Posted in cuap-cuap

Pinata Keping Salju

Yes, terlihat hanya dari judulnya, pinata ini terinspirasi dari film Disney’s Frozen. Sebenarnya Emily (6) sendiri sudah agak bosan dengan Frozen ini, tapi ternyata tidak dengan anak perempuan kecil lainnya.

Pinata ini merupakan pesanan dari seorang teman sekolah Emily yang akan mengadakan pesta ulang tahun hari Minggu tanggal 12 Juni 2016 ini. Dan tema yang dipilih adalah.. tak lain dari.. Frozen.

Prototype Pinata Semangka Ini pertama kalinya saya membuat pinata sampai selesai. Sebelumnya saya pernah membuat prototype dari pinata, berbentuk potongan buah semangka, tapi tidak sampai dihias.

Rencana membuat pinata ini juga tidak terlepas dari persiapan pesta perpisahan dan kelulusan angkatan Emily. Akhirnya kami tidak membuat pinata dari kardus, tapi dari balon dan paper mache.

Okey, kembali ke topik.

Pinata keping salju yang saya buat hanya menggunakan kardus bekas (ambil di Indomaret), kertas krep dan kertas perak, dibantu dengan gunting, lem, selotip dan double tape. Dan tentu saja, isi dari pinata ini adalah permen. Permen yang amat sangat banyak.

Pertama, pola dibuat di kertas, lalu dijiplak ke kardus. Kardus digunting untuk 3 bagian: depan, belakang dan sisi, lalu disatukan dengan selotip. Jangan lupa untuk memberi lubang untuk kawat (atau tali), supaya pinata bisa digantung. Lalu isi pinata dengan permen sebelum semua sisi tertutup.

Kedua, lem tepi-tepi pinata kardus dan tempelkan di kertas krep hingga semua sisi tertutup kertas krep.

Setelah dilapis kertas krep
Setelah dilapis kertas krep

Ketiga, hias dengan kertas perak yang sudah diberi double tape.

Hias dengan kertas perak
Hias dengan kertas perak

Dan.. tadaaa..

Pinata Keping Salju
Pinata Keping Salju

Saya cukup puas dengan hasil akhirnya, mengingat ini adalah pinata pertama yang saya buat. Yang saya sayangkan hanyalah pinata ini akan hancur ditepuk-tepuk oleh anak-anak di pesta ulang tahun nanti. Oh well.

Posted in cuap-cuap

Terrarium Pertama

Saya mempunyai bekas toples selai yang tidak terpakai. Daripada dibuang sayang, saya memutuskan untuk membuat terrarium. Bahan-bahannya mudah didapat: batu kerikil (atau batu hias), lumut (bila ada), media tanam, pasir, dan tanamannya itu sendiri.

Karena saya tinggal di apartemen, lahannya terbatas, tanaman yang saya rasa cocok adalah jenis kaktus semata-mata hanya karena asumsi bahwa merawat kaktus itu mudah. Saya belum pernah memelihara kaktus sih, jadi belum bisa bilang berdasarkan pengalaman. 🙂

Untungnya, kaktus cukup mudah didapat di area tempat tinggal saya. Harganyapun terjangkau, mulai dari Rp 7.500 sampai Rp 20.000 di supermarket. Untuk terrarium saya ini, saya menggunakan kaktus seharga Rp 10.000.

Pertama yang saya lakukan adalah mencuci bersih dan mengeringkan toples. Lalu menambahkan lapisan batu putih sebagai drainase air (kalau saat disiram), lumut imitasi, media tanam berikut kaktusnya, lalu saya tutup dengan butiran pasir. Dan, TADA! 🙂

Terrarium Toples Selai
Terrarium Toples Selai
Posted in cuap-cuap

Bermain Kawat

Sudah hampir satu bulan belakangan ini saya tertarik dengan wire jewelry. Tanpa pengetahuan apapun mengenai kawat, saya membuka situs-situs pembelajaran seperti Instructibles dan YouTube. Tapi semakin melihat cara-cara nguwer kawat, semakin tertarik. Walaupun mendekati akhir bulan (saat-saat krisis keuangan), akhirnya saya putuskan untuk membeli satu gulung kawat melalui FB.

