Saya menemukan kutipan diatas di halaman Wikipedia dari Neil Gaiman. Sedikit perkenalan, Neil Gaiman adalah salah satu penulis favorit saya. Hasil karyanya yang saya baca antara lain adalah Stardust, Neverwhere, dan Anansi Boys.

Kenapa bisa mempunyai tempat sebagai salah satu penulis favorit saya? Hmm.. karena semua konsep dan idenya bisa dibilang tidak biasa. Mulai dari bintang jatuh, adanya London Bawah dan London Atas, bahkan sampai dewa laba-laba yang jahil. Yap, tidak dapat dipungkiri, genre tulisannya cocok dengan selera saya.

Belakangan ini saya mendapat cukup banyak dorongan untuk mulai menulis. Entah itu cerita pendek, cerita bersambung, atau bahkan novel. Dukungan terbesar datang dari Jimz *makasi Jimz*. :D

Saya tidak mempunyai latar belakang menulis (secara profesional, red). Saya ingat saya pernah mendapat nilai 80 untuk kegiatan mengarang cerita pendek di pelajaran Bahasa Indonesia saat SMU. Ceritanya memang biasa saja. Tentang seorang gadis yang kesiangan bangun, terburu-buru naik angkutan umum dan setelah sampai di sekolah, baru sadar kalau itu hari Minggu. Saat sang gadis pulang kerumah kembali, sudah ada “panitia penyambutan” -terdiri dari keluarga, teman, dan tidak ketinggalan.. kekasih tercinta- karena secara si gadis juga lupa kalau hari itu ia berulangtahun. Cerita berakhir happy ending.

Dan berhubung cerita saya mendapat nilai tertinggi dikelas, saya mendapat kehormatan untuk membacakannya didepan kelas. Wuih.. malunya saya saat itu.. Soalnya, ada salah satu tokoh yang waktu itu bernama mirip dengan pacar saya waktu SMU.

Ada satu karya saya yang juga mendapat nilai tertinggi di pelajaran Bahasa Indonesia saat SMU. Masing-masing siswa diberi tugas untuk membuat satu karya tulis (karena gurunya tidak masuk, jadi kami hanya diberi tugas di jam pelajaran itu). Karya tulis dalam bentuk apapun. Dan saya ingat saya menulis soal polisi cepek.

Saya menulis tentang kebiasaan polisi cepek yang kadang emosional (kalau tidak diberi uang akan marah dan menggores mobil dengan pengemudi “pelit” tersebut). Saya menulis tentang kebiasaan mengumpulkan uang yang walaupun hanya cepek, tapi bisa ditabung. Saya menulis untuk kasus polisi cepek, uang yang terkumpul malah dibelanjakan untuk rokok, petasan, dan barang-barang remeh lainnya. Saya juga menulis tentang para polisi cepek yang mampu membelanjakan uang yang didapat, tapi merasa iri kepada orang yang mampu membeli handphone.

Sekarang, status mereka sepertinya berubah menjadi polisi gopek. :P

Sama tidak terduganya dengan karya cerpen saya, karya tulis kali ini juga mendapat nilai tertinggi. Saya bukan bermaksud menyombongkan diri. Apa sih yang bisa disombongkan dengan nilai tertinggi di kelas waktu SMU? Toh pelajaran praktek di dunia kerja lah yang sebenarnya memegang peranan. :)

Tapi sejak saat itu saya tidak pernah menulis lagi. Menulis bukanlah pekerjaan yang saya bayangkan. Lalu profesi saya berhubungan dengan teknis *software developer*. Sisi kreatif saya telah sukses menyembunyikan dirinya.

Saya mulai menulis lagi dalam bentuk blog. Blog pertama saya ada di Multiply, lalu pindah ke blogspot (sudah saya hapus) di bulan Juni 2008, dan di bulan September 2008, saya menghadiahi diri saya sendiri sebuah blog dengan domain herli.web.id sebagai kado ulang tahun. Saya putuskan untuk menulis secara teratur, kalau bisa 1 tulisan perhari. Tapi ternyata itu hal yang sulit. Saya terbiasa menggunakan otak kiri saya dan otak kanan yang berfungsi mengatur kreatifitas sering terhambat.

Saya sering mengatakan, menulis adalah terapi. Hah? Terapi apaan? Untuk saya, menulis merupakan terapi mencungkil sisi kreatif saya. Ekspresi. Ya, kedengarannya memang klise, tapi terapi ini berhasil membuat hidup saya berubah.

Saat ide sudah bercokol di otak saya, bawaannya langsung kepingin nulis. Soalnya kalau ditunda-tunda, bisa-bisa ide itu lenyap, atau mungkin keduluan ditulis orang lain. :P

Menulis, seperti yang dikatakan oleh Neil Gaiman, benar-benar urusan yang nyepi. Saat ide itu muncul dikepala saya, sayalah yang harus menulisnya, bukan orang lain. Sayalah yang harus menggodok ide itu supaya matang dan menghasilkan tulisan seperti yang saya inginkan.

Untuk saya, menulis sama seperti mandi. Merealisasikan tulisan dari ide yang muncul di kepala, tidak bisa diwakilkan. Menulis adalah hal yang personal.

Dan mengutip Dewi Lestari, “kita menulis apa yang ingin kita baca”. Benar sekali. :)

Category: cuap-cuap  2 Comments
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
2 Responses
  1. fay says:

    an inspiring words of U..actually I wanna write somethin’ but I don’t have enough time to write..what’s your suggestion about this?
    best regards
    fay ahmed

  2. Herli says:

    @fay: Benernya kita punya waktu untuk semua hal yang dibilang tidak ada waktu, cuma belum nemu aja. Begitu ketemu waktu yg dibutuhkan, langsung kerjakan jangan tunda lagi. Nanti waktu yang ada malah terpakai untuk hal lainnya.. :)

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>