Posted in prosa

Prosa: Lari dari Hujan (Bagian 1/3)

Sepuluh menit yang lalu

Lima belas tahun sudah sejak aku terakhir menginjakkan kaki tempat ini. Kini aku kembali ke tempat ini. Tempat dimana tersimpan kenangan yang paling menghantuiku sampai sekarang.

Lima belas tahun ternyata belum cukup untuk mengatasi rasa takutku pada tempat ini. Kedua tanganku gemetar tanpa kusadari. Aku langsung mengepalkan tangan dan menelan ludah untuk mengatasi rasa takutku.

Seratus persen gagal. Rasa takut ini mulai menguasaiku kembali. Aku tidak bisa lari dari ingatan-ingatan mengerikan itu. Kucoba menutup mataku tapi ingatan mengerikan itu malah terputar kembali didalam kepalaku.

Tidak bisa begini. Aku tidak bisa begini.

Kupatahkan niatku untuk memasuki bangunan tua itu hari ini. Aku akan mencoba kembali lain kali.

Lima belas tahun yang lalu

Musim hujan tiba lebih cepat tahun ini. Kebun di sekeliling rumah ini basah hampir setiap hari. Matahari jarang menyembul dari balik awan mendung yang menggantung. Dingin sekali.

Di hari yang hujan seperti hari ini aku bermalas-malasan dari tugasku membereskan rumah yang biasa kukerjakan sehari-hari.

Aku duduk di kursi dekat jendela ditemani dengan selimut tipis dan secangkir teh manis hangat sambil menikmati hujan. Sebuah buku sudah menunggu untuk kubaca, tapi hari rasanya aku tidak berminat untuk membaca buku. Hujan seperti telah menghipnotisku.

Aku menutup mata dan membiarkan indera penglihatanku kehilangan akses terhadap dunia luar. Sekarang tinggal indera pendengaran dan penciumanku yang bekerja. Suara hujan, aroma tanah yang tersiram hujan..

Semua kulahap pelan-pelan dan kunikmati sensasi yang dibawanya. Sejenak kulupakan semua beban.

Lalu tiba-tiba kurasakan kembali perutku bergerak dan senyum tipis mengulas bibirku tanpa kusadari. Ya, aku hamil. Sudah delapan bulan minggu ini, padahal umurku belum genap delapan belas tahun.

bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *