Harus saya akui, saya melewatkan suatu proses setelah persalinan yang tadinya saya anggap remeh: menyusui. Yep. Proses yang sebelumnya tidak pernah saya perhatikan ini malah jadi sesuatu yang berhasil menyita hampir seluruh perhatian saya sekarang.

Mungkin tidak pas bila dibilang saya terlambat, tapi kalau dibilang tidak terlambat, ya cukup terlambat juga.

Saat saya hamil, seingat saya saya tidak pernah mencari info tentang menyusui: tentang asi eksklusif 6 bulan, tentang cara-cara menyusui yang benar, tentang posisi perlekatan yang benar, atau hal-hal lain seputar praktek menyusui.

Saya terpaku ke proses persalinan. Saya sangat takut dengan proses persalinan itu. Takut sakit, takut darah, takut sesuatu yang buruk terjadi. Saking takutnya sampai saya lupa dengan proses yang pasti datang setelah persalinan berjalan lancar: menyusui.

Inisiasi Menyusu Dini (IMD) saya, bisa dibilang gagal, karena Emily tidak menyusu, tapi hanya mengecap-ngecap (saya baru-baru ini menyadari hal ini). Perlekatan pertama: Gagal.

Setelah ditaruh di ranjang saya di rumah sakit, Emily tetap tidak menyusu, tapi hanya mengecap-ngecap. Dan karena saya tidak pernah cari info tentang menyusui sebelumnya, saya tidak mengetahui hal ini juga. Perlekatan kedua: Gagal.

Pagi harinya, barulah Emily benar-benar menyusu. Perlekatan ketiga: Sukses. :)

Pulang dari rumah sakit, hampir semua yang menjenguk menganjurkan untuk memberikan Emily susu formula, dengan alasan tidak kenyang, atau supaya saya enak tidur di malam hari. Penurunan mental pertama: Sukses.

Beberapa hari setelah pulang dari rumah sakit, saya masih was-was apakah ASI saya sudah keluar atau belum. Kalau sudah keluar, cukupkah jumlahnya? Emily terus menangis dan akhirnya Jimz membeli satu boks susu formula (atas persetujuan saya) di meja makan. Penurunan mental kedua: Sukses.

Setelah mencari informasi di internet tentang ASI dan besar lambung bayi, susu formula tidak disentuh karena saya masih keukeuh dengan ASI karena ternyata lambung bayi masih kecil sekali. Kalaupun ASI saya sedikit, pasti masih bisa mencukupi kebutuhan Emily. Jimz pun tetap mendukung saya. Penurunan mental ketiga: Gagal. Saya kembali percaya diri.

11 April 2010 malam, dua minggu setelah saya memberikan ASI yang tidak jelas jumlahnya (karena memang tidak bisa dilihat), saya menyerah karena Emily menangis terus walaupun telah minum dari kedua PD saya. Akhirnya Emily mengecap susu formula malam itu. Penurunan mental keempat: Sukses.

Saya tetap berjuang untuk memberikan ASI walaupun sudah dibayang-bayangi susu formula. Dan setelah mendapatkan petunjuk memeras ASI dari internet, saya mencoba praktek. Saya hanya mendapatkan 10ml selama satu setengah jam memeras ASI. Penurunan mental kelima: Sukses.

Waktu membawa Emily kembali ke rumah sakit untuk imunisasi, saya mampir ke bagian persalinan dan meminta nasihat dari suster-suster disana. Dan ternyata, metode peras saya salah. Setelah sampai dirumah dan saya praktekkan metode memeras ASI yang benar, saya bisa mendapatkan hasil yang lebih baik. Penurunan mental keenam: Gagal. Saya kembali percaya diri.

Dan banyak rangkaian kejadian lainnya yang mengaduk-aduk rasa percaya diri saya. Satu hari saya percaya diri memberikan ASI, hari lainnya saya putus asa. Sampai akhinya saya kompromi dengan diri saya sendiri.

Sampai sekarang susu formula tetap diberikan kepada Emily, tapi hanya kalau ia sudah menyusu dari kedua PD saya dan masih lapar. Selain itu, tidak diberikan.

Dari menentang habis-habisan, saya akhirnya kompromi dengan diri saya sendiri dan menerima fakta bahwa kombinasi dari kurangnya ASI saya dan Emily yang kuat minum harus berujung pada susu formula.

Dan dengan begitu, Emily senang, sayapun tenang.

Sampai sekarang saya mencari-cari informasi bagaimana cara memperbanyak ASI yang belum pernah saya lakukan. Saya tetap optimis memberikan ASI, tapi saya sudah tidak menentang pemberian susu formula pada Emily. Saya menjadi realistis.

Saya berdamai dengan diri saya sendiri. When baby is happy, mommy is happy too.. :)

PS: Dalam semua rangkaian kejadian itu, Jimz tetap mendukung saya lho.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>