Jumat yang lalu, saya membawa batu-batu yang pernah saya beli tahun 2007/2008. Jumlahnya 21 buah. Saking banyaknya, saya sampai lupa beberapa nama dari batu-batu tersebut. Dan sorenya, kawat pun datang.

Kawat: Mainan Baru
Kawat: Mainan Baru

Tanpa menunggu lama-lama, saya langsung semangat praktek. Tapi namanya juga baru pertama kali pegang kawat, akhirnya yang ada malahan jari sakit, hasilpun tidak rapi. Tidak putus asa, saya coba cara lain. Dan ketemu satu cara di Instructibles yang sepertinya cukup mudah.

Ya memang lumayan mudah, hanya saja batu-batu itu licin jadi jari tetap sakit untuk memaksa kawat dan batu bekerja sama walaupun sudah dibantu dengan tang.

Ada beberapa batu yang sebenarnya sudah bisa dijadikan liontin tapi karena hasilnya kurang rapi, saya bongkar lagi. Saya ganti dengan model lain.

Hasilnya, akhir pekan kemarin saya berkutat bermain kawat.

Tapi tidak mengecewakan, dengan satu gulung kawat lapis perak berdiameter 1mm (18ga), saya menghasilkan 14 liontin (dari keseluruhan 21 batu).

14 Liontin Hasil Bermain Kawat
14 Liontin Hasil Bermain Kawat

Memang sederhana sekali modelnya, tapi setidaknya batu-batu saya sekarang bisa saya pakai sebagai liontin. 🙂

Posted in cuap-cuap

Tingkah Kepiting

Saya pernah mendengar kalau sekelompok kepiting, walaupun diletakkan dalam baskom, tidak akan pernah bisa keluar dari baskom. Katanya, bila ada satu kepiting yang berusaha keluar dari baskom, ada saja kepiting lainnya yang akan mencapitnya dan menariknya jatuh masuk kedalam baskom kembali.

Persis sekali dengan kenyataan yang ada di sekitar kita. Peer pressure atau tekanan dari pihak rekan sangat kental. Tidak hanya disekolah, tapi di kehidupan sehari-hari pun berlaku.

Untuk bisa maju, menjadi susah karena budaya kepiting tadi. Pernah dengar soal supir taksi yang mau latihan bahasa Inggris? Bisa dibayangkan dong, berapa banyak yang mengejek untuk menjatuhkan mental dan kepercayaan dirinya? Budaya inikah yang mau dipelihara sebagai nilai?

Dulu waktu mempertimbangkan sekolah untuk Emily, saya sempat mempertimbangkan sekolah yang menggukanan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, dan ada saja yang nyeletuk: “tinggal dimane sih emang, sok pakai bahasa Inggris?”

Tingkah kepiting.

Dalam berlalulintas tidak terkecuali. Bila saya (sebagai pengendara motor), berhenti dibelakang garis stop, pasti ada saja yang mengklakson untuk menyuruh saya lebih maju lagi. Dia yang tidak sabar, saya yang kena getahnya. Bullying.

Mau sampai kapan ya, sikap ini dipelihara? Kalau saya sih sudah tidak mau lagi dicapit. Saya menolak untuk stagnan. Lebih baik berjalan sendirian ke arah yang benar (menurut saya) dibandingkan berjalan ramai-ramai ke arah yang ttidak sesuai dengan tujuan saya.

