panggung dirobohkan
dan panitia bersiap untuk pertunjukan esok.

Posted in prosa

Cermin

Kejadian itu membuatku berpikir
Bagaimana bila
ku tetap diam?

Kejadian itu membuatku berpikir
Bagaimana bila
tidak ada yang diam?

Kejadian itu membuatku berpikir
Apakah ada
yang harus kupelajari?

Kejadian itu membuatku melihat
Saat badai datang
orang lari

Kejadian itu membuatku melihat
Tidak ada
satu batang jeramipun yang sama.

Kejadian itu membuatku menyimpulkan
Cermin,
adalah kuncinya.


Herli Surjadjaja (9 Desember 2010)

Posted in cuap-cuap, prosa

Aku sudah tidak muda lagi

Aku sudah tidak muda lagi
Tidak seperti dulu lagi
Aku lemah dan tua

Jadi saat kau pertemukan aku dengan musuhku
Bayangkan kondisiku
Bayangkan perasaanku

Jadi saat kau bawa aku ke tempat asing
Bayangkan ketakutanku
Bayangkan perasaanku

Jadi saat aku terjatuh dan kau tidak menolongku
Bayangkan kesakitanku
Bayangkan perasaanku

Jadi saat aku tidak bisa berdiri karena lemah
Bayangkan ketidakberdayaanku
Bayangkan perasaanku

Aku sudah tidak muda lagi
Jadi kumohon berhentilah memperlakukanku
Seperti semuanya baik-baik saja

***
Herli Surjadjaja, 22 Maret 2010
untuk Cicut.. yang terbaring lemah..

Posted in prosa

Prosa: Lari dari Hujan (Bagian 3/3)

Tiga tahun yang lalu

Ini kali pertamanya aku memberanikan diri untuk menelpon kembali kerumah orangtuaku, menanyakan kabar mereka.

Ibuku yang menjawab telepon itu. Beliau langsung menanyakan tentang keberadaan serta keadaanku. Aku menjawab seadanya. Kujawab bahwa sejak aku lari dari rumah kontrakan itu, aku pindah kekota lain, memulai lembaran baru bagi hidupku.

Kukatakan pada ibuku bahwa aku menjadi pelayan sebuah restoran sejak dua belas tahun yang lalu dan sekarang sedang membina hubungan dengan seorang laki-laki pelanggan restoran tempatku bekerja.

Kukatakan pada ibuku bahwa kami akan segera menikah tahun depan. Ibuku tidak menjawab, tapi aku yakin ia pasti berkaca-kaca tersenyum bahagia.

Ini kali pertamanya aku memberanikan diri untuk menelpon kedua orangtuaku dan meminta restu mereka.

Continue reading “Prosa: Lari dari Hujan (Bagian 3/3)”