Perjalanan seorang Herli

"because writing is, like death, a lonely business." – Neil Gaiman

Sebelas Malam Tanpa Emily

Setelah sembilan bulan tidur dengan Emily disamping saya, tanggal 5 Januari 2011 kemarin saya mengawali sebelas malam tanpa Emily karena saya menjalani rawat inap di RS PGI Cikini karena menjalani operasi struma tiroid toksik alias pengangkatan sebagian kelenjar tiroid akibat pembesaran kelenjar karena hipertiroid.

Tadinya, selama lima tahun saya mengidap hipertiroid ini, saya memang menghindari operasi. Saya takut sekali dengan yang namanya operasi, apalagi dengan semua infus dan suntikannya. Tapi akhirnya menjelang akhir tahun lalu saya putuskan untuk menjalani operasi ini. Alasannya cukup sederhana: saya mau sehat demi Emily.

Hipertiroid saya adalah jenis yang beracun, dalam artian kadar hormon tiroid saya terlalu banyak dalam darah. Kelenjar tiroid saya terlalu aktif mengeluarkan hormon tiroid secara terus menerus. Ini yang mengakibatkan gejala-gejala seperti cepat kurus (saya turun 16 kg sejak melahirkan), rambut rontok, jantung berdebar-debar, susah tidur, gemetaran, dan dalam beberapa kasus akan mengakibatkan bola mata tampak menonjol. Bola mata kiri saya sempat menonjol, walaupun sekarang tidak begitu kentara lagi.

Bila dibiarkan saja, hipertiroid toksik bisa menyebabkan penderitanya mengalami gangguan jantung. Nah kalau sudah kena ke jantung, susah deh menyembuhkannya. Inilah yang akhirnya “menghantam” saya untuk akhirnya memilih untuk menjalani operasi.

Prosedurnya adalah, saya harus menjalani perawatan praoperasi selama 2 minggu (perkiraan dokter) atau selama yang dibutuhkan untuk mengeraskan kelenjar gondok saya tersebut. Proses ini dinamakan lugolisasi, karena saya diberikan obat tetes oral yang bernama Lugol yang berfungsi untuk mengeraskan kelenjar saya tersebut.

Proses yang bisa dibilang lama, karena saya tidak seperti pasien lain yang lemah lesu lunglai tak berdaya di tempat tidur. Bahkan saat saya masuk, saya sering ditanya, pasiennya yang mana. Untungnya saya masih diperbolehkan untuk merajut dan merenda selama proses lugolisasi ini. Kalau tidak bisa bosan sekali. Hihihihi…

Makan Siang

Makan Siang

Tempat untuk jalan masuk cairan infus mulai dipasang ditangan kiri saya tanggal 6. Itupun untuk menyuntik vitamin K satu kali sehari. Hari Sabtu tanggal 8, tangan saya yang dipasangi alat tersebut mulai bengkak. Akhirnya saya minta untuk jalan masuk infusnya dicopot saja dan untuk pemberian vitamin K, saya minta untuk disuntik langsung. Jadi saya masih bisa gendong-gendong Mily kalau dia datang menjenguk.

Setelah kelenjar cukup keras, barulah bisa ditentukan  kapan operasinya. Untuk kasus saya bisa dibilang cukup cepat karena seminggu sejak masuk RS, kelenjar saya sudah cukup keras untuk dioperasi. Jadi tanggal untuk operasi ditetapkan: 12 Januari 2011 jam setengah delapan pagi, bertepatan dengan Ulang Tahun RS PGI Cikini yang ke 113.

Saya diharuskan puasa karena memang akan bius total. Tidak bisa tidak, kali ini saya harus dipasang alat untuk infus ditangan kanan. Operasinya sendiri diperkirakan akan berlangsung 2 jam. Dan setelah operasi selesai, saya akan ditempatkan di kamar ICU untuk satu malam. Ini prosedur dan permintaan si dokter bedah. Oh iya, saya menggunakan dokter bedah bernama dr Togar Simanjuntak  SpB Onc yang kabarnya memang ahlinya bedah tumor.

Tanggal 12 Januari 2011 pagi, jam tujuh pagi saya dibawa ke kamar operasi. Saya sudah wanti-wanti sama dokter anastesi kalau saya tidak mau lihat kamar operasinya. Saya kepinginnya sudah terbius saat memasuki kamar tersebut. Eh tapi ternyata, tidak ada pembiusan sebelum masuk kamar operasi. Saya akhirnya disuruh untuk tutup mata saja.

Saya mendengar ada yang menegur saya, “Selamat pagi Bu” dan disusul dengan sahutan rekannya, “Jangan diajak ngomong si ibunya, dia ga mau lihat ruangannya.” Hehehehe.. untung ada yang nolongin. Walaupun tidak melihat kamar operasinya,samar-samar saya mengetahui kalau ruangan tersebut terang sekali. Banyak lampu yang menyorot.

