Perjalanan seorang Herli

"because writing is, like death, a lonely business." – Neil Gaiman

Tingkah Kepiting

Saya pernah mendengar kalau sekelompok kepiting, walaupun diletakkan dalam baskom, tidak akan pernah bisa keluar dari baskom. Katanya, bila ada satu kepiting yang berusaha keluar dari baskom, ada saja kepiting lainnya yang akan mencapitnya dan menariknya jatuh masuk kedalam baskom kembali.

Persis sekali dengan kenyataan yang ada di sekitar kita. Peer pressure atau tekanan dari pihak rekan sangat kental. Tidak hanya disekolah, tapi di kehidupan sehari-hari pun berlaku.

Untuk bisa maju, menjadi susah karena budaya kepiting tadi. Pernah dengar soal supir taksi yang mau latihan bahasa Inggris? Bisa dibayangkan dong, berapa banyak yang mengejek untuk menjatuhkan mental dan kepercayaan dirinya? Budaya inikah yang mau dipelihara sebagai nilai?

Dulu waktu mempertimbangkan sekolah untuk Emily, saya sempat mempertimbangkan sekolah yang menggukanan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, dan ada saja yang nyeletuk: “tinggal dimane sih emang, sok pakai bahasa Inggris?”

Tingkah kepiting.

Dalam berlalulintas tidak terkecuali. Bila saya (sebagai pengendara motor), berhenti dibelakang garis stop, pasti ada saja yang mengklakson untuk menyuruh saya lebih maju lagi. Dia yang tidak sabar, saya yang kena getahnya. Bullying.

Mau sampai kapan ya, sikap ini dipelihara? Kalau saya sih sudah tidak mau lagi dicapit. Saya menolak untuk stagnan. Lebih baik berjalan sendirian ke arah yang benar (menurut saya) dibandingkan berjalan ramai-ramai ke arah yang ttidak sesuai dengan tujuan saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>