Perjalanan seorang Herli

"because writing is, like death, a lonely business." – Neil Gaiman

Serumit itukah, saya?

Siang ini saya ditawari makan BeGor (Bebek Goreng) oleh salah satu teman, dan saya menolak. Saya mengatakan akan mulai menghindari makan bebek. Teman saya yang satu lagi bertanya kenapa. Saya menjawab sekenanya, “sudah banyak makhluk yang harus mati untuk mencukup kebutuhan makanan,” setengah bercanda setengah serius.

Saya memang tidak mengharapkan tanggapan yang “sesuai” dengan yang dipikiran saya. Dan benar saja, teman yang menanyakan alasan saya itu menimpali, “kan, mereka itu semua diciptakan untuk kita,” setengah bercanda setengah serius.

Mungkin saya hanya kecewa.. Entahlah.. Saya hanya ingin dimengerti. Dan sepertinya saya belum dimengerti.

2 Responses to “Serumit itukah, saya?”

  1. krilozh says:

    hai herli, salam kenal. menurut saya betul kata2 kamu. semua makhluk punya hak untuk hidup. mereka semua mati cuma karena kita sebagai manusia yang terlalu serakah. mereka diciptakan untuk kita untuk hidup berdampingan dengan kita, bukan hanya untuk sekedar dibunuh dan dimakan. tapi kadangkala memang susah jaman sekarang untuk tidak makan daging sama sekali. kalo menurut saya yang penting kita usahakan sedikit demi sedikit kurangi konsumsi daging. mohon maaf ya kalo kata2 saya ada yang salah. tolong dibenarkan.

  2. Herli says:

    @krilozh: saya senang ada yang mengerti saya *selain suami saya, tentunya 😀 *

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>