Lalu ada yang pegang pergelangan tangan tempat alat infus berada dan bilang, “suntik dulu ya..”

Setelah itu yang saya ingat, saya bermimpi sedang meronta-ronta dan habis itu saya dibangunkan, “Bu bangun Bu, dah selesai ya.” Lalu saya ditinggal sendirian di ruangan itu, menunggu suster dari Bangsal C untuk menjemput saya masuk ICU.

Saya ingat sewaktu saya dibawa keluar menuju ICU, ada yang menyentuh-nyentuh pipi saya dan menganggil saya dengan “Michelle.. Michelle..” Saya merasa heran, karena saya tidak mengenal si bapak ini. Lalu suster yang membawa saya bilang kalau dia salah orang. Baru deh setelah itu saya melihat Dedi dan I Asiaw.

Sewaktu di ICU, saya ingat Dedi bertanya apa yang dirasa. “Kalau ngomong masih sakit”, jawab saya. Lalu saya mendengar ada suara nyanyi-nyanyian dari pengunjung ranjang sebelah jadi saya juga meminta diseteli musik sama Jimz. Lalu saya menyadari kalau infus saya pindah ke tangan kiri dan saya sempat membuat tanda jempol untuk memberitahu Jimz dan I Asiaw kalau saya baik-baik saja.

Suara saya masih bisik-bisik. Tidak kuat untuk mengeluarkan volume yang normal.

Saya merasa badan saya kaku dan lemas. Masih pengaruh bius sih ya. Tapi saya memang tidak berani bergerak banyak. Leher saya diperban tebal. Tangan kiri dipasang infus. Tangan kanan dipasang alat tensi (yang bakal mengukur tekanan darah saya 30 menit sekali secara otomatis). Lalu saya dipasangi tempelan sensor untuk detak jantung dengan kabelnya ada dibawah lengan kanan. Jadi, bagaimana bisa bergerak? Nanti salah-salah malah ada yang tercabut lagi. Hiiii.. seram..

Tapi saya tidak dipasang kateter. Dan ini.. adalah.. satu hal.. yang membuat saya lega sekaligus ribet. Ribet, karena kalau pipis saya harus menindih pispot berbentuk baskom yang diselipkan dibawah bokong. Gravitasinya salah! Saya harus “mengumpulkan” keinginan untuk buang air kecil, tahan-tahan sampai penuh sekali rasanya, setelah itu harus konsentrasi agar si air seni bisa keluar melawan gravitasi. Huf.. Akhirnya setelah beberapa kali percobaan, bisa juga.

Sorenya saya dibesuk oleh Jimz, mama Jimz dan Ko Ping. Mereka berganti-gantian masuk karena “jatah” pengunjung pasien ICU hanya 2 pengunjung per pasien. Tapi sore itu saya sudah bisa makan es krim, dan sudah bisa bicara dengan volume yang bukan bisik-bisik.

Setelah satu malam berbaring di ICU, keesokan pagi saya dipindah ke kamar saya di bangsal C. Saya belajar duduk dan pindah ranjang sendiri pagi itu. Hal pertama yang saya lakukan setelah masuk kamar C1 adalah.. pipis di toilet. Huah, lega bukan main. Kali ini gravitasinya mendukung saya untuk mengeluarkan air seni. Hohoho..

Ternyata saya dipasangi selang untuk drainase darah bekas operasi. Dan drainase saya ada dua. Banyak suster yang kaget dengan dua drainase tersebut. Biasanya hanya satu. Tapi seperti yang dibilang si dr Togar: Ini kan bukan operasi biasa, ini operasi luar biasa.

Saya masih belum bisa ganti posisi kalau tidur, kalau saya pindah posisi, ada rasa tertarik di leher. Jadi saya hanya berbaring terlentang. Punggung saya sampai merah, kata suster yang memandikan saya sore itu. Jadi setelah mandi (menggigil), dengan drainase terjepit di baju, saya berjalan-jalan sore ditaman dengan Jimz, untuk menghilangkan rasa pegal di punggung dan kepala.

Sore itu Mily tidak datang menjenguk. Saya sempat berpikir, ya lebih baik tidak jenguk deh, nanti kalau jenguk malah jadi kepengen gendong tapi tidak bisa.

Jumat siang tiba-tiba Mily datang menjenguk. Mama Jimz tidak buka toko hari itu jadi bisa membawa Mily menjenguk, bersama Ie Fan dan Menen. Lalu tiba-tiba Mami nongol. Lhaaaa.. Mami kan lagi di Singapore! Ternyata eh ternyata, si Mami kepikiran sampai nangis-nangis sewaktu mendengar anak cewek satu-satunya ini masuk ICU. Padahal kan ini prosedurnya si dokter. Miskomunikasi, sodara-sodara. Saya pikir sudah memberitahu Dedi kalau memang prosedurnya begitu, tapi ternyata belum. Jadi sewaktu Dedi memberitahu Mami kalau saya masuk ICU, meledak nangis bombai lah si Mami. Akhirnya dibelikan tiket pulang deh sama Ko Son2 dan So Tasia.

