Pasti pernah dong pergi ke kondangan, atau minimal ke sebuah pesta? Bagaimana sih situasi disana? Pernah merasakan sewaktu berdesak-desakan rebutan makanan? Well, saya pernah. Bukan dalam arti saya ikut dalam perebutan itu. Biasanya kalau sudah ada massa berkumpul di suatu pojok, mendingan saya nonton aja, cari makanan lain, daripada ikut rebutan disitu.

Seseorang di Facebook saya menulis:

Kondangan (Pronounced : Con-dung-un) is an event where brutality meets the elegance of uncivilized incontrolable unpredictable wild hungry mob seeking for limited food.

Dan sayangnya, ini benar sekali. Kondangan sudah disamakan dengan “makan gratis” atau lebih tepat lagi, “makan sepuasnya”. Saya sudah beberapa kali pergi ke kondangan dan sampai tidak napsu makan kalau harus rebutan karena antriannya sudah lenyap entah kemana. Kasihan banget deh sama yang punya hajatan.

Istilah “bebek saja antri” sepertinya sudah tidak mempan begitu mata-mata lapar itu sudah mengincar makanan. Yang tua, yang muda, sudah tidak ada batas umur sama sekali dalam rebutan makanan itu. Dan yang lebih menyedihkan, banyak orang yang sudah agak berumur yang tetap saja menyelip antrian, datang dengan muka tidak berdosa, langsung minta “jatah” (dan biasanya minta lebih) ke petugasnya, hanya dengan bermodal umur! Yap, orang itu minta diutamakan karena sudah tua! Alamak.

Bukankah yang tua biasanya memberi contoh? Tapi apa yang saya lihat malah kebalikan dengan yang sepatutnya. Bahkan ada anak kecil yang disuruh oleh kerabatnya yang sudah berumur untuk menyerobot antrian, lagi-lagi dengan modal umur. Kali ini karena terlalu muda untuk ditegur, akhirnya si petugas makanan itu tidak tega. Perbudakan anak kah ini? Ah, kasar sekali bahasa saya.

Beruntung sekali saya, waktu pesta pernikahan saya, tidak sampai terjadi perebutan makanan. Semua mengantri dengan tertib. Sebelum acara dimulai, saya sudah diberitahu bahwa kalau ada yang tidak antri, tray akan ditutup oleh petugasnya dan baru akan dibuka lagi begitu orang yang menyerobot itu antri. Baguslah!

Kejam? Mungkin. But let’s be fair, orang yang didepan sudah sepatutnya mendapat giliran duluan kan? Dan si petugas penjaga makanan harusnya menegur orang yang menyerobot atau tidak mengantri, baik itu orang tua, anak muda atau bahkan pihak keluarga (padahal pihak keluarga biasanya disediakan jatah khusus di meja terpisah).

Category: cuap-cuap  2 Comments
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
2 Responses
  1. Sintha says:

    Ini mungkin disebabkan oleh degradation of morality, ya. *I know, I know… bhs gue!*

    Perasaan pas gue masih tinggal di Indo dulu itu sebelum “menghilang” berpuluh tahun tu ga kyk gini deh. Masih cukup santun tu yg namanya antrian…

    IMHO.

  2. Herli says:

    @Sintha: dulu ya mungkin begitu. Sekarang sih.. Duh.. :(

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>