Perjalanan seorang Herli

"because writing is, like death, a lonely business." – Neil Gaiman

Kisah Dibalik Sebuah Sarung Cushion

Minggu kedua di tahun 2010, saya dan Jimz membeli sebuah bantal sofa alias cushion. Memang tumben sekali, karena biasanya saya bukan orang yang “melek” pernak-pernik seperti cushion itu. Tapi berhubung satu bantal berbentuk semangka sepertinya tidak cukup untuk mengganjal punggung saya sewaktu tidur, akhirnya cushion itu kami beli juga.

Tidak ada sarung di cushion berdimensi 40×40 cm  itu. Jadi hanya bantal saja. Dan saya kedapatan tugas untuk memberinya sarung, dengan rajutan tentu saja. >.<

Setelah melihat sana sini dan mencari-cari pola untuk sarung cushion, saya akhirnya mendapatkan ide untuk membuat kotak-kotak saja. Warnanya sudah ditentukan oleh Jimz: harus kuning dan oranye.

Sarung ini termasuk project yang cukup besar untuk saya. Besar dalam arti sebenarnya (40×40 cm), dan besar karena cukup rumit setelah mulai dikerjakan.

Benang dipesan: 3 gulung kuning dan 3 gulung oranye. Saya langsung mulai mengerjakan rajutan itu. Saya membuatnya langsung selebar 120 stitches, dan setelah mengerjakan lebih dari 15 baris dengan hati-hati, akhirnya karya saya yang belum separo jalan itu.. bredel..

Patah semangat..

Akhirnya saya memutuskan untuk membuatnya sepotong demi sepotong saja baru nanti disambung-sambung. Tapi berhubung sempat bredel, rasanya saya malas sekali.. karena sudah terlanjur terdemotivasi.

Saya berencana membuat tujuh bagian dari sarung itu yang nantinya akan disambung-sambung. Saya sudah menghitung waktunya. Untuk satu bagian, saya membutuhkan waktu kurang lebih tujuh jam. Dan kalau setiap hari saya mengerjakannya, berarti hanya dibutuhkan waktu selama satu minggu untuk menyelesaikannya.

Tapi ya itu.. karena sudah terlanjur terdemotivasi, akhirnya saya malas-malasan membuat bagian-bagian itu. Satu minggu berlalu dan saya masih belum selesai bahkan setengahnya.

Bagian demi bagian mulai disambung, dan bentuknya mulai kelihatan. Semangat saya muncul lagi. Saya mulai “ngebut” untuk mengerjakan bagian-bagian yang belum dikerjakan dan mematok deadline sendiri: akhir Januari sudah harus selesai.

Hasilnya? Saya cukup tersiksa dengan tengat waktu yang telah saya tentukan sendiri itu. Saya hanya mempunyai waktu 6 hari lagi sampai akhir Januari, dan masih ada sekitar 4 bagian lagi yang harus dikerjakan. Setiap hari hanya berkutat dengan benang kuning dan oranye.

Tapi akhirnya tengat waktu itu terpenuhi. Tanggal 30 Januari 2010, sarung cushion itu selesai! Dan yang tersisa hanyalah pundak yang pegal-pegal dan rasa puasssss…

Memang membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu lebih dari 2 minggu, tapi saya puas sekali melihat hasilnya. Sampai-sampai kepingin untuk membuat sarung cushion lagi. Hihihi.. Mumpung benang yang terpakai hanya satu gulung untuk masing-masing warna.

Sarung Cushion 40x40 cm

Sarung Cushion 40x40 cm

One response to “Kisah Dibalik Sebuah Sarung Cushion”

  1. narry says:

    salam hangat,

    senang bisa buat rajutan untuk kebutuhan sendiri
    lanjutkan blog-nya untuk vidio spya jadi inspirasi bagi yang lain

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>