Baru deh setelah melihat sendiri keadaan saya, si Mami percaya kalau memang masuk ICU sehabis operasi kemarinan itu hanyalah prosedur. Tadinya, si Mami bilang, pasti ada apa-apanya nih. Gak ada apa-apa, Mamikuuu… Memang saat dibawa keluar dari ruang operasi saya terlihat pucat, kata mama Jimz, karena mengeluarkan banyak darah. Tapi sorenya sudah tidak pucat lagi. Bahkan Jumat pagi drainase saya dilepas karena darah yang keluar sudah tidak banyak. Lega oh lega.

Saya memaksakan diri untuk makan semua makanan yang disajikan rumah sakit: makan pagi siang sore berikut dua kali snack. Dengan begitu kan saya tidak ada alasan untuk diinfus terus, kecuali untuk obat antibiotik yang masuk melalui infus. Hari Sabtu, saya sudah tidak di infus dan sudah dapat duduk sendiri.

Hari Minggu tanggal 16 Januari 2010 saya pulang, dengan membawa 20 jahitan di leher, dan kondisi leher yang masih diperban, walaupun tidak setebal setelah operasi. Sepuluh malam sudah, tidur tanpa Emily.

Minggu malam, saya tidur disamping Emily lagi. Mungkin karena belum terbiasa dengan keberadaan saya kembali di sampingnya, dia terbangun sambil menangis jam sembilan malam. Dan tidak bisa didiamkan dengan segera. Akhirnya malam itu Mily tidur dengan mama Jimz lagi.

Esok paginya, saya langsung melancarkan metode pedekate lagi ke Emily. Pokoknya saya mau dia mengerti kalau mamanya sudah kembali. Mungkin dia masih canggung. Senin malam, setelah sebelas malam, akhirnya kami tidur bertiga lagi: saya Jimz dan Emily. 🙂

Sekarang setelah seminggu pulang RS, semua jahitan sudah dilepas begitu juga perbannya. Saya diberi bubuk antibiotik untuk dibubuhkan ke luka jahitannya. Dan sekarang waktunya latihan menoleh kanan kiri atas bawah untuk mengembalikan elastisitas kulit leher. *semangat!*

Transformasi Keadaan Leher

Transformasi Keadaan Leher

Gambar 1. Keadaan perban di leher sore hari setelah keluar ICU
Gambar 2. Keadaan perban di leher sebelum pulang
Gambar 3. Keadaan perban di leher setelah kontrol pertama untuk cabut 10 jahitan
Gambar 4, Keadaan leher setelah semua jahitan dicabut, lepas perban dan diberi bubuk antibiotik.

Thanks to:

  • Jimz, mama Jimz, Ie Fan, Ko Ping, Ko Hawi. Apak Asi, Menen, dan Mbak Iin yang sudah bantuin ngurus Emily.
  • Prof Slamet (endokrin), dr Togar (bedah), dr Marulam (jantung) dan timnya, dan dr Indro (anastesi).
  • Semua suster di ICU dan bangsal C: suster Minar, suster Maskita, suster Netty, suster Nury, suster Roslinda, suster Marlina, suster Sorta, suster Martiana, suster Herlin, suster Dewi, dan suster lain yang belum disebut disini.

7 Responses to “Sebelas Malam Tanpa Emily”

  1. vivien says:

    Hi, thank you sharing nya…
    Aku juga disuruh operasi ke DR Togar oleh Prof Slamet, tapi masih masih takut. Sekarang gimana bekas jahitannya, sudah membaik?
    Btw, waktu itu habis berapa duit operasinya?

    Thanks ya Herli..

  2. Herli says:

    @vivien: Sekarang sih sudah normal tiroidnya, walaupun masih harus kontrol tiap 6 bulan sekali. 🙂

  3. Leny says:

    Sekarang udah berhasil naik berat badannya mba? Boleh tahu alamat emailnya mba? Aku jg punya masalah thyroid nie, boleh nanya2 dikit? Thanks..

  4. tiwi says:

    ya nih mbak..boleh minta no hpnya gak…q juga mau operasi nih

  5. Ita says:

    Hai mba.. thx sharingnya.. boleh nanya2 tidak? Ada rekomendasi juga ke dokter Togar. Beliau lebih ke thyroid atau bedah tumor sepetri kanker recomended juga tidak? Boleh tau no wa dan email mba Herli? Thanks ya.

  6. Herli says:

    @Ita: dr Togar itu dr bedah, ga spesifik di thyroid

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>