Perjalanan seorang Herli

"because writing is, like death, a lonely business." – Neil Gaiman

Prosa: Lari dari Hujan (Bagian 3/3)

Tiga tahun yang lalu

Ini kali pertamanya aku memberanikan diri untuk menelpon kembali kerumah orangtuaku, menanyakan kabar mereka.

Ibuku yang menjawab telepon itu. Beliau langsung menanyakan tentang keberadaan serta keadaanku. Aku menjawab seadanya. Kujawab bahwa sejak aku lari dari rumah kontrakan itu, aku pindah kekota lain, memulai lembaran baru bagi hidupku.

Kukatakan pada ibuku bahwa aku menjadi pelayan sebuah restoran sejak dua belas tahun yang lalu dan sekarang sedang membina hubungan dengan seorang laki-laki pelanggan restoran tempatku bekerja.

Kukatakan pada ibuku bahwa kami akan segera menikah tahun depan. Ibuku tidak menjawab, tapi aku yakin ia pasti berkaca-kaca tersenyum bahagia.

Ini kali pertamanya aku memberanikan diri untuk menelpon kedua orangtuaku dan meminta restu mereka.

Dua tahun yang lalu

Ini pertama kalinya aku melihat kedua orangtuaku sejak peristiwa dirumah kontrakan itu. Mereka terlihat bahagia dengan pernikahanku.

Pernikahanku hanya dihadiri oleh keluarga terdekat dari dua keluarga.

Tak terasa air mata mulai bergulir dipipiku. Tak pernah sekalipun kusadari sampai detik ini betapa aku merindukan mereka. Cepat-cepat kusapu air mataku untuk menghindari pertanyaan suamiku.

Ia adalah seorang yang baik, suamiku itu. Ia menerimaku bahkan setelah kukatakan aku bukanlah seorang gadis lagi. Ia tidak menuntut banyak. Ia benar-benar mencintaiku dan aku mencintainya.

Seminggu yang lalu

Ingatan itu terus menghantuiku.

Aku masih sering terbangun dimalam hari, menangis diam-diam karena takut terdengar oleh suamiku yang masih tidur. Aku menangis menggantikan air mata yang tidak sempat keluar lima belas tahun yang lalu.

Ternyata aku masih lemah. Aku tidak sekuat yang kupikirkan dulu. Aku masih tidak sanggup memulai lembaran baru. Aku masih takut untuk kembali mengandung.

Kuputuskan untuk kembali ke rumah kontrakan itu untuk mengatasi rasa traumaku.

Lusa.. Ya, lusa aku akan kembali kesana.

Kemarin

Sudah lima hari berturut-turut aku bolak-balik kembali ke rumah itu tanpa berhasil mengatasi rasa takutku. Semua ingatan terasa terputar kembali saat aku melihat rumah itu.

Besok saja, aku akan kembali besok.

Sekarang

Tidak akan ada lain kali. Aku harus melakukannya sekarang.

Aku sudah berjalan menjauh berapa langkah sewaktu kurasakan kakiku membawaku kembali kembali menghampiri rumah tua itu. Kumantapkan langkahku dan kukebalkan semua inderaku melawan rasa takutku untuk memasuki rumah itu.

Hari ini adalah hari yang cerah dengan matahari memancarkan sinarnya yang paling kuat. Tidak terlihat seberkas awanpun dilangit.

Rumah itu masih kosong, tidak pernah ada yang bersedia tinggal di rumah itu sejak kejadian lima belas tahun yang lalu. Rumput serta ilalang tumbuh tidak teratur di halamannya dan tampak cat di dinding luar bangunan itu sudah mulai mengelupas termakan cuaca.

Aku terus melangkah menuju pintu depan rumah itu. Semua kenangan itu seakan terjadi kembali disekelilingku. Hujan yang rintik-rintik di halaman basah, selimut tipis yang menutupi tubuhku melawan hawa dingin, secangkir teh manis hangat, rasa sakit itu, napasku yang sepotong-sepotong, teriakanku dipintu depan, hujan.. hujan rintik itu..

Aku merasakan napasku sesak.

Aku harus bisa. Aku harus kuat.

Pintu depan itu tidak terkunci dan dapat kubuka dengan mudah. Pintu itu mengernyit dan berayun menerbangkan debu yang menumpuk dirumah itu. Semuanya masih sama. Kursi di dekat jendela, meja dan lemari. Semuanya masih di posisi yang sama saat kutinggalkan lima belas tahun yang lalu.

Kutelusuri rumah itu menuju kamarku di rumah itu. Aku masuk ke ruangan itu, duduk di ranjang berdebu dan membiarkan diriku melebur masuk dalam kenangan lima belas tahun lalu. Pelan-pelan ingatan itu mulai menjadi bagian dari diriku. Kurasakan semua sensasinya meresap masuk sampai ketulangku.

Aku menerimanya.

Inilah aku. Inilah kehidupanku. Yang lalu tidak dapat diubah.

Sudah sore sewaktu aku tersadar kembali ke masa kini. Aku keluar dari kamar itu, dari bangunan itu, kali ini dengan tersenyum.

Terima kasih atas semua pengalaman dan pelajaran berharga itu. Tanpa pengalaman itu, aku tak mungkin menjadi aku yang sekarang.

Saat aku pulang menemui suamiku malam ini, aku bukanlah orang yang sama. Aku telah menjadi orang yang kuat. Orang yang siap membuka lembaran baru kehidupan bersama suamiku.

TAMAT
***
Herli Surjadjaja, 10 November 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>