Posted in cuap-cuap

Makhluk Diunal

Giat siang atau diurnal adalah sifat perilaku hewan (atau juga tumbuhan) yang aktif di siang hari, sementara di malam harinya tidur. Jika bukan diurnal, hewan bisa jadi bersifat nokturnal (aktif di malam hari) atau krepuskular (aktif di saat remang-remang, seperti saat fajar dan senja hari) – Wikipedia Indonesia

Saya adalah makhluk pagi. Saya menyalakan weker saya pukul 4 setiap paginya. Saya suka keheningan dan ketenangan yang dibawa oleh pagi. Saya menikmati kesendirian saya saat pagi.

Beda dengan kebanyakan orang yang akan terantuk-antuk bila diharuskan bangun pagi, saya sukarela bangun pagi. Bukan untuk olahraga (padahal bisa ya? hihihi.. ), tapi hanya untuk menjadi sendiri, untuk mengumpulkan sisa-sisa diri yang tercecer sepanjang malam sebelumnya.

Dan berbeda dengan kebanyakan orang, saya tidak bisa bergadang. Untuk tetap terjaga melewati pukul 10 malam saja sudah luar biasa buat saya. Apalagi untuk tetap terjaga (dan fungsional) sepanjang malam.

Banyak pekerjaan saya yang justru terselesaikan dipagi hari, bukan di malam hari. I guess I am just most inspired in the morning.

Pagi hari (bahkan subuh) mempunyai arti tertentu buat saya: me-time yang paling menenangkan.

Selamat Pagi!

Posted in cuap-cuap

Takut Untuk Mulai Membaca

Saya suka membaca, dan saya terbilang cepat dalam membaca. Mungkin dengan begitu banyaknya buku (baca: novel) yang pernah saya baca, kecepatan membaca saya lama-lama terlatih.

Ini juga yang membuat saya agak takut untuk membaca lagi. Bukan karena apa-apa, tapi saya takut buku yang saya baca cepat selesai. Apalagi bila itu penulisnya merupakan penulis favorit semisal Neil Gaiman atau Dee Lestari.

Buku terakhir Neil Gaiman yang saya baca, The Ocean At The End Of The Lane, habis saya lahap hanya dalam dua hari. Padahal sebelum membaca saya sudah bertekad untuk membacanya dengan perlahan, diresapi kata demi kata. Jangan buru-buru selesai, kata saya dalam hati. Tapi entah mengapa, somewhere along the road, saya langsung kembali ke kecepatan saya semula. Dan tidak sampai satu minggu, selesailah buku setebal 260 halaman tersebut.

Rasanya masih belum puas.

Bayangkan bila sedang liburan lalu naik sepeda. Pemandangan cantik, udara yang bersih dan segar. Tanpa sadar, sepeda dikayuh terlalu cepat dan pemandangan yang cantik dan udara yang segar tiba-tiba berakhir.

Sekarang saya mulai membaca karya Dee yang baru terbit, Supernova: Gelombang. Agak takut untuk memulainya, karena takut bila tiba-tiba berakhir. Tapi begitu memulai, susah untuk berhenti. Waktu kuulur. Berlama-lama tidak membuka plastiknya. Tapi saya penasaran apa cerita dalam buku ini. Semoga saya bisa mengendalikan kecepatan membaca saya, sehingga euforia ini tidak cepat berakhir.

Posted in cuap-cuap, knitting and crochet

Taplak Kotak Untuk Si Bulat

Taplak kotak-kotak
Taplak kotak-kotak

Bertahun-tahun nyemplung di dunia rajutan, tapi untuk membuat pola dari square sederhana sepertinya tidak pernah (atau bahkan dibilang hampir seperti menghindar).

Tapi akhirnya taplak kotak-kotak ini dibuat, dengan pola square sederhana, dan akan menjadi bahan pola untuk bulan September 2014 di milinoni.com.

Pola yang mudah, hanya square 5 putaran, dengan warna monokrom: putih, abu-abu, dan hitam. Mumpung masih pagi, saya mau upload polanya di milinoni.com (publish-nya tetap bulan September).

Ditunggu yaaa..