Posted in prosa

Prosa: Lari dari Hujan (Bagian 2/3)

Aku terpaksa meninggalkan sekolah dan diasingkan ke pedalaman ini oleh orangtuaku sendiri. Mereka tetap membiayai kebutuhan sehari-hariku dengan syarat tidak ada yang boleh tahu aku hamil diluar nikah. Jadi sebuah cerita untuk menutui aib inipun diciptakan: aku adalah seorang janda dari seorang prajurit yang keburu meninggal dalam tugas saat aku hamil muda.

Aku bersikeras untuk mempertahankan bayi yang ada di perutku ini, bahkan saat semua orang lain tidak sependapat, tidak juga pria yang seharusnya bertanggungjawab. Bukannya bertanggung jawab, ia malah kabur tak tahu rimbanya begitu mendengar tentang keadaanku.

Sekarang aku tinggal sendiri di rumah kontrakan ini. Sepi tanpa orang lain. Hanya ada aku dan bayiku. Dan dengan sekali usapan di perut, bayiku kembali tertidur sementara aku kembali hanyut dalam melodi hujan.

Ah, sakit sekali. Perutku sakit sekali.

Rupanya aku tertidur dan terbangun karena rasa sakit diperutku. Apa mungkin lahir sekarang, pikirku. Tapi aku sendirian dan butuh waktu satu jam sampai ada bidan yang datang.

Aku melihat kearah perutku dan kudapati cairan berwarna pink sudah membasahi beberapa titik di pakaianku. Air ketuban dan darah.

Aku harus mencari pertolongan.

Hujan masih turun walaupun hanya rintik-rintik. Aku mencoba berjalan ke pintu depan dan berpegangan pada sesuatu untuk membantuku tidak terjatuh. Kursi, meja dan lemari menjadi tempatku bertumpu, menyeret langkahku kearah pintu.

Sedikit lagi, tinggal sedikit lagi.

Aku mencapai pintu depan dengan napas setengah-setengah. Kubuka pintu itu dan mencoba berteriak minta tolong pada tetangga. Aku mendengar diriku sendiri berteriak pelan dan semuanya menjadi gelap. Aku jatuh tak sadarkan diri, setengah tubuhku tersiram hujan rintik-rintik didepan pintu.

Gumaman. Aku mendengar suara orang bergumam. Jauh sekali.

Aku membuka mata dan memejamkannya kembali karena silau dengan cahaya lampu. Pelan-pelan kubuka kembali mataku. Kucoba mengingat apa yang telah terjadi. Mengapa aku berada di ranjang dengan bidan, orangtua dan tetanggaku disekelilingku, bergumam pelan.

Ingatanku mulai kembali. Perut.. Darah.. Hujan..

Mereka sepertinya belum menyadari aku terbangun. Kucoba untuk merasakan perutku dan aku tersentak mendapati perutku sudah tidak menyembul lagi. Orang-orang itu mulai mendekatiku, ibuku dan beberapa wanita mulai menangis. Naluriku mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Kesadaranku mulai menghilang kembali.

Aku seakan melayang, semua suara terdengar jauh tapi sempat kudengar sepotong-sepotong. Kakinya keluar duluan.. Kehilangan banyak darah.. Tidak sempat diselamatkan..

Aku mau sendiri, kataku pada mereka dan aku ditinggalkan sendiri dikamarku. Bahkan air mata tak sanggup keluar dari mataku.

Aku ditinggalkan sendiri dirumah ini. Sesekali ada tetangga yang mengantarkan makanan di pintu depan tapi tak pernah kusambut. Aku tidak keluar rumah selama berbulan-bulan dan akhirnya di suatu malam, aku keluar dari rumah itu, diam-diam, lari dari ingatan mengerikan tentang kematian bayiku.

Aku sengaja tidak mengabari siapapun, termasuk orangtuaku. Aku hanya pergi, menjauh dari situ. Menjauh dari kenangan itu.